Tak Lebih

3 1 0
                                    

Happy Reading! ^_^


Kita pernah dekat. Namun bagiku semua itu tetap terasa berjarak. Siapa yang menciptakannya? Aku? atau Dirimu?

Kita pernah bersama. Hingga aku sempat heran dan bertanya-tanya. Apa tujuan Tuhan menghadirkanmu disampingku. Apakah kau akan mengobati luka, atau justru menciptakan luka baru? Aku sempat bosan. Bosan akan kehadiranmu yang hanya menyesakkan ruang hatiku. Ingin rasanya raga ini menjauh. Namun, hati ini terus saja menolak.

Kita memang pernah sedekat nadi. Namun, aku sadar kalau kita adalah dua orang yang tak lebih dari sebatas relasi.

Detik demi detik waktu terus saja kucermati.

Hari demi hari kian berlalu. Aku kini terdiam oleh sikapmu yang beku.

Merindukanmu? Jika aku mengatakannya padamu, aku takut tak sanggup mendengar jawabmu. Jadi, mungkin akan lebih baik jika diriku bungkam. Bolehkah ku katakan jika kau seolah menjadi candu. Yang apabila tidak segera diberi obatnya, aku terus saja menggila. Menggila bak kehilangan segalanya.

Hidupku entah harus dibawa kemana. Terombang ambing tanpa tahu hendak kemana. Pikiranku kacau bala.  Kala itu, tak ada yang lebih penting selain dirimu dalam benakku.

Ponsel yang kudiamkan berbulan-bulan, sama sekali tak tersentuh olehku. Menjamur. Rasanya, tangan ini ingin meraihnya. Hanya untuk sekedar mengecek tanya darimu. Tanpa peduli ribuan pesan masuk di ponselku. Yang ku cari, tetap hanya satu nama. Yakni namamu.

Kosong. Sesal kini memenuhi benakku.

Ah. Entah mengapa aku tak bisa menaklukkan rasa takutku? Nyali ini terlalu ciut  untuk sekedar bertanya,

"Hai, bagaimana kabarmu?"

Aku khawatir jika nanti kau tak akan pernah membalas pesanku. Seolah aku tak penting. Bukankah itu hanya akan membuat luka semakin menganga. Kembali menciptakan sebuah kata andai pada kamus hidupku.

Kata khawatir terus saja memenuhi benakku. Ingin rasanya aku menghilangkan kata itu.  Kata khawatir yang membuat pikiran harus bekerja lebih keras. Memikirkan kemungkinan yang belum tentu akan terjadi. 

Saat itu, rerintik hujan kembali mengguyur sebuah gedung kafetaria usang yang telah lama menjadi langganan kita tuk melepas penat. Awan kelabu menghiasi langit yang sepadan. Mungkinkah mereka merasakan apa yang aku rasakan? Entahlah.

Langkah kakiku pernah terhenti olehmu yang berada di sebelahku. Ingin rasanya ku berteriak pergi. Mengusirmu, mencegahmu untuk tak kembali lagi. Jika bukan karena urusan penting, aku tahu kau takkan pernah sedekat ini denganku. Tanpa terlewat aku selalu memperhatikan setiap gerakmu.

Secangkir kopi kini terlah tersaji di hadapanku. Memperhatikanmu yang nampak serius dengan setumpuk jurnal dihadapanmu. Hingga tak sadar bahwa sedari tadi aku melihatmu. Melihat wajahmu yang serius. Melihat matamu yang lelah.

Apa kau bermain game lagi hingga larut malam? Atau terus berkencan dengan setumpuk  tugas dan makalah yang tanpa sadar, telah memperbudak dirimu itu? Entahlah. Aku tak akan mungkin bisa mengerti apa yang kau lakukan saat kau tak bersamaku.

Terlalu lama tenggelam dalam kesibukan yang tak kian usai. Hingga kini kau lupa, bahwa ada diriku yang sedari tadi kau diamkan begitu saja. Bak sebuah patung yang takkan mugkin berbicara. Bak secangkir kopi dihadapanmu yang tanpa kau sadari kini mulai dingin. 

Jika sudah begini, rasanya, secangkir kopi tak dapat mengalihkan kesibukanmu. Tidak seperti biasanya, kau selalu mengikuti kemana arah kaki mungilku ini melangkah. tak terkecuali menuju tempat bersejarah ini. 

Kali ini, kau nampak berbeda. Ada apa?

....


Jejak Rasa Part 3

Semoga suka sama ceritanya ya! Ehe. ^_^

Jangan lupa Vote dan Comment. Gratis.

Makasih!

Salam Literasi.

Reading Is Anywhere, Anytime.


JEJAK RASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang