02 | PENYUSUP

802 81 1
                                        

---o0o---

Sabtu sore Azel, Nayara, dan Felicia sudah rapi dengan dress code yang sudah tertulis di undangan. Hal yang paling penting adalah undangan. Tanpa undangan mereka tidak akan bisa masuk ke acara ini. Apalagi mereka bukan siapa-siapa di Zenith dan semoga saja aksi curang mereka tidak mengundang kecurigaan para siswa-siswi hingga panitia.

Pukul tiga sore sudah terlihat ramai. Parkiran mobil hampir terisi penuh. Acara yang di adakan tepat pukul 02.00 siang yang membuat mereka terlambat satu jam karena Felicia yang tak henti-hentinya dandan.

Di atas panggung sedang ada seseorang siswi Zenith yang menyanyikan lagu milik melly goeslaw dengan dentingan piano.

"Gue rasanya pengen pingsan sekarang," ujar Felicia lebay. Matanya menatap keseluruhan Pensi yang di gelar sangat mewah.

"Yaudah pingsan aja. Tunggu gue menjauh dulu dari lo tapi," celetuk Nayara.

"Ish lo mah gitu sama gue."

Felicia memanyunkan bibirnya. Lalu kembali tersenyum cerah ketika menatap empat orang yang selalu membuatnya betah memandang postingan instagram mereka. Ralat, bukan empat orang tetapi salah satu diantara mereka yang menjadi most wanted Zenith.

"Emang ya anak-anak Zenith bukan kaleng-kaleng. Ganteng semua."

Felicia masih tersenyum lebar di tengah pekikannya yang membuat temannya memandang aneh.

"Lo jangan buat gila ya disini." Nayara melirik orang-orang di sekitaran mereka takut-takut ada yang melihat tingkah absurd Felicia dan mereka di foto lalu di publish di akun resmi Zenith sebagai penyusup.

"Yuk, kita cari tempat."

"Nanti dulu, Zel. Liat deh itu Akhtar, Ezar, Gabriel sama Elvin kan?"

Azel dan Nayara mengikuti pandangan Felicia. Terlihat keempat lelaki itu yang berada di tengah-tengah acara yang menjadi pusat perhatian. Dua diantaranya tengah asik bernyanyi bersama yang lain. Yang Azel tahu keempat laki-laki itu adalah siswa yang cukup terkenal di Zenith ini.

Azel tak tahu mana diantara keempatnya yang disebutkan namanya satu persatu oleh Felicia. Tujuannya datang kesini ya karena pensi bukan yang lain.

Azel menatap Felicia memperingati, kesepakatan yang di setujui bersama sebelum datang kesini tidak usah memperlihatkan tingkah berlebihan, ya ... di buat senormal mungkin agar tidak mengundang kecurigaan.

Setelah tiga jam menikmati hidangan yang berjejer serta spot-spot foto yang sayang jika di tinggalkan begitu saja. Ada beberapa kanvas yang tertempel indah karya para siswa. Lampu-lampu gantung yang terasa seperti di kafe outdoor. Rangkaian bunga yang di simpan cukup menarik.

Sejauh ini tidak ada yang mencurigai hadirnya tiga gadis asing itu membuat mereka bisa bernafas lega. Ada untungnya juga mereka tampil beda.

Walaupun hari menjelang sore. Tak menyurutkan semangat mereka untuk berdesakan di depan panggung dengan bintang tamu yang berulang kali membawakan lagu berbagai judul. Diselingi oleh para siswa yang pandai dalam tarik suara.

"Duh gue kebelet nih, gue ke toilet dulu ya."

"Nay gue ikut ya, gue juga kebelet banget."

"Zel, lo mau ikut apa gimana?" Azel menggeleng, menikmati lagu yang tengah di bawakan oleh Raisa di atas sana.

The Strait of GibraltarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang