Hari ini merupakan hari pertama gadis itu memulai jenjang pendidikan di bangku kelas tiga SMA. Dimana saat ini merupakan ratusan hari sebelum memasuki universitas. Sebagian besar mungkin cukup tegang dengan ujian-ujian yang akan mereka jalani esok nanti dan ujian tersebut merupakan penentu kelulusan mereka.
“Lina!” Panggil gadis berparas manis itu seraya berlari menghampirinya.
“Akhirnya kamu datang juga. Ayo kita lihat pembagian murid dan kelasnya. Aku belum tahu dapat kelas yang mana.”
Aida mengangguk lantas Lina menggandeng tangan Aida.
“Yakin mau desak-desakan?” Aida menatap ragu pada kerumunan para siswa-siswi yang tengah melihat pembagian kelasnya.
“Aku yakin. Kamu tunggu sini saja, ya! Bawakan tas ranselku, biar aku yang lihat di papan pengumuman.” Gadis itu benar-benar yakin sekali, sedangkan Aida hanya mengiyakan seraya meraih tas ransel milik Lina.
“Ah, sepertinya aku ingin buang air kecil. Lina mungkin masih lama, aku pergi ke kamar mandi dulu kalau begitu.”
“Aduh, aku enggak bisa tahan lagi. Tas ranselnya mau di taruh dimana kalau begini?”
Ia mendapati keberadaan sosok siswa laki-laki di depan kamar mandi laki-laki, tepatnya bersebelahan dengan kamar mandi wanita.
“Apa harus lelaki itu? Aduh, bagaimana ini? Benar-benar tidak ada orang lagi di sini selain dia.”
Lelaki itu sontak menoleh ke arah Aida karena merasa diperhatikan. Ia hanya diam dengan raut wajah yang tampak dingin.
Kini, gadis itu memberanikan diri untuk menghampiri lelaki itu. “Maaf sebelumnya, aku mau minta tolong bawakan tas ransel milikku dan temanku sebentar saja, boleh tidak? Jujur, aku tidak bisa menahan lagi. Tolong, sebentar saja.” Kedua tangannya tampak gemetar.
Tanpa berkata apa pun, tangan kanan lelaki itu meraih kedua tas ransel yang dibawa oleh Aida sedangkan gadis itu segera berlari memasuki kamar mandi wanita.
“Ternyata yang dimaksud itu?”
Setelah beberapa menit kemudian, gadis itu berjalan keluar dari kamar mandi. Aida mengulum bibirnya. Rasanya malu sekali menatap lelaki di hadapannya itu.
“Maaf jika merepotkan, tapi terima kasih sudah membantuku.”
Ia segera menyerahkan kedua tas ransel itu pada Aida. “Merepotkan.”
Satu kata itu sukses membuatnya tertegun.
•••
“Akhirnya kita bisa sekelas lagi, Aida!” seru Lina diikuti anggukan dari Aida yang tak kalah bahagia.
Sontak kedua bola mata Aida membulat sempurna ketika mendapati kedatangan sosok lelaki yang memasuki kelas barunya. “Apa aku tidak salah lihat? Lelaki itu? Ah, memalukan sekali, Aida!”
Sosok Ibu Guru memasuki kelasnya. Waktu satu jam digunakan untuk memperkenalkan diri dan berbincang.
Bel istirahat berbunyi.
“Aida.”
“Iya, Lin?”
“Kamu ingin keluar kelas, tidak?”
“Sepertinya tidak. Ada apa?”
“Oh, ya sudah. Aku ingin ke kamar mandi.”
Aida mengiyakan lantas berbalik ke belakang untuk memasukkan beberapa buku ke dalam tas ranselnya. Sebentar. Lelaki di bangku belakangnya itu siapa? Oh, tidak! Apa dia salah lihat? Lelaki itu. Dia duduk di bangku belakang Aida.
“Keburukan apalagi ini?”
Perlahan Abilawa mengangkat wajahnya setelah menulis sesuatu di buku. Mata mereka bertemu. Aida segera membuang muka. Ia tak tahan lagi. Gadis itu berulang kali mengusap wajahnya.
“Ah, memalukan sekali, Aida!”
Lina datang. Ketika ia hendak duduk di kursinya, ia tak sengaja terfokus pada buku yang sedang dibaca Abilawa.
“Eh? Maaf, apa yang kau baca itu buku Sapiens?” tanya Lina.
Abilawa tak menggubris. Entah lelaki itu memang tak mendengar atau pura-pura tak mendengar.
“Hei, kamu yang sedang membaca buku, aku sedang mengajakmu berbicara.”
Ia mengangkat wajahnya. “Ya.”
“Wah, benarkah? Aida! Ini buku Sapiens yang kamu incar, kan? Dia punya buku itu.”
Aida segera menoleh ke arah Abilawa dengan raut wajah yang tampak bahagia. “Benarkah? Bolehkah aku me–”
“Aku membeli buku ini tidak untuk di pinjam.” Seolah tahu apa yang akan Aida katakan.
“Lupakan saja, toh aku tidak benar-benar ingin mengatakan itu.” Aida segera berbalik dari hadapan Abilawa.
•••
“Lina, nomor empat belas itu hasilnya 560, kan? Aku sedikit ragu.”
“Hasil ku juga sama sepertimu, Aida. Tapi, aku ragu.”
Aida mengulum bibirnya.
“Sebentar, aku coba tanya ke dia.” Sorot mata Lina tertuju pada Abilawa.
“Yakin?”
“Eksperimen dulu.”
“Hei, aku mau tanya. Nomor empat belas itu hasilnya 560, kan?”
"Iya.”
“Oh, terima kasih.”
“Em, maaf tapi aku harus memanggilmu siapa?” tanya Lina lagi.
“Abilawa.”
“Kau pikir kereta api? Itu terlalu panjang, singkatnya saja untuk nama panggilan.”
“Abil.”
“Abil? Bagaimana kalau Abi? Kurasa tidak membuang-buang waktu hanya untuk memanggilmu.”
Aida rasanya ingin sekali tertawa mendengar perbincangan keduanya. Kali ini, Abilawa menoleh dengan tatapan yang membuat mental seseorang menciut.
“Oh, oh baiklah. Terima kasih Abil.”
•••
“Aida, mau keluar kelas, tidak? Aku ingin ke koperasi.”
“Tidak, Lina. Kamu mau beli apa?”
“Bolpoin. Ingin titip sesuatu?” tanyanya.
Aida tersenyum dan menggeleng cepat.
Ia berbalik ke belakang untuk memasukkan buku, namun buku itu terlepas dari tangan Aida. Jatuh. Aida membungkukkan badannya untuk mengambil buku itu.
Sorot matanya mendapati selembar kertas di bawah meja Abilawa. Berwarna hitam. Kertas itu menarik perhatian Aida untuk meraihnya. Perlahan Aida membaca setiap kata yang tertulis di kertas berwarna hitam itu. Ia tak menyangka bahwa tulisan itu memiliki makna yang sangat indah.
Apakah ini tulisan Abilawa? Kalaupun iya, bukan Aida tidak percaya akan hal itu.
“Dia pandai sekali merangkai setiap katanya. Maknanya begitu indah.”
“Apa yang kau lakukan di bawah mejaku?” Suara itu sukses membuat Aida terlonjak hingga kepala bagian belakangnya terbentur meja Abilawa.
“Aduh!”
“Apa kamu baik-baik saja?” Ah, tidak. Seharusnya dia tidak mengatakan itu. Padahal dia sudah tahu Aida tidak baik-baik saja.
Sebentar. Apa yang baru saja Aida dengar? Apakah Abilawa yang berbicara? Dia bisa bereaksi seperti itu? Meski Abilawa tidak menyentuh raga Aida sedikit pun. “Oh? Aku baik-baik saja.”
Sudah jelas terbentur tapi masih mengatakan baik-baik saja.
Aida mengusap pelan kepala bagian belakangnya. Sakit sekali.
“Apa yang kau lakukan disitu?” Tanyanya lagi.
“Ah, ini. Maaf, aku tidak sengaja melihatnya di bawah mejamu lalu aku membacanya.” Aida menyerahkan kertas berwarna hitam itu pada Abilawa. Ia segera mengambilnya dari tangan Aida tanpa berkata sepatah kata pun.
Aida kembali duduk di kursinya lantas menoleh ke arah Abilawa. “Abil.”
Abilawa menoleh, “Ya?”
“Karya tulismu sangat indah. Apa kamu suka merangkai kata?”
“Iya.”
“Apa kamu akan mengambil jurusan sastra bahasa di universitas nanti?”
“Berhenti menanyaiku.”
Dua kata itu sukses membuat Aida terdiam.
•••
“Kak Abi.” Gadis itu memasuki kamar Abilawa dengan membawa sebuah buku ditangannya.
“Ada apa?”
Gadis itu, Hilya. Adik kandung Abilawa. “Tolong bantu aku membuat tugas Puisi.” Pintanya dengan raut wajah yang tampak memohon, meski ia tahu bahwa kakaknya itu tidak mungkin menolaknya.
“Kemari.”
“Kak Abi.”
“Ya?”
“Ayah membelikan beberapa buku latihan ujian sekolah untuk kakak.”
“Oh, baiklah.”
•••
“Hai!” Sosok gadis menghampiri bangku Lina dan Aida.
“Hai!”
“Nama kalian siapa?”
“Aku Aida.”
“Aku Lina. Namamu siapa?”
“Namaku Latifah. Em, tugas Biologi kali ini anggota kelompok kalian sudah berapa orang?”
“Baru kita berdua.”
“Oh? Boleh enggak kalau aku ikut kelompok kalian?”
“Boleh.” Lina dan Aida mengembangkan senyumnya.
“Kalau begitu aku tulis ya anggota kelompok kita setelah itu aku berikan pada ketua kelas.”
Lina dan Latifah mengiyakan.
“Lin, ketua kelas yang mana?” seperti murid baru yang belum terlalu hafal teman-temannya.
“Itu yang duduk di belakangnya Abilawa. Namanya Hisyam.”
Aida beranjak dari bangkunya menuju bangku Hisyam untuk mengumpulkan daftar anggota kelompok miliknya. “Hisyam, aku mau mengumpulkan ini.” Sambil menyerahkan selembar kertas.
“Iya.”
Aida hendak beranjak dari tempatnya berdiri.
“Hei, tunggu.”
Aida menoleh. Raut wajahnya tampak mengatakan “Ada apa?”
“Ah, tidak ada.” Tersenyum.
Apa-apaan ini? Hisyam hanya basa-basi?
Sepertinya ia mendengar sesuatu. Ya, teman-teman Hisyam sedang meledek Hisyam. Satu kalimat yang terdengar begitu jelas, “Kalau suka sama Aida bilang saja.” Tepat Aida berdiri di samping bangku Abilawa. Lelaki itu tengah menulis sesuatu di lembaran kertas berwarna hitam. Aida menoleh ke arah Abilawa. Ia rasa, lelaki itu seolah lebih suka bersosialisasi dengan dirinya sendiri.
“Selamat siang semuanya!”
“Selamat siang, Bu!”
Hisyam berjalan menghampiri Bu Risa yang tengah duduk di depan, “Maaf Bu Risa, saya ingin menyerahkan daftar nama anggota setiap kelompok yang Bu Risa minta kemarin malam.”
“Oh, iya. Terima kasih, Hisyam.”
“Seperti yang Bu Risa minta pada Hisyam semalam untuk setiap kelas membuat kelompok yang berisi tiga anggota itu, sebab Bu Risa akan memberikan tugas praktikum lagi dan karena total siswa di kelas kalian adalah tiga puluh enam jadi nanti di kelas kalian ada enam kelompok yang dimana masing-masing kelompok itu terdapat 6 anggota.” Lanjutnya.
Semua siswa hanya mengiyakan.
“Untuk kelompoknya Farhan menjadi satu kelompok dengan kelompoknya Tata.”
“Tidak pernah menyenangkan memang.” Gerutu Farhan nyaris tak terdengar.
“Untuk kelompoknya Farid menjadi satu kelompok dengan kelompoknya Hana.”
“Untuk kelompoknya Aida menjadi satu kelompok dengan kelompoknya Abilawa.”
“Untuk kelompoknya Maira menjadi satu kelompok dengan kelompoknya Taqi, untuk kelompoknya Killa menjadi satu kelompok dengan kelompoknya Lutfan, dan untuk kelompoknya Azi menjadi satu kelompok dengan kelompoknya Fathur.”
“Sekarang perwakilan kelompok maju ke depan untuk mengambil nomor.”
“Lina, kamu yang ambil, ya?”
“Aku? Sudah kamu saja.”
Aida hanya mengiyakan. Gadis itu berdiri dari kursinya. “Oh?”
Ia mendapati keberadaan Abilawa di sampingnya. Mata mereka bertemu.
“Biar aku saja.”
Segera membuang muka tanpa berkata.
“Membuat kaget saja. Apa dia tidak bisa mengedipkan matanya? Seolah melihat hantu.” Gerutu Aida.
Bel istirahat berbunyi.
Hisyam menghampiri bangku Abilawa, “Kapan kita akan mengerjakan tugas praktikum?”
Lina menoleh ke arah Hisyam yang berdiri tepat di samping bangku Abilawa.
“Bagaimana jika nanti?”
“Aku bisa.”
“Boleh.”
“Aku tidak masalah jika nanti.”
“Aida, bagaimana?”
“Boleh.” Jawabnya.
“Di mana?”
“Bagaimana jika di rumahku?” usul Hisyam lantas semua menyetujui.
•••
Keenam siswa itu tengah disibukkan oleh tugas praktikum kataknya.
“Latifah, bisa tolong bantu aku membius katak ini?”
“Sebentar, Aida, aku sedang mengurus laporan.”
“Oh, begitu ya. Ya sudah tidak apa-apa, lanjutkan saja.” Senyumnya.
Lelaki itu menghampiri Aida yang sedang minta tolong pada teman yang lain. “Aku bantu.”
Gadis itu dibuat gugup oleh lelaki yang kini di hadapannya seraya memosisikan katak yang akan di bius. “Oh, baiklah. Ini.” Aida menyerahkan suntik itu. Aida pikir Abilawa yang akan menyuntikkannya.
“Kamu saja.”
“Bagian sini, bukan?”
Abilawa mengangguk tanpa menatap gadis di hadapannya. Perlahan Aida menyuntikkan cairan itu pada katak.
“Sudah?”
“Sudah.”
“Benaran sudah?” tanyanya lagi.
“Apa menurutmu aku bercanda?”
“Tidak juga.”
Memangnya sejak kapan Abilawa bisa bercanda?!
“Maaf, aku baru pertama kali ini membius katak.”
“Seharusnya kamu belajar mempraktikkannya sebelum ini.”
Abilawa lantas beranjak meninggalkan Aida.
“Kenapa Abilawa menyebalkan sekali?!”ㅅ_ㅅ

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki Baik
RomanceLelaki itu dipaksa untuk memenuhi impian saudara kembarnya yang sudah meninggal, bukankah masing-masing dari kita memiliki impian tersendiri? Lalu bagaimana dengan wanita yang menyukainya namun berusaha menutupi perasaan aneh itu, sedangkan lelaki i...