°2

5 1 0
                                    

Hari ini merupakan hari diadakannya pemilihan ketua OSIS di sekolah. Satu hari penuh tanpa adanya KBM hingga waktu yang di tentukan untuk pulang sekolah. Ah, begitu menyenangkan.
“Apa ini?”
Pertanyaan Aida mengalihkan perhatian Lina. “Ada apa?”
Aida memperlihatkan sebuah foto yang tertera di layar ponselnya kepada Lina.
“Bukankah ini Syifa?”
Lina berusaha mengingat sesuatu, “Kurasa benar. Gadis peringkat paralel satu dari IPS.”
“Aku rasa dia sedang tidak baik-baik saja, Lina.”
“Aku juga.”
“Ini, di samping perpustakaan, bukan?”
“Sepertinya iya.”
Kedua gadis itu segera berlari menuju ruangan samping perpustakaan sekolah.
“Ck! Gadis ini benar-benar membuatku gila.” Dengan kasar gadis itu menyungkurkan Syifa.
“Apa yang kalian lakukan?”
Keempat gadis itu tampak cemas ketika mendapati kedatangan dua gadis senior. Lina segera menghampiri sosok Syifa yang tersungkur di lantai. Syifa hanya menunduk. Rambutnya tampak acak-acakan. Entah apa yang telah dilakukan keempat gadis itu. Sementara Aida menahan keempat gadis itu yang berusaha untuk melarikan diri.
“Biarkan kami pergi.” Ujar salah satu gadis itu.
“Aku akan membiarkanmu pergi, tapi sebelum itu aku ingin kalian mengatakan alasan dibalik kejadian ini.”
“Senior, jangan ikut campur.”
“Aku tidak bermaksud untuk ikut campur, tapi apa yang telah kalian lakukan membuatku ingin ikut campur. Cukup katakan yang sebenarnya maka para guru pun tidak akan ikut campur.”
“Apa maksudmu?”
“Aku bisa saja melaporkan hal ini kepada para Guru.”
“Senior, jika kau ingin mengatakan hal ini kepada para Guru maka katakan saja.”
“Kami tidak peduli.”
“Aku harap kamu tidak akan menyesali apa yang kamu katakan.”
Keempat gadis itu. Ica, Dina, Tiara, dan Dela. Siswi kelas sebelas dari IPS. Geng mereka memang populer di kalangan sekolah ini.
“Ica.” Seru Dela seraya menarik tangan kanan Ica agar menghentikan langkahnya.
“Diamlah!”
“Kau tahu kami ketakutan.” Tiara tampak meluapkan emosinya.
“Ica, bukankah kau sebenarnya takut? Lalu kenapa harus mengatakan itu pada senior? Jika senior benar-benar melaporkan kepada para Guru, bagaimana?”
“Apa kalian mengira bahwa aku takut?!”
“Ica, aku tahu kamu sebenarnya takut.”
“Ada banyak psikopat tampan belakangan ini. Apakah kamu tertular oleh mereka?”
“Dina, apa yang kamu bicarakan?”
“Seriuslah, Dina!”
Ica mengepalkan tangannya, “Senior itu benar-benar menyebalkan.”
Ruang UKS.
“Syifa, apa kamu sudah merasa baikkan?”
Syifa tersenyum tipis, “Sudah, kak Aida.”
“Kamu bahkan masih bisa tersenyum setelah diperlakukan seperti itu tadi.” Lina menatap heran sosok adik kelasnya itu. Aida membenarkan posisinya di samping ranjang Syifa, “Bisakah kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”
Syifa diam. Perlahan ia menatap Aida. Gadis itu tampak ingin menangis, namun sulit rasanya.
“Kalau kamu tidak bisa melakukannya saat ini, tidak apa. Kamu tidak harus memaksakan diri.”
“Syifa, terkadang kamu harus berani membela diri sendiri. Jika keadaan memaksamu untuk berani membela apa yang memang benar, maka lakukan. Selagi benar, maka usahakan.” Lina lantas mengusap pelan punggung Syifa. Gadis itu terisak.
“Lina, kurasa Syifa ketakutan. Mereka bisa saja mengganggu mental siapa pun.”
“Jadi, bagaimana?”
“Akan kulaporkan kepada para Guru.”
“Baiklah, aku setuju.”
“Senior.” Gadis itu mengangkat wajahnya lantas menatap Aida yang hendak beranjak pergi.
Aida menoleh.
“Jangan lakukan itu. Maaf, aku takut mereka akan semakin menggangguku.”
“Baiklah jika itu nyaman untukmu.”
•••
“Abilawa.”
Abilawa menoleh ke arah sumber suara itu. “Ayah?”
“Kamu sudah kelas dua belas, jadi Ayah minta untuk belajarlah lebih keras.” Ayah berjalan menghampiri rak buku dikamar Abilawa lantas meraih sebuah buku.
“Hal itu, apa Ayah serius?”
“Menurutmu?”
Abilawa memalingkan wajahnya. Ia menatap lekat bingkai foto di hadapannya. “Apakah aku boleh melanjutkan studi di Turki?”
“Kenapa harus di Turki? Apa kau ingin menemui Ibumu?”
“Seperti yang Ayah tahu.”
“Ayah akan melanjutkanmu di Jerman.” Seolah keputusan yang tidak bisa di ubah.
“Kenapa Ayah terus memaksaku untuk memenuhi impian Aan? Aku memiliki impian sendiri, Yah.”
Ayah terdiam. Tidak. Ayah tidak pernah bisa menjawab pertanyaan itu.
“Jika aku yang meninggal, apa Ayah juga akan memperlakukan Aan seperti ini? Memaksa orang lain untuk memenuhi impian orang yang telah meninggal, sedangkan orang yang dipaksa memiliki impian sendiri.”
“Lanjutkan belajarmu. Jangan pusingkan hal lain.” Itulah yang selalu Ayah katakan lalu beranjak pergi.
“Aku ingin mencapai impianku sendiri, Yah.” Lirihnya.
•••
“Keputusan apa ini, Yah? Mengganti nama Aam? Apa Ayah bercanda?”
“Memanggil nama Aam terus-menerus mengingatkan Aan, Bu. Ayah tidak bisa bertahan dalam keadaan seperti ini.”
Ibu pasrah dengan keputusan yang Ayah ambil, sedangkan lelaki berumur enam tahun itu hanya meringkuk di dalam kamarnya.
“Abilawa. Kau sekarang adalah Abilawa.” Seraya mengusap pelan kepala Aam. Abilawa.
•••
“Nomor tiga puluh delapan apa kamu menemukan jawabannya?”
“Dia tidak dengar?” tanya Lina seraya menoleh ke arah Aida.
“Abil, aku mengajakmu bicara.”
Abilawa mengangkat wajahnya, “Apa?”
“Nomor tiga puluh delapan?” ia mengulang pertanyaan Aida.
“Kau tahu?”
“Apa?”
“Kau tahu apa yang aku tanyakan lalu kenapa kau bertanya lagi padaku?” merasa tidak terima.
“V.”
“Apa?”
“V.”
“Aku dengar itu, sedangkan yang kutanyakan adalah apa maksudmu.”
“Angka Romawi.”
Aida dan Lina berpikir sejenak lantas keduanya menganggukkan kepala. Sekarang mereka paham. V adalah angka Romawi yang dibilangkan menjadi angka lima. Jadi, jawabannya adalah lima. Kenapa Abilawa suka sekali mempersulit hal yang sebenarnya mudah?!
“Oh.”
“Bukankah kau tahu?”
“Aku?” Lina menunjuk dirinya sendiri seraya menoleh ke arah Abilawa.
“Aida.”
“Oh.”
“Tahu apa?” Tanya Aida.
“Kau tahu jawabannya lalu kenapa tanya padaku?”
“Oh? I just made sure.”
“Dia pikir aku apa.” Nyaris suara Abilawa tak terdengar.
“Apa yang kamu katakan?”
“Dia tidak akan menjawab, Aida. Sudah ayo mengerjakan lagi.” Ujar Lina.
•••
Lelaki itu berjalan menghampiri sosok Abilawa yang tengah membaca buku di meja belajarnya. Ia lantas menghentikan langkahnya tepat di samping Abilawa. “Ada hal yang ingin Ayah katakan.”
Abilawa yang menyadari keberadaan Ayahnya lantas mengalihkan perhatiannya.
“Ayah izinkan kamu melanjutkan studi di Turki, tapi kamu harus berhasil diterima kuliah di universitas Harvard Amerika.”
Abilawa terdiam. Ia memikirkan hal itu baik-baik.
“Ayah ingin kamu menjawabnya sekarang.”
Perlahan ia mengangkat wajahnya. Ayah tak mengalihkan pandangannya dari putra satu-satunya itu.
“Baik, Ayah. Abilawa setuju.” Yakin atau tidak yang terpenting adalah ia harus berusaha keras.
Mata mereka bertemu. Ayah hanya tersenyum datar tanpa berucap sepatah kata pun.
“Aan, apa kau juga merasakan kebahagiaanku saat ini? Semoga aku berhasil.”
•••
“Senior.”
“Oh? Syifa?”
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Baiklah.” Aida menuruti.
Kedua gadis itu kini tengah duduk di ruang perpustakaan yang tampak sepi.
“Sebenarnya, aku ingin menceritakan kejadian tempo hari.”
“Oh, baiklah. Ceritakan saja.”
Begitu runtut Syifa menceritakan kejadian itu. Sesekali Aida terpaksa menyela pembicaraan Syifa sebab kurang jelas dipahami. Sementara keduanya tak sadar akan keberadaan sosok Ica yang mengintip dari balik rak buku perpustakaan.
Ica mengulum bibirnya. Jemari tangannya yang memegang sebuah buku itu gemetar. Ingin rasanya ia menangis. “Maafkan aku, Syifa.”
“Ah!”
Aida dan Syifa sontak menoleh ketika mendengar suara buku yang terjatuh dari balik rak buku yang tak jauh dari tempat mereka berbincang.
Keenam mata itu bertemu. Aida segera menghampiri Ica yang tampak gelisah sebab keberadaannya diketahui oleh Aida dan Syifa. Ica tak berani beranjak dari tempatnya berdiri. Kini Aida sudah berada di hadapannya. Ia hanya menunduk seraya memegang erat buku yang tadinya terjatuh tanpa di sengaja. Syifa berdiri di belakang Aida. Menatap tak mengerti apa yang Ica lakukan.
“Apa kamu di sini untuk meminta maaf pada Syifa?” suaranya terdengar begitu ramah.
Ica tetap menunduk. Perlahan ia mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya.
“Syifa, bagaimana?” tanya Aida.
Syifa mengangguk. “Aku akan berbicara dengannya, senior.”
Aida tersenyum lantas beranjak pergi ke bangku yang tadinya ia duduki agar mereka leluasa untuk berbicara.
“Syifa, maafkan aku.” Harapan itu seolah tampak jelas di kedua bola matanya.
Syifa tersenyum manis. Senyuman tulus. Benar-benar tulus.  “Kamu gadis baik, Ica.”
“Sudah?” tanya Aida ketika mendapati Syifa menghampirinya. Syifa mengangguk dan tersenyum.
“Oh, tunggu sebentar.” Aida berlari menghampiri sosok Ica yang sudah beranjak pergi.
Aida menggapai lengan gadis itu. Langkah Ica terhenti lantas menoleh ke belakang.
“Senior?”
Aida tersenyum lantas menyerahkan lipatan kertas pada Ica. “Baca ini nanti.”
Ica mengiyakan.
•••
“Ibu, aku pulang.”
“Apakah kau mengganggu gadis peringkat paralel satu itu?”
Ica tampak gugup. Ia bahkan tak berani menatap Ibunya.
“Hei, gadis kelas sebelas, lihat aku!”
“Lihat mataku!” suara wanita itu semakin meninggi.
Perlahan Ica menatap sang Ibu.
“Jawab pertanyaanku.”
“Bagaimana Ibu bisa tahu?”
“Hentikan itu! Kau hanya perlu menduduki peringkat paralel satu tanpa menyakiti pihak yang akan kamu singkirkan. Bahkan menyakiti, menggurui saja itu memalukan! Sama saja kau menunjukkan bahwa dirimu lemah! Benar-benar memalukan!”
“Ibu yang membuatku melakukan itu! Ibu selalu memaksaku untuk melakukan semua hal yang Ibu inginkan! Ibu tidak pernah membiarkan aku untuk melakukan hal yang aku inginkan! Apakah sebegitu pentingnya peringkat paralel satu bagi Ibu? Kenapa Ibu selalu memaksaku untuk memperoleh kedudukan paralel satu itu? Kenapa Ibu membesarkanku menjadi serigala yang menakutkan?!” ia hampir terisak.
“Apa kau benar-benar Ibuku?”
Ica segera berlari menuju kamarnya tanpa mendengar ucapan sang Ibu yang kian menjadi. Ia melepaskan tas ranselnya di ranjang. Sekilas ia teringat dengan lipatan kertas yang diberikan oleh Aida. Segera ia mencari lipatan kertas itu. Akhirnya ketemu. Perlahan ia membuka lipatan kertas itu lantas membaca kalimat singkat yang tertera di kertas tersebut.
“Jika dengan menjadi orang bahagia kau harus merampas kebahagiaan orang tak bersalah, kau terlihat menyedihkan.”
–Aida.
Air mata itu perlahan mengalir membasahi kertas yang ia pegang. “Kau benar, senior.”
•••
“Assalamualaikum, kak Abi. Aku membuatkan minuman untukmu.”
“Wa’alaikumussalam. Terima kasih, Hilya. Taruh saja di atas meja belajar.”
Hilya menuruti lantas menghampiri sosok kakak lelakinya yang tengah mengerjakan sesuatu di atas ranjang kasurnya.
“Sebentar lagi kak Abi ujian seleksi masuk universitas, kan?”
Abilawa mengangguk tersenyum.
“Kak Abi harus semangat! Karena Hilya yakin kak Abi pasti bisa!” serunya.
“Aku akan berusaha.”
“Kak Abi jangan terlalu memaksakan diri juga, ya. Maksud Hilya, usaha memang harus serius tapi jangan sampai menyita waktu istirahat nya kak Abi.”
Abilawa tersenyum, “Baiklah.”
“Kak Abi akan memilih universitas mana untuk ujian seleksi esok?”
“Harvard...dan beberapa universitas.”
“Harvard Amerika?” Cukup tersentak.
“Ya, dimana lagi selain Amerika?”
Adiknya tidak boleh tahu soal itu. Bukan apa, hanya saja apabila Hilya mengetahui maka ia akan meminta pada Ayah untuk tidak melakukan itu pada Abilawa, sedangkan Ayah selalu memenuhi apa pun yang Hilya minta. Jika hal itu terjadi, Abilawa tidak tahu lagi apa yang akan Ayah lakukan padanya.
“Apa ada seseorang yang memaksa kak Abi? Aku tahu betul kak Abi tidak pernah berpikir untuk masuk ke universitas itu.”
“Tidak ada, ini kemauanku sendiri.”
“Kak Abi tidak pernah mengajariku untuk berbohong.”
“Memangnya ada apa jika aku memilih universitas Harvard?”
“Ah, tidak ada. Lupakan saja. Lagi pula, kak Abi tidak mungkin berbohong padaku, iya kan?”
Senyuman adiknya itu membuat Abilawa sangat bersalah. Lagi-lagi ia hanya tersenyum.
“Tempo hari aku melihat sesuatu yang ganjil di meja belajarnya kakak.”
“Apa?”
“Aida.”
Ia hampir tersentak mendengarnya. “Oh?”
“Apa aku boleh berkenalan dengannya?” Goda Hilya.
“Apa yang kamu bicarakan?”
“Ayolah, kak. Tidak usah bersembunyi seperti itu. Kenalkan aku padanya.”
“Ah, sepertinya kamu salah membaca.”
“Aku bukan lagi anak PAUD! Apa kak Abi berusaha mengecohku?”
“Kalau begitu sepertinya aku salah menulis.”
“Ini benar-benar aneh.”
“Sepertinya Ayah memanggilmu.”
“Tidak. Ayah masih berada di kantor.” Hilya lantas menjulurkan lidahnya seolah meledek.
“Beritahu aku, kak!” rengeknya.
“Dia hanya teman satu kelas.”
“Apakah wajar kalau di antara teman satu kelas terdapat salah satu nama yang di tulis di buku harian?”
“Kurasa wajar.”
“Ish! Itu tidak mungkin.”
“Aku tidak tega mengusirmu dari kamarku jadi kuharap kamu segera keluar.”
“Tanpa sadar kata-kata kak Abi telah mengusirku.”
Abilawa tertawa. “Pergi dan tambah hafalan Al-Quranmu.”
“Aku sudah melakukan itu tiga puluh menit yang lalu.”
Hilya terus merengek pada Abilawa. “Beritahu dulu lalu aku akan pergi.”
“Aku tidak akan melakukan itu.”
“Aku juga tidak akan melakukan itu.”
Abilawa melotot hingga membuat mental Hilya menciut.
“Oh, baiklah aku akan pergi.”
Tepat di ambang pintu, “Aku tidak akan merestui kak Abi sebelum memperkenalkannya padaku.”
•••
“Lina, aku akan pergi ke perpustakaan. Apa kau mau ikut?”
“Sepertinya tidak, sekarang aku ada keperluan dengan Bu Fia.”
“Oh, baiklah.”
•••
Abil? Dia di sini?
Aida lantas duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat Abilawa membaca buku.
“Aida?”
Gadis itu lantas menoleh ke sumber suara yang tidak jauh dari tempatnya duduk. “Oh, Hisyam.”
“Untuk ujian seleksi, universitas apa yang akan kamu pilih?” tanyanya.
“Salah satu universitas di Korea Selatan.”
“Apa kau sendirian memilih itu?”
“Tidak, aku bersama Lina.”
“Sayang sekali pilihan universitas kita tidak sama.”
Aida hanya tersenyum tipis.
“Apa kamu ada waktu luang sebelum masuk universitas?”
“Aku belum tahu itu.”
“Jika ada, tolong beritahu aku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Tolong pelankan suaramu.” Ujar Abilawa.
Kini, kedua lelaki itu bertatapan, sedangkan Aida hanya diam tanpa melihat keduanya.
Hisyam tersenyum getir. “Aku juga akan berusaha, Abil.”
Abilawa mengerti apa yang lelaki itu katakan, namun ia mengalihkan perhatiannya pada buku di hadapannya.
“Aku kembali dulu, Aida—Abil.”
Aida hanya mengiyakan, sedangkan Abilawa tidak bergeming sedikit pun.
•••
“Aida, aku pulang dulu!” Lina mengembangkan senyumnya.
Aida mengangguk. Gadis itu hendak pergi dari bangkunya, namun ia melihat sesuatu di kursi Abilawa. Buku Sapiens.
“Abilawa meninggalkan bukunya?” Aida meraih buku itu. Ia hendak memberikannya pada Abilawa. Ia pikir Abilawa belum pergi jauh dari kelas.
“Dimana dia? Ah, itu dia. Eh?”
Langkahnya terhenti tepat satu langkah dari belakang Abilawa. Aida melihat sosok Fira yang menghampiri Abilawa seraya membawa sebuah jam tangan. Aida hendak menghampiri Abilawa, namun ia memilih untuk melihat Abilawa dan Fita terlebih dahulu.
“Hari ini ulang tahunmu.” Ucap Fira seraya menyerahkan jam tangan pada Abilawa.
“Lalu?”
“Ini hadiah dariku untukmu, Abil.”
“Terima kasih, tapi aku tidak bisa menerimanya.”
“Kenapa?”
“Kau sudah tahu, tidak perlu bertanya.” Abilawa hendak pergi, namun Aida lebih dulu menahannya.
“Abilawa.”
Ia menoleh ke belakang. “Aida?”
“Kau meninggalkan bukumu di kursi.” Sembari menyerahkan bukunya.
“Terima kasih.”
•••
“Apakah Fira menyukai Abilawa?” Pertanyaan itu terus-menerus ia tanyakan dalam hati.
“Argh! Tidak tahu. Lagi pula Abilawa merespons Fira begitu dingin. Tidak jauh berbeda dari Abil memperlakukanku.”
•••
Lelaki itu meraih bolpoin seraya membuka buku hariannya. Ia hendak menulis sesuatu.
"Ini adalah kali pertama aku menyukai wanita. Aku tidak tahu apakah dia menyukaiku, yang kutahu adalah aku menyukainya, namun seolah bersikap dingin agar apabila dia menyukaikuㅡdia tidak menaruh harap padaku.
Aku takut berkhianat.
Bukan tidak berani mengutarakan. Menurutku, rasa ini tidak pantas diutarakan sebelum pada waktunya. Jikalau aku mengutarakannya, pastilah akan membuat-Nya cemburu.
Aida akan melanjutkan belajarnya di negara asing, begitu pula denganku.
Benar, tujuan pertamaku adalah untuk bertemu Ibu. Aku tidak ingin meluangkan waktu untuk selalu mengikuti wanita yang belum tentu milikku.
Tidak sepantasnya pula aku mengikuti ke mana pun ia pergi.
Jika boleh, setidaknya sekali saja. Aku ingin mengobrol dengan Aida.”
•••
"Baiklah, Ayah! Aku akan belajar lebih keras dari sekarang. Iya kan, Aam?"
Aam hanya diam menatap foto universitas-universitas di album itu tanpa bergeming sedikit pun.
"Harus! Dua putra Ayah ini harus belajar lebih keras agar dapat masuk di universitas itu."

ㅅ_ㅅ

Lelaki BaikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang