Ujian demi ujian terlewati, tes wawancara dan tes tertulis seleksi pun telah dijalani. Kini, hanya menunggu keputusan dari pihak universitas dalam hitungan detik. Mereka begitu fokus memantau pengumuman terkait diterima atau tidaknya di universitas tersebut.
Pengumuman telah di unggah oleh masing-masing universitas. Sebagian ada yang menangis karena bahagia telah diterima di universitas pilihannya, sedangkan sebagian pula ada yang menangis karena sedih tidak diterima di universitas pilihannya.
Kedua gadis itu berpelukan erat dengan raut wajah yang begitu bahagia. Tak henti-hentinya mengucap syukur kepada-Nya atas nikmat yang diberi.
“Pokoknya kita harus segera daftar ulang, Lin!”
“Iya, harus! Kalau begitu aku pulang dulu ya!”
Aida mengangguk.
“Abilawa.” Aida memanggilnya.
“Ada apa?”
“Tidak. Aku sekedar memanggilmu.”
Abilawa tertawa kecil, “Ada masalah apa kamu?”
Aida tak menyangka Abilawa bisa berekspresi seperti itu padanya. “Aku baru pertama kali ini melihatmu tersenyum.”
“Benarkah?”
“Kau selalu dingin padaku. Ah, tidak. Bukan hanya padaku, tapi juga semua orang.”
“Oh?”
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Aida.
“Aku sudah menduga itu.”
“Apa maksudmu?”
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Kamu akan melanjutkan studi dimana?”
“Salah satu universitas di Turki dengan Program Kedokteran.”
“Benarkah? Aku tahu kau pasti bisa!”
“Aku tahu kau pasti juga bisa.”
Kalimat itu terdengar jelas ditelinganya. Ia senang mendengar kalimat itu dari mulut Abilawa.
Aku senang bisa mengobrol denganmu, Aida.
Aida tidak menduga bahwa ia akan berbincang informal dengan Abilawa seperti ini, terlebih lagi sebelum masuk universitas. Hal itu benar-benar tidak pernah terpikirkan.
•••
“Ajak aku ke Turki, kak.” Rengek gadis itu seraya melihat sosok Abilawa yang tengah sibuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa.
“Kau bisa mengambil beasiswa di Turki jika mau.”
“Harus menunggu tiga tahun lagi, itu lama sekali.”
“Kau harus bersabar. Mintalah pada Ayah.”
“Apa Ayah membolehkan?”
Abilawa tertawa kecil. “Antahlah.”
“Boleh. Ayah izinkan kamu untuk melanjutkan studi di Turki.” Suara itu sontak membuat keduanya menoleh.
“Ayah?”
“Benar, Ayah?”
Ayah mengangguk yakin.
“Terima kasih, Ayah!” kebahagiaan itu tampak jelas pada raut wajahnya. Hilya segera memeluk sang Ayah.
Abilawa tersenyum.
Aku sudah menduga itu.
“Abilawa sudah selesai menyiapkan semuanya?”
“Sudah, Ayah.”
“Baiklah, ayo berangkat.”
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Hilya tak henti-hentinya mengatakan, “Sampaikan salam rindu dariku untuk Ibu ya, kak!”
•••
“Aku dan Hyung yang lain pasti datang di hari wisudamu. Apa kau ingin aku membelikan sesuatu?"
Zico berpikir sejenak, “Aku tidak ingin Hyung membelikan apa pun untukku. Aku hanya ingin warna rambut Hyung sama denganku di hari itu.”
Zion mengusap kepala member termuda itu, “Baiklah. Aku akan melakukannya untukmu.”
•••
“Aku tidak tahu apakah aku dapat bertemu lagi dengan Abilawa.
Apa kau tahu betapa sulitnya menutupi rasa suka terhadap seseorang?
Setiap harinya bertemu, namun selalu menahan rasa agar tidak membuat-Nya cemburu.
Aku menyukainya, tapi aku tidak ingin dia mengetahuinya.
Aku dipertemukan dengan lelaki baik seperti dirinya, tapi mungkin di waktu yang tidak tepat.”
•••
Korea Selatan.
“Baiklah, terima kasih Bibi.” Seraya menerima kunci pintu untuk kamarnya.
“Iya, semoga harimu menyenangkan.”
Lina dan Aida segera berjalan menuju lantai dua, tepatnya kamar mereka yang berada di lantai tersebut.
“Assalamualaikum.” Perlahan Lina membuka pintu kamar tersebut sedangkan Aida berada di belakangnya.
“Wah, cantik sekali kamar kita.”
“Aku akan betah di sini.”
“Sepertinya kita mendapatkan asrama yang bagus, Lin.”
“Aku juga merasa begitu.”
“Baiklah, aku akan menempati ranjang kasur ini.”
“Baiklah, aku yang itu.”
“Apa kau tidak akan membereskan barang-barangmu terlebih dahulu, Da?”
“Aku ingin tidur sebentar, Lin. Akan kubereskan nanti setelah bangun tidur.”
Lina mendengus pelan, “Baiklah.”
Satu jam berlalu, Lina telah membereskan semua barang-barangnya. Jam dinding menunjukkan waktu sholat asar lantas Lina segera membangunkan sahabatnya itu.
“Aida, sudah waktunya sholat asar. Ayo sholat dulu.”
Aida mengucek matanya yang masih dalam keadaan tidak sadar. “Baiklah.”
Di kamar itu, hanya ada Lina dan Aida. Kamar tersebut dapat dihuni oleh empat orang, sedangkan kamar Aida baru kedatangan Lina dan dirinya, sepertinya yang lain baru datang nanti.
“Aida, ayo kita pergi membeli makanan halal di luar.”
“Bukankah di asrama juga menyediakan makanan halal?”
Lina tersenyum sabar, “Apa kau lupa bahwa setiap hari Sabtu dan Minggu tidak disediakan makanan di asrama? Hari ini adalah hari Sabtu, jadi tidak disediakan makanan di asrama.”
“Oh, benar. Aku tidak lupa, hanya saja tidak ingat.”
“Itu tidak jauh berbeda bagiku.”
“Baiklah, aku menaruh mukena ini di almari terlebih dahulu.”
“Sepulang nanti kau harus segera membereskan barang-barangmu, Da.”
Aida mengangguk seraya mengenakan jilbabnya.
“Kau harus mengenakan jaket, tidak baik jika hanya mengenakan sweater ini.” Ujar Lina sedangkan Aida hanya menuruti perintah sahabatnya itu seperti anak kecil.
•••
Turki.
“Aku sangat merindukan Ibu.”
“Ibu juga sangat merindukanmu, kak.” Perlahan Ibu melepas pelukannya, “Ayo masuk, temui nenekmu.”
Abilawa menuruti.
“Assalamualaikum.” Suara lelaki itu mengalihkan perhatian Abilawa dari sang nenek. Keduanya bertatapan. Abilawa tidak tahu siapa lelaki yang sepertinya seusia dengannya itu. Setiba di kamar nenek, Ibu lantas mengajak lelaki itu untuk menghampiri Abilawa yang tengah duduk di samping nenek.
“Namanya Aslan. Dia adalah anak dari wanita yang membantu Ibu dirumah ini untuk mengurus nenekmu.”
Abilawa mengangguk mengerti.
“Namanya Abilawa, dia adalah anak Ibu.”
Aslan tersenyum mendengar itu, “Selamat datang, Abilawa.”
Abilawa tersenyum.
“Abi, bereskan dulu barang-barangmu di kamar, ya.” Perintah Ibu lantas Abilawa menuruti.
“Akan kuantar.” Ujar Aslan pada Abilawa.
“Di kamar ini ada dua ranjang kasur. Ibumu menyuruhku untuk tinggal satu kamar denganmu.”
“Oh, baiklah. Terima kasih, Aslan.”
Keduanya berbincang dengan bahasa Inggris.
“Kita akan kuliah di universitas yang sama, Abi.”
“Oh, benarkah? Kita seusia?”
Aslan mengangguk.
“Kita akan pergi bersama, itu membuatku tidak canggung.”
•••
“Assalamualaikum.”
“Ah?”
“Ah?”
Ketiga gadis itu bertatapan tidak mengerti.
“Apakah kita satu kamar?” tanya gadis bermata sipit itu. Sepertinya dia warga negara Korea Selatan.
Lina tersenyum. “Sepertinya benar.”
“Wah, ini menyenangkan sekali! Salam kenal!” serunya.
“Maaf sebelumnya, apa kamu bisa berbahasa Inggris?” tanya Aida.
“Bisa. Apa kamu ingin kita berbincang dengan bahasa Inggris?”
Aida dan Lina mengangguk tersenyum, “Kita belum terlalu fasih berbahasa Korea saat ini.”
“Oh, baiklah.”
“Namaku Youra.” Ia mengulurkan tangannya.
“Lina.” Lina membalas uluran tangan Youra.
“Aku Aida.”
“Semoga kita menjadi teman yang baik!”
Sore menjelang malam kala itu mereka menghias, membereskan, dan merapikan segala sesuatu yang ada di kamarnya. Sesekali mereka tertawa dengan humor yang muncul di antara mereka bertiga.
“Apa kalian akan melakukan sesuatu?” Tanya Youra yang melihat Aida dan Lina tengah mengenakan mukena untuk sholat bersama di kamar.
“Iya, kita akan menunaikan ibadah sholat.”
“Oh, baiklah.”
“Aida, Lina. Jika kalian akan menunaikan ibadah maka lakukan saja, jangan pikirkan aku. Aku malah senang melihat kalian beribadah seperti barusan.”
Keduanya tersenyum mengiyakan.
Ketiga gadis itu tengah disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Lina yang tengah fokus pada laptopnya, Aida yang sibuk berkutat dengan bukunya, dan Youra yang terlihat asyik dengan ponselnya.
“Untuk dapat diterima di universitas ini tidak mudah, kan? Terlebih lagi menggunakan jalur beasiswa. Sepertinya kalian berdua sangat pintar.”
Keduanya hanya tersenyum.
“Tapi jika ditanya persoalan tidak mudah diterima di universitas ini, menurutku itu benar adanya. Cukup sulit.” Ujar Aida.
“Aku mengakui itu.”
“Youra, bagaimana kau bisa begitu fasih berbahasa Inggris? Aku dengar, warga Korea Selatan pada umumnya tidak terlalu fasih dalam berbahasa Inggris, apa itu benar?” tanya Lina.
“Iya, itu benar. Sering kali terjadi ketika mahasiswa asing kesulitan berkomunikasi dengan mahasiswa Korea. Persoalan aku sendiri, Kebetulan sejak aku berumur 8 tahun, Ayahku memberikan kelas privat bahasa Inggris untukku, alhasil kini aku bisa berbicara dengan fasih berbahasa Inggris.”
Keduanya mengangguk mengerti.
“Program studi apa yang kamu ambil, Aida?”
“Manajemen bisnis dan teknologi. Bagaimana denganmu?”
“Astaga, kita satu kampus. Tapi aku merasa itu tidak sesuai untuk dirimu.”
Aida tertawa kecil mendengar itu, “Benarkah? Lalu, menurutmu apa yang sesuai untukku?”
“Seperti fisika, kimia, dan matematika.”
“Aku sudah bosan dengan hal itu. Selama aku berada di sekolah menengah, aku sangat menyukai beberapa program itu, tapi seiring berjalannya waktu berubah. Aku ingin mencoba hal yang baru.”
“Oh, baiklah. Aku bisa memahami itu. Bagaimana denganmu, Lina?”
“Aku mengambil fisika.”
“Wah! Bukankah itu sangat menantang?”
Lina terkekeh, “Iya, tapi aku sangat menyukai program studi itu.”
•••
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Ke dua belas lelaki itu tengah sibuk dengan hal-hal yang mereka lakukan di dalam mobil.
Mereka baru saja berlatih untuk peluncuran album studio pertama karya boybandnya yang merupakan rilisan kedua setelah album mini debut mereka. Album ini akan dirilis kurang lebih satu bulan mendatang.
“Yejun Hyung, aku juga ingin makan camilanmu.” Memasang wajah imut.
Dengan wajah datar Yejun, ia mengangguk lantas menyodorkan camilan yang ia pegang.
“Ambil saja semuanya, aku sudah makan cukup banyak.”
Zico tersenyum senang karena selalu disayangi oleh Hyung-nya itu, meskipun semua Hyung juga menyayanginya.
Zico hendak memberikan camilan itu kepada Zion yang tengah tertidur sambil mendengarkan musik.
“Zion Hyung, bangunlah sebentar. Cobalah ini, kau pasti menyukainya.”
Lelaki itu terbangun dari tidurnya dan melahap camilan yang disuapkan oleh Zico.
“Apa Hyung suka?”
Zion mengangguk setelah menelan camilan itu, “Kau dapat dari mana camilan ini?”
“Tadinya aku minta pada Yejun Hyung lalu diberi semuanya. Ambillah lagi jika Hyung mau.”
Zion menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. “Tidak perlu. Aku ingin melanjutkan tidurku sebentar.”
Zico mengiyakan. “Baiklah.”
“Daeshim Hyung, apa itu?” tanya Sohe yang melihat Daeshim mengeluarkan sesuatu dari jaketnya.
“Antahlah.”
Mendengar itu, So He pun menirukan satu kata yang di ucapkan Daeshim. “Antahlah.” Di antara semua member, hanya So He yang selalu menirukan ucapan para member yang menurutnya lucu untuk dijadikan bahan tawa.
“Pria dingin ini, sudah kuduga dia akan menjawab dengan satu kata.” Cibir Ye Jun yang selalu mengganggu Daeshim si pria dingin yang tidak mudah tertawa.
Daeshim mendengus pelan. “Karena kalian selalu ingin tahu, maka aku akan memberitahu. Ini diberi oleh salah satu penggemar tadi ketika aku hendak masuk ke dalam mobil.”
So He berusaha membujuk. “Bukalahh Hyung, aku ingin melihatnya.”
Perlahan Daeshim membukanya.
“Wah! Jam tangan.” Pekik Ye Jun seolah-olah baru kali ini ada penggemar yang memberi jam tangan.
“Aku ingin melihatnya.”
“Hei, jam tangan ini sedang banyak yang ingin membelinya.” Ujar Ahn.
“Wah, Daeshim Hyung beruntung sekali!”
“Ah, aku tidak heran jika Daeshim Hyung mendapatkan barang-barang seperti ini. Dia sangat tampan, bahkan terkadang ketika aku berjalan disampingnya, aku merasa diperhatikan oleh banyak penggemar tapi ternyata bukan aku yang diperhatikan melainkan Daeshim Hyung.” Curahan Yejun membuat seisi mobil tertawa mendengarnya.
“Tapi, aku sudah membeli jam tangan ini dua hari yang lalu. Apa kau mau? Jika iya, aku bisa memberikannya.” Tanya Daeshim pada Yejun.
“Ah, benarkah? Baiklah, dengan senang hati aku menerimanya, Hyung.” Dengan raut wajah bahagia ia menerima jam tangan itu dari Daeshim.
So He yang melihat itu seolah iri. “Hyung, lalu untukku?”
“Kau bisa beli sendiri.” Tanpa ekspresi dan perasaan ucapan itu dibalas dengusan dari So He.
Zico angkat bicara setelah menyaksikan obrolan para Hyung-nya itu. “Yejun Hyung, sebagai Maknae seharusnya aku yang memperoleh jam itu dari Daeshim Hyung.”
“Kali ini aku tidak bisa memberikannya padamu, Zico. Aku selalu memberikan apa saja yang kau mau karena kau Maknae.”
“Biarkan mereka memperebutkan jam tangan itu, kita mendengarkan musik bersama dengan satu headset saja.” Ujar Hyeon pada Ki Tae yang terus tertawa menyaksikan para membernya memperebutkan jam tangan.ㅅ_ㅅ

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki Baik
RomanceLelaki itu dipaksa untuk memenuhi impian saudara kembarnya yang sudah meninggal, bukankah masing-masing dari kita memiliki impian tersendiri? Lalu bagaimana dengan wanita yang menyukainya namun berusaha menutupi perasaan aneh itu, sedangkan lelaki i...