Raga dan Nala sedang duduk bersama. Dua anak kecil berbeda jenis kelamin dengan seragam yang sama ini sibuk bercanda dan tertawa. Lain hal dengan Juna dan Ile yang tengah berlarian di taman. Runa sendiri sedang sibuk melukis.
Aruna melirik Raga yang tengah menyuapi brownies kedalam mulut kecil Nala, Raga terlihat sangat perhatian. Aruna tidak cemburu, namun dirinya juga ingin merasakan nikmatnya brownies buatan Caca.
Aruna melipat buku gambar miliknya. Dia memutuskan untuk mendekati Raga. "Raga, Runa mau juga browniesnya, mama pasti buatin brownies double cokelat dengan cheess diatasnya buat Runa 'kan," kata Aruna, gadis kecil ini tersenyum sangat manis membuat Raga terpaku untuk beberapa saat.
Raga tersadar. Dia kembali menyuapi Nala yang sudah merengek meminta brownies lagi. Setelah menelan potongan brownies kecil dalam mulutnya. Nala ingin memberi tahu bahwa Caca memanglah membuatkan brownies spesial untuk Runa bahkan kotaknya terlihat sangat indah.
"Nala! Kamu mending kasih brownies ini ke Juna sama Ile," cegah Raga cepat. Dia tentu tidak mau memberikan brownies itu pada Runa tanpa kejahilan lebih dulu.
Nala mengerjap dia menoleh guna melihat Aruna. Aruna mengangguk kecil, seolah telah mendapat izin, Nala tersenyum begitu lebar kemudian mengambil alih kotak brownies dari tangan Raga. "Yaudah, Nala bawa browniesnya ke Ile sama Juna dulu ya."
"Assalammualaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Raga dan Runa serempak.
Aruna kembali tersenyum kecil. Dia duduk di samping Raga tepat di tempat Nala tadi. Runa menoleh dia melihat Raga sibuk memasukan potongan brownies dengan begitu nikmat. Aruna menggembungkan pipinya. "Raga, Runa mau disuapin juga kayak Nala tadi." Aruna berterus terang. Dia tidak malu jika bersama Raga, walau Raga sering menjahili dirinya bahkan membuatnya menangis, tapi Raga juga lah yang sangat memanjakan dirinya dan selalu menuruti permintaan Aruna. Perhatian Juna yang notabennya saudara kembarnya pun kalah dengan perhatian Raga.
"Enggak! Mama gak buatin brownies buat Runa," jawab Raga cepat. Raga masih mencoba abai dengan rengekan Aruna yang terdengar menyenangkan di telinganya.
"Tapi Runa mau. Bagi satu aja, aaa..." Aruna terus saja meminta. Dia sudah beralih menatap Raga lalu membuka mulut kecilnya.
Raga melirik Aruna. Pertahanannya untuk membuat Aruna kesal padanya hampir saja goyah, Aruna terlalu cantik, terlalu menggemaskan, dan terlalu indah untuk di abaikan.
Raga gak boleh lemah. Kamu harus bikin Aruna kesel sama kamu, kalo bisa bikin dia benci banget sama kamu. Jadi nanti kalo kamu pergi Aruna gak akan nangis.
"Raga suapain, ayo, cepetan."
"Raga, Runa laper."
"Ragaa..."
"Diem! Runa berisik! Udah Raga bilang kan cewek cerewet itu ngeselin! Runa bikin Raga gak selera makan lagi." Raga membentak Runa. Runa sedikit tersentak. Raga yang melihat mata Runa berkcaca-kaca, buru-buru membereskan kotak bekal miliknya. Dia tidak boleh terlalu lama dekat dengan Runa. Raga harus menjaga jarak.
Raga bangkit, sebelum pergi, Raga menatap Runa tajam. Dia sudah bertekad ingin membuat Aruna membencinya. Iya, Aruna harus membencinya.
Aruna mengembuskan napas. "Raga kenapa jadi marah-marah sih. padahal Aruna kan gak ada salah. Aruna beneran laper."
Aruna tak sengaja menoleh, senyuman diwajah cantiknya terbit di temani dengan kata-kata indah yang keluar dari mulutnya. "Raga itu ngeselin, tapi Raga juga gak pernah ngelupain Runa. Makasih Raga, Makasih mama Cantik."
Aruna mengambil kotak brownies yang sudah di hias dengan sangat cantik, dia memeluk kotak itu erat-erat, lalu berjalan dengan riang menuju ayunan yang jauh dari jangkauan teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suddenly Married [SEGERA TERBIT]
Roman d'amourDisaat cinta itu datang, kenapa cinta masa lalu ikut datang? Dilema itu tengah dirasakan oleh dokter ganteng, Regantara Putra Maheswara. Rega menghadapi sebuah dilema saat seseorang di masalalu nya kembali datang untuk menagih sebuah janji. Akankah...
![Suddenly Married [SEGERA TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/229569004-64-k719107.jpg)