Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Hal di balik sate

1.6K 156 180
                                        

M

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

M. Dimas Sanjaya
.
.
.

***


Rega tengah menunggu pesanan sate yang Caca minta. Kali ini Caca ngidam sate ayam 30 tusuk. Rega menggeleng tak habis pikir, dia begitu takut jika pada akhirnya dirinyalah yang harus memakan tiga porsi sate itu.

“Lo Rega kan?”

Suara itu menyadarkan Rega dari ketakutannya. Dia menoleh menatap seorang lelaki berkaos biru dongker. Merasa bingung, Rega hanya diam saja seraya menaikan sebelah alisnya.

Lelaki berkaos biru dongker tersenyum ramah, seolah tau bahwa Rega tengah dilanda kebingungan. Dia mengambil kacamata lalu mengubah model rambutnya. “Inget gue?” tanya lelaki itu lagi.

Rega mengerjap. Dia menatap lelaki ini begitu lekat, setelah memastikan ingatannya, Rega langsung mengukir senyuman. “Lo Dimas?”

Lelaki bernama Dimas mengangguk.

"Widih, sekarang lo jadi ganteng gini Dim, beda banget lo." Rega memeluk Dimas, Dimas balas memeluk Rega.

“Iya lah gue kan glow up. Yakali harus kalah ganteng mulu sama lo.” Dimas tertawa pelan. Rega ikut tertawa.

“Bagus deh, jadi kalo nanti motor kita mogok lagi, lo bisa gue jadiin jaminan.” Rega tersenyum jahil, Dimas tau betul bahwa Rega tengah membangkitkan memori tentang mereka berdua semasa SMA dulu.

Dimas hanya bisa nyengir tak berdosa. “Kalo di jadiin jaminan, lo aja deh, lo tetep jauh lebih ganteng dari gue.”

“Sialan lo emang!” Rega menonjok Dimas pelan. Dimas hanya bisa tertawa.

“Oh ya, be-te-we lo ngapain disini Ga?” tanya Dimas, sesaat setelah pesanan sate Rega di antarkan oleh si penjual.

Rega mengangkat pesanan satenya. “Ini nih, istri gue ngidam sate malem-malem gini. Lo sendiri ngapain?”

“Eh, lo udah nikah? Kok gak ngundang gue? Parah banget lo, Ga.” Dimas menatap Rega dengan sorot kesal, kali ini Rega hanya bisa tersenyum sok polos.

“Maap banget Dim, pernikahan gue dadakan kek tahu bulat, gak ada satu pun orang yang gua undang kecuali keluarga besar. Kapan-kapan gue kenalin deh ke lo.”

“Oke, kita makan bareng aja gimana? Gue sekarang udah balik ke Jakarta kok, sama istri dan anak kembar gue plus anak dalam perut juga.” Dimas tersenyum menyeringai. Rega hanya bisa tersenyum miring, dia tidak pernah menyangka bahwa Dimas teman cupunya ini akan menjadi ayah dari tiga orang anak.

“Mantap juga lo Dim, udah mau punya tiga anak aja lo. Gak nyangka gua.”

Dimas hanya bisa tersenyum bangga, “Siapa dulu gurunya.”

“Ya pasti Regantara Putra Maheswara lah,” ucap keduanya serempak seraya tertawa dengan begitu keras.

“Yaudah Dim, lo tinggal chat gue aja ya. Inget! nomor gue lo save jangan dijual kek dulu.” Rega lagi-lagi menjahili Dimas, dan tentunya Dimas hanya bisa tersenyum malu.

“Hati-hati lo Ga,” teriak Dimas saat Rega yang sudah berpamitan melangkah menjauhi dirinya. Rega hanya mengacungkan jempolnya.

***

Prediksi Rega tentang dirinya yang akan menghabiskan sate pesanan Caca ternyata salah. Karena sekarang Caca tengah memakan sate ayam pesanannya dengan lahap. Caca bahkan langsung memakan sate ayam itu begitu Rega datang.

“Pelan-pelan dong Cin, jangan buru-buru gini makannya. Belepotan kan.” Rega mengingatkan Caca yang terlihat sangat terburu-buru. Dia membersihkan noda bumbu kacang di ujung bibir Caca.

“Iya maap, abis enak, aku suka banget.” Caca tersenyum, setelah Rega membersihkan mulutnya Caca kembali makan dengan tenang.

“Oh ya Cin, tadi aku ketemu sama sahabat aku waktu SMA.” Rega yang sudah bersandar di sofa mulai bercerita. Dia menoleh menunggu respon Caca yang masih asik dengan kegiatan makannya.

Caca menelan sate yang ke dua puluh lima. Dia menoleh pada Rega. “Sahabat yang mana? kamu pernah cerita gak?”

Rega menggeleng. “Belom, ini baru mau cerita.”

Caca yang ingin makan sate yang ke dua puluh enam, langsung mengurungkan niatnya. Dia beringsut maju untuk mendekat pada Rega. “Yaudah atuh cerita aja, aku mau dengerin nih.”

Rega menatap Caca. “Itu satenya belum habis loh.”

“Udah kenyang. Sekarang mau denger cerita, Rega juniornya.” Caca mengerjap lucu, Rega yang melihatnya tentu tak bisa menolak.

“Okey, aku ceritain, Sini senderan dulu biar makin nyaman.” Rega merengkuh Caca kedalam pelukannya, Caca tidak menolak sedikitpun.

“Jadi waktu SMA sebelum sekolah di Jakarta aku pernah sekolah di Bandung. Waktu di Bandung aku punya sahabat namanya Dimas. Dimas itu waktu SMA bisa dibilang cupu gitu, terus ya kamu tau lah kalo aku ini ganteng.” Rega tertawa, Caca yang kesal mencubit pinggang Rega pelan.

“Ish, di suruh cerita malah narsis.” Caca mengerucutkan mulutnya.

“Iya iya maap, abis kamu serius banget sih.”

Caca yang masih merasa kesal hanya diam saja.

Rega lanjut bercerita, dia tau diamnya Caca itu berarti Caca masih ingin mendengar ceritanya. “Jadi waktu itu aku pulang sekolah naik motor bareng Dimas. Di tengah jalan, motornya Dimas mogok. Kita pergi kebengkel dong. Eh, waktu motornya udah  selesai dibenerin Dimas baru sadar kalo dia gak punya uang sama sekali. Terus uang aku juga cuma tinggal lima ribu. Motor Dimas gak bisa dibawa kalo belum bayar. Akhirnya karena kita masih belum punya KTP buat jaminan. Aku deh yang dijadiin jaminan dengan alasan muka aku ganteng. Kamu tau Cin waktu itu aku kesel banget beneran deh. Masa iya Rega yang ganteng ini dijadiin jaminan di bengkel.” Rega mengakhiri ceritanya dengan wajah yang begitu memendam kejengkelan.

Caca terdiam. Kenapa cerita Rega itu kayak pernah aku denger ya? Atau mungkin cuma perasaan aku aja?

“Cinta, kok diem aja sih?” tanya Rega bingung.

Caca menggeleng, “Enggak kok, oh ya aku jadi pengin ketemu sahabat kamu itu, boleh gak?”

Rega tersenyum hangat. “Boleh dong, soalnya dia juga pengin ngajak makan malem bareng keluarga kecilnya. Dia udah mau punya anak tiga loh Cin, belum lagi sekarang dia udah gak cupu plus ganteng sih. Tapi tetep, aku lebih ganteng.”

Caca hanya bisa menggeleng tak habis pikir, Rega ini semakin lama semakin narsis saja. Rega kembali bercerita tentang pertemuannya tadi dengan Dimas. Namun Caca malah asik menerka sesuatu di dalam benaknya. Kenapa gue jadi makin penasaran sama Dimas sih? Cerita Rega tadi itu persis kayak ceritanya Redi. Iya gue inget banget, cerita Rega tadi persis kayak ceritanya Redi, apa jangan-jangan Redi itu Rega?

***

Apa ada yang ngerti kode dari Caca?  Coba atuh lah di tebak wkwkkw😄

Edisi tanya lagi.  Kalo kalian ketemu lagi sama first love kalian yg gagal asekk.  Apa yg bakalan kalian lakuin?

/nunggujawabansambilmakanpopcorn 😎

Suddenly Married [SEGERA TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang