---o0o---
"Zel, kemaren lo pulang duluan?"
"Kita cariin takutnya lo ngilang. Mana di telepon gak aktif, di chat gak di bales-bales."
Baru saja memasuki kelas, Azel sudah di bombardir dengan pertanyaan kedua sahabatnya.
Jujur Azel menyesal telah datang ke acara pensi itu. Ia bahkan baru satu jam menikmati acara tersebut. Namun, entah mengapa ia malah ketahuan oleh salah satu murid yang ada di sana.
"Kemarin gue ketauan."
"Serius?!"
Azel mengangguk lesu. "Iyalah makanya gue lari. Pokoknya gue gak mau kesana lagi, kapok. Rasanya kayak maling yang ketahuan."
Azel bergidik membayangkan jika ia benar-benar tertangkap dan di laporkan pada pihak panitia hingga pihak Sekolah. Azel yakin sejak saat itu hidupnya sudah tidak aman dan nyaman. Wajahnya akan selalu di ingat anak Zenith sebagai penyusup.
"Lah lo pernah maling?"
Azel melotot kearah Nayara. "Ya enggalah enak aja."
"Aahhh gue mau dong kayak gitu!"
"Gila lo beruntung banget. Pasti ganteng kan cowok nya?"
Azel dan Nayara menatap aneh Felicia yang menjerit di iringi senyuman lebar. Terlihat gadis itu membayangkan berada di posisi Azel. Di pikir menjadi Azel saat itu enak apa.
Demi apapun walaupun lelaki itu faktanya memang tampan tetapi tetap saja jika Azel di hadapkan situasi seperti kemarin tidak akan memperdulikan ketampanan lelaki itu. Walau di hadapkan Iqbaal Ramadhan, jika situasinya begitu ia tidak akan peduli.
"Kalau lo yang keciduk ya, Fel. Gue gak akan ikut-ikutan kalau nama gue di seret," kata Nayara.
"Jahat banget, Nay."
"Emang lo mau jadi bulan-bulanan Zenith gegara jadi penyusup?"
"Ya engga lah, enak aja. Gue gak mau ya, wajah gue di pampang di instagram sekolah mereka."
"Jahat banget kalian" Felicia memanyunkan bibirnya. Menatap Azel dan Felicia jengkel lalu hengkang keluar kelas.
Azel dan Nayara masih larut dalam tawa mereka, kedua gadis itu tidak khawatir Felicia akan marah. Mereka berdua tidak usah repot-repot membujuk Felicia sampai mentraktir bakso di Kantin. Lihat saja sebentar lagi jika bel masuk berbunyi. Gadis berkucir satu itu akan kembali dan ikut bergosip.
•••••
Bel pulang sekolah sudah di bunyikan sejak tiga puluh menit yang lalu. Berbeda dengan yang lain yang tak sabar menunggu gerbang segera terbuka.
Ketiga gadis ini malah melipir ke Kantin. Mengisi perut yang tak sempat dilakukan pada jam istirahat di karenakan sibuk membahas Pensi kemarin di Zenith.
Menghabiskan satu porsi batagor dengan es teh manis membuat perut ketiganya kenyang. Merasa sudah bosan dan cukup sepi di Lingkungan Sekolah, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Gue pulang duluan ya, Zel"
Azel mengacungkan jempol tangannya ketika Felicia keluar area gerbang menggunakan sepeda motor. Hanya tinggal dirinya seorang. Nayara sudah pamit sedari tadi.
Area sekolah cukup sepi hanya tersisa para guru yang sibuk mengisi rapot hasil belajar satu semester. Ekstrakurikuler sudah tidak di perbolehkan berkumpul jika akan menghadapi libur semester terkecuali OSIS.
Terik matahari tidak sepanas tadi siang. Angin melambai-lambai mengiringi langkah gadis itu. Suasana sejuk membuatnya menikmati cuaca hari ini. Di tengah angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit dan di payungi pohon rindang. Tidak ada niatan untuk cepat-cepat pulang walau detik jam semakin berputar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Strait of Gibraltar
Romance"Lo gak mau jadi pacar gue?" "Gak! Resiko punya pacar ganteng itu banyak. Gak enak jadi ceweknya." "Satu, kapan aja bisa di selingkuhin." Azel mengacungkan jari telunjuknya. Menatap Akhtar lekat. "Dua, kemana-mana pasti di lirik cewek." "Tiga, pelua...
