“Ayah, apakah ini tempat belajar?”
“Iya. Sekolah ini di dihuni oleh para mahasiswa yang rajin dan pintar.”
“Apakah itu seperti sekolah yang kami duduki?”
“Tidak. Sekolah ini disebut universitas. Ketika kamu dan Aam sudah besar nanti, kalian harus belajar lebih keras untuk masuk di universitas itu.”
“Baiklah, Ayah! Aku akan belajar lebih keras dari sekarang. Iya kan, Aam?”
Aam hanya diam menatap foto universitas-universitas di album itu.
“Harus! Dua putra Ayah ini harus belajar lebih keras agar dapat belajar di universitas itu.”
“Apa nama universitas ini, Ayah?”
“Ludwig Maximilian University of Munich. Apa kau menyukainya?”
“Ya, sangat menyukainya. Ketika sudah besar nanti aku ingin belajar disitu, Ayah.”
“Bagaimana dengan universitas ini?” Ayah menunjukkan salah satu foto universitas pada Aan.
“Aku juga menyukainya, Ayah. Apakah sekolah ini juga diduduki orang-orang yang rajin dan pintar?”
“Benar. Universitas ini tidak berada di Jerman tapi di Amerika.”
“Apa nama universitas ini, Ayah?”
“Harvard.”
“Aku akan mengusahakan keduanya, Ayah.”
“Benar, Ayah percaya padamu.”
“Keduanya aku suka, tapi aku lebih menyukai universitas yang berada di Jerman ini, Ayah.”
•••
“Baiklah, coba lagi.” Youra memberi aba-aba pada Aida.
“Amu–geot–do mollayo.”
“Coba sekali lagi.”
“Amugeot–do mollayo.”
“Oke, benar. Selanjutnya?”
“Cheon–cheoni mani deuseyo.”
“Benar. Apa artinya?”
“Makanlah pelan-pelan.”
“Baik, Aida! Now we start talking in Korean, ok! "
Aida mengangguk yakin.
“Wait! Wait! Formal atau informal?”
“Formal, sayang. Tidak mungkin aku mengajarimu berbicara informal terlebih dahulu. Jika aku mengajarimu berbicara informal terlebih dahulu, sama saja aku mengajarimu untuk berani berbicara informal dengan orang yang lebih tua.”
Aida terkekeh mendengarnya, “Baiklah, aku mengerti.”
•••
“Hyung, lihatlah, aku menemukan foto gadis cantik. Dia terlihat lebih cantik darimu.”
Zion tertawa setelah mendengar ucapan Sohe dan hanya melihat sekilas foto gadis yang Sohe tunjukkan. “Terserah kau saja.”
“Apa Hyung tidak sadar? Hyung sangat cantik dan itu membuatku terheran-heran.” Sohe mengatakan itu karena memang rupawan Zion lebih terlihat cantik daripada tampan.
“Kau selalu mengatakan itu. Bahkan saat aku tidur dan mendengar seseorang mengatakan itu, aku bisa tahu bahwa itu kamu.”
“Tapi, Hyung, bukankah kita terlihat mirip?”
Zion memicingkan matanya sedangkan Yong Jin tertawa mendengarnya.
“Hei, apa yang membuatmu tertawa?” kesal Sohe ketika melihat Yong Jin tertawa setelah ia mengatakan itu.
“Sohe Hyung terlalu percaya diri.” Dia masih terus tertawa bahkan Zion pun ikut tertawa.
“Benar-benar Dongsaeng durhaka kau ini.”
“Siapa di sini yang ingin minum kopi?” tanya Yohan seraya membawa beberapa gelas kopi.
Para member cepat-cepat mengambil kopi yang Yohan tawarkan lantas memuji kebaikan Yohan dengan mengucapkan terima kasih.
“Yo Han, kemarilah sebentar.” Pinta So He.
Yohan pun berjalan menghampiri So He yang tengah duduk bersebelahan dengan Zion. Yong Jin pun curiga dengan So He yang menyuruh Yohan untuk menghampirinya.
“Ada apa, Hyung?”
“Apakah menurutmu aku dan Zion Hyung mirip?”
Yo Han terdiam.
"Kurasa tidak, tapi Sohe Hyung lebih terlihat manis.”
Lagi-lagi Yong Jin tertawa, sedangkan So He menjulurkan lidahnya pada Yong Jin. “Tidak apa jika aku tidak mirip dengan Zion Hyung, tapi aku manis.”
Yo Han yang tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Hyung-Hyung nya itu ikut tertawa ketika melihat Yong Jin yang terus meledek So He dan Zion yang tak henti-hentinya tertawa.
•••
Aida segera menyalakan laptop nya untuk mengerjakan tugas sedangkan Youra tengah fokus pada ponselnya.
“Aida, apa kau mengetahui idol boyband Korea ini?” Youra menyodorkan ponselnya untuk memperlihatkan sebuah foto yang terdapat pada layar ponselnya.
“Sepertinya tidak.”
“Benarkah? Astaga, dia idol terkenal dari boyband LXE. Boybandnya itu sudah tur konser di banyak negara termasuk Indonesia tahun lalu.”
Aida memicingkan matanya.
“Bagaimana menurutmu, Aida?”
“Apa?”
“Bukankah dia tampan?”
Tanpa ekspresi apapun Aida menjawab. “Semua pria adalah tampan."
Mendengar itu, Youra dengan gemasnya mencubit pipi Aida.
Gadis itu kembali menghampiri Aida yang tengah mengerjakan tugasnya. Dia bersikeras untuk menjelaskan siapa idol boyband itu pada Aida.
“Namanya Zion. Usianya lebih tua dariku, hanya terpaut dua tahun. Dia dari boyband LXE yang kubilang tadi. Boybandnya itu sudah terkenal sejak debut. Ah, aku ingin menikahinya.”
Tepat pada kalimat terakhir itu membuat Aida tersentak. “Apa kau serius?”
“Aku hanya bercanda."
Aida memutar matanya.
“Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu.” Ujar gadis itu lalu mencari sesuatu di dalam almarinya.
Aida hanya mengiyakan.
“Ini dia! Lihatlah, Aida. Ini adalah tanda tangan semua member boyband LXE, termasuk Zion Oppa. Tanda tangan ini aku dapat ketika aku mendatangi acara fansign tahun lalu.”
“Apa kau melakukan sesuatu yang wajib dilakukan hanya untuk dapat mendatangi acara fansign itu?”
“Tentu saja. Hukumnya wajib membeli semua album boyband tersebut agar mendapatkan tiket masuk fansign.”
Aida tersentak. “Aku tidak bisa membayangkan betapa banyaknya uang yang harus kamu keluarkan.”
•••
Kedua belas member itu tengah sibuk berlatih menari dan menyanyi sedari tadi. Waktu setengah hari mereka digunakan untuk berlatih. Kini, sebagian ada yang sedang istirahat dan sebagian lagi masih latihan.
Hye berjalan menghampiri para member. “Kubawakan minum untuk kalian.”
“Wah, terima kasih.” Seraya menerima botol air mineral yang diberikan Hye.
“Terima kasih, Hyung.”
“Aku lapar sekali.” Keluh Yo Han.
“Apa yang bisa kita makan?” tanya Ye Jun seraya menoleh kepada para member.
Ha Joon menunjuk roti-roti yang hanya tinggal beberapa. “Roti itu.”
“Apa tidak ada makanan lain?” tanya Ahn.
“Aku ingin makan nasi, Hyung.” Lagi-lagi Yo Han memelas.
“Aku juga.” Tambah So He.
“Bagaimana jika Kimchi?”
"Tapi, Kimchi harganya cukup mahal."
"Itu benar."
"Bagaimana jika satu Kimchi untuk dua orang?"
"Aku setuju. Itu cukup menghemat uang."
Para member sontak menyetujui.
“Tapi, siapa yang mau jadi relawan untuk membeli makanan?” tanya Ha Joon.
“Aku.” So He mengajukan dirinya dengan penuh semangat.
“Aku juga.”
“Hye Hyung tidak perlu, kau sudah terlalu sering menjadi relawan, biarkan yang lain saja.” Ujar Hyeon.
Hye yang mendengar itu seolah terharu. “Baiklah.”
“Bagaimana jika para Maknae yang menjadi relawan?” Ye Jun mengajukan pendapatnya dan melirik Zico dan Yo Han.
Di dalam boyband LXE terdapat dua Maknae yaitu Zico dan Yo Han.
Para Hyung seketika bersemangat.
“Iya, benar juga. Zico dan Yo Han pergilah bersama So He untuk membeli makanan.”
Zico dan Yo Han hanya dapat menerima permintaan itu. Lagi pula keduanya memang jarang sekali disuruh-suruh.
“Kalian sebagai Maknae yang tampan harus membuat Hyung-mu bahagia memiliki Maknae seperti kalian.”
“Sesekali biarkan Hyung-mu istirahat dan giliran kalian yang melakukan.”
“Ayolah, ikut denganku.” So He beranjak dari tempatnya.
Zico dan Yo Han lantas berdiri menuruti permintaan langka dari para Hyung-nya itu.
“Jadi, enam kimchi, kan?” So He memastikan.
“Iya, enam.”
“So He, belilah di tempat yang biasanya kita makan bersama-sama.”
“Baiklah.”
“Zico, Yo Han, kalian tidak membawa dompet?” tanya Zion.
“Tidak perlu, Hyung. So He Hyung yang akan membayarnya.”
“Oh, baiklah.”
“Aku akan selalu menyayangi kalian berdua.” ujar Hye pada Zico dan Yo Han.
“So He Hyung, jagalah Zico dan Yo Han dengan baik.”
“Hati-hati di jalan!”
“Ketika aku melihat Yo Han, aku selalu kagum dengan ahli bela dirinya dan tampangnya yang terlihat tegas, tapi di balik itu sebenarnya dia berhati Hello Kitty.” Ujar Ye Jun.
Para member mengakui kebenaran yang Ye Jun katakan.
“Dia selalu dan akan tetap selalu manja di hadapan kita.”
“Apa di sini ada yang pernah melihat Yo Han menangis?” tanya Ahn.
Serentak para member mengatakan. “Aku.”
“Tidak hanya pernah, tapi lebih dari pernah.”
“Kurasa memang tidak ada yang tidak pernah melihat Yo Han menangis di antara kita.”
“Itu benar.”
“Tapi, dia selalu terlihat tegas dan menakutkan ketika sedang tidak bersama kita.”
“Kita telah membesarkannya dengan baik sejak masa Trainee.”
“Tapi lain halnya dengan Zico. Dia selalu menangis ketika kita menegurnya.”
“Tapi, kurasa bukan karena kita menegurnya, tapi juga karena ia merasa diperlakukan tidak adil oleh kita.”
“Tidak adil? Sejak kapan?”
“Dia pernah bercerita padaku ketika kita melakukan sesuatu yang juga dilakukan Zico, tapi saat itu kita tidak ditegur siapa pun dan ketika Zico yang melakukannya lantas kita menegurnya. Jadi, itulah yang ia maksud tidak adil.” Jelas Zion.
Sontak para member terkekeh mendengarnya.
“Dia masih pantas disebut anak kecil.”
“Dia pernah berbicara informal padaku, lalu aku memarahinya tapi dia tidak menangis dan malah tertawa. Jadi, kurasa benar Zico menangis karena ia merasa diperlakukan tidak adil.” Ahn membenarkan itu.
“Zico sering sekali modus seolah ingin membantuku tapi sebenarnya dia menginginkan sesuatu dariku.”
“Dia juga sering melakukan itu padaku.”
“Itu benar. Dia sangat malu untuk meminta tapi tingkahnya membuat kita tahu kalau dia menginginkan sesuatu dari kita.”
“Dia sama saja dengan Yo Han, selalu saja bersikap manja di hadapan kita.”
“Tapi, Zico pemalu sekali jika berhadapan dengan orang lain bahkan orang yang lebih muda darinya.”
“Kurasa itu benar.”
“Hei, dompet milik siapa ini?” sambil memperlihatkan dompet yang Hye pegang.
“Bukankah itu milik So He?” tebak Ki Tae.
“Ah, benar. Itu milik So He.”
“Jika itu benar milik So He lalu mereka membayar kimchi dengan apa?”
“Apa Zico dan Yo Han tidak membawa dompetnya?” tanya Ha Joon.
Ye Jin menatap datar Ha Joon. “Apa kau yakin Zico membawa dompetnya? Anak itu tidak pernah membawa dompetnya ketika pergi bersama Hyung-nya.”
“Aku bahkan tidak pernah melihat keduanya mengeluarkan dompetnya.”
“Astaga, itu benar.”
“Mereka tidak membawa dompetnya. Mereka pikir So He yang akan membayarnya.” Ujar Zion.
“Astaga.”
“Mereka membeli kimchi di tempat biasa kita makan bersama-sama, bukan?” tanya Ha Joon.
“Iya, di tempat biasanya.”
“Kalau begitu biar aku yang menyusul mereka.” Ha Joon segera pergi meninggalkan ruang latihan.
“Hati-hati di jalan, Hyung.”
“Astaga, So He ceroboh sekali.”
“Mungkin dia sudah terlalu lapar, maka dari itu dia lupa membawa dompetnya.”
Pegawai kasir itu menyerahkan nota pembelian makanan yang dipesan oleh So He, Yo Han, dan Zico.
So He menerima notanya dan hendak mengambil dompet di kantong celananya.
“Eh?”
“Ada apa, Hyung?”
“Sepertinya dompetku tertinggal di ruang latihan.”
“Astaga!”
“Apa kalian membawa dompet? Setidaknya uang?”
“Apa Hyung yakin aku membawa uang?” Tanya So He.
“Astaga, itu tidak mungkin.”
“Maaf, Hyung, tapi aku meninggalkan dompetku di ruang latihan.” Ujar Yo Han.
So He bingung harus bagaimana. Adik-adiknya itu benar-benar harus ia didik dengan baik.
Pegawai kasir itu bertanya kenapa So He tidak segera membayar.
“Kami lupa membawa dompet. Kami benar-benar tidak membawa uang. Maafkan kami. Tunggu sebentar.”
Seketika So He berinisiatif untuk membuka baju Zico. “Buka bajumu, Zico.”
Zico tersentak mendengar itu. “Apa?!”
Tanpa menghiraukan pertanyaan Zico, So He dengan cepat membuka baju Zico untuk memamerkan tubuhnya yang membuat banyak wanita tertarik.
“Karena kami tidak punya uang, maka Zico akan membayarnya dengan pamer ABS saja.”
Pegawai kasir itu terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia tertawa malu di hadapan ketiga member itu.
Yo Han melongo melihat tingkah laku kedua membernya itu. “Astaga!”
Ha Joon mengerutkan keningnya. “Zico?” ia segera berlari menghampiri ketiga membernya itu.
“Apa yang kalian lakukan? Zico, turunkan bajumu!”
So He menggigit bibirnya sedangkan Zico langsung menurunkan bajunya.
“Apakah mereka belum membayar pesanan makanannya?” tanya Ha Joon pada sang pegawai kasir yang masih tertawa kecil.
“Belum.”
“Ini, aku yang akan membayarnya.” Ha Joon menyerahkan kartu kredit miliknya.
“Ayo pulang. Member yang lain sudah menunggu.”
Sesampainya di tempat latihan.
“Akhirnya kalian datang juga.”
“Ah, terima kasih.”
“Wah, kimchi-ku!”
So He, Zico, dan Yo Han menceritakan kejadian di ruang makan tadi hingga membuat para member tertawa terpingkal-pingkal bahkan sampai tersedak.
“Pegawai kasir itu beruntung sekali dapat melihat ABS milik Zico.”
“Ah, aku iri sekali, Dongsaeng.”
“Aku sangat malu dilihat wanita dengan ekspresi seperti itu, Hyung.” Ia bahkan tidak bisa menghilangkan tawa kecilnya.
“Aku terkagum-kagum dengan insiatif So He, tingkatkan.”
“Hahaha, kalian bertiga lucu sekali!” tawa pecah itu terdengar dari Ki Tae yang sedari tadi hanya diam tak tertawa bersama dengan member yang lain.
“Ki Tae, kami sudah tertawa sedari tadi tapi kamu baru tertawa sekarang.”
“Ki Tae Hyung sedari tadi mencerna dulu apa yang sebenarnya lucu, maka dari itu dia baru tertawa sekarang.”
“Ki Tae Hyung memang berbeda.”ㅅ_ㅅ

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki Baik
RomanceLelaki itu dipaksa untuk memenuhi impian saudara kembarnya yang sudah meninggal, bukankah masing-masing dari kita memiliki impian tersendiri? Lalu bagaimana dengan wanita yang menyukainya namun berusaha menutupi perasaan aneh itu, sedangkan lelaki i...