Temu

10 0 0
                                    

Happy Reading! 


Sebuah pertemuan yang hingga saat ini masih menjadi pertanyaan untukku.

Sebuah tanya, tentang mengapa. Mengapa kau harus hadir dalam kehidupanku? Bahkan, saat aku masih mencoba untuk melupakan rasa yang dulu pernah menggebu.

Seseorang yang saat itu behasil membuat hati ini jatuh dalam dekapnya. Dalam setiap tampilannya, dalam setiap gerak geriknya, dalam setiap tutur katanya.

Seseorang yang entah keberapa kalinya yang berhasil membuatku jatuh hati tatkala kerapuhan menjelma dalam setiap gelak tawa yang tercipta.

Kehadiranmu kala itu memang berhasil membuatku sembuh dari luka, meski aku tak tahu apakah nantinya dirimu yang justru akan menambah luka baru.

Hari Senin pukul enam pagi yang berhasil membuatku terburu-buru bangkit dari kursi. Menyisakan sarapan yang hanya berkurang seperempatnya saja. Kau sama sekali tak mengetahui itu. Aku rela lapar demi menunggu kehadiranmu yang menurutku amatlah penting. Mencoba tak terlambat untuk bisa memberikan sapaan selamat pagi.

Aku melangkah keluar dari zona nyamanku. Mungkin, sudah lewat sepuluh menit. Melangkah menuju halaman rumah, mengenakan sepatu, dan mengeluarkan kendaraan dari garasi, itu semua memerlukan waktu bukan?

Aku dan kamu sama sekali tak dekat. Bahkan mungkin tak akan pernah bisa mendekat. Kala itu, kau datang lebih dulu mengendarai sepeda motor berwarna hitam.

Lalu, kau dengan begitu tegapnya melangkah didepanku. Bak dua magnet yang medannya saling tolak-menolak. Aku mencoba menciptakan jarak. Mencoba mengobati segala rasa canggung dan juga hening yang menyesakkan dengan senandung tak bernada. Lirih. Dalam radius dua meter, berharap kau tak akan mendengarnya.

Namun, gagal. Suara sepatuku  diantara ruangan  yang lengang terdengar sangat jelas. Kau mengalihkan pandangan menuju asal suara itu. Aku yakin kau pasti melihat ke arahku.

Aku hanya bisa menunduk, mengalihkan pandangan. Sebisa mungkin tidak saling tatap. Karena aku tahu, hatiku tentu tak akan siap.

Merutuki sepatuku? Percuma saja, tak akan mengubah apa-apa.

Kini kau menjelma sebagai mahluk asing yang sangat dingin. Seolah kau benar-benar enggan berbicara denganku. Padahal kau tahu, kita tak akan mungkin sejauh Merkurius dan Neptunus. 

Kita hanya berjarak. Jarak yang dapat ku tempuh hanya dengan melaju beberapa langkah dari tempatku singgah. 




JEJAK RASA Part 1

Halo, gimana ceritanya? 

Jangan lupa buat vote dan commentnya ya! ^_^  100% GRATIS.

Terima Kasih.

Reading Is Anywhere, Anytime.

Salam Literasi!

JEJAK RASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang