"Ga, lo ngapain sih? Jangan bilang lo mau ngerjain gue lagi." Caca menggerutu seraya memegang tangan Rega yang tengah menutupi matanya.
"Udah, jangan bawel. Ikutin aja, apa susahnya, dah."
Caca pasrah. Ia terus saja mengikuti intruksi yang Rega berikan. Caca merasa Rega sudah menghentikan langkahnya. Ia berkata, "Rega, lo masih disini kan?" Caca bertanya khawatir, karena dia tidak lagi mendengar suara Rega. Tapi tangan Rega kan masih tetap menutupi matanya, itu berarti Rega tidak meninggalkan Caca kan?
"Gue buka pelan-pelan. Pokoknya lo harus ngerasa kaget," bisik Rega pelan. Dengan perlahan Rega mulai menjauhkan tangannya.
Caca juga mencoba membuka mata nya, ia mengeryit, "Mana bonekanya Ga?" Caca bertanya polos. Dilihatnya wajah Rega yang semula tersenyum berubah menjadi datar.
"Kenapa boneka?"
"Temen-temen gue yang pacaran. Suka dikasih kejutan boneka soalnya."
Rega menghela napas sesaat, dengan memaksakan membentuk seulas senyuman Rega mengusap surai pirang milik Caca lembut. "Untung gemes." Kalo kaga abis dah lu gua sleding Ca. Tentu saja umpatan Rega hanya bisa dia suarakan di dalam hati.
Caca tersenyum polos, "Gue emang gemesin, sih."
Gemesin sama bloon beda tipis njir.
Rega kembali mengumpat namun senyuman sok tulus masih terpasanga dengan indah di wajah tampannya.
"Sini," Rega menarik tangan Caca. "Nah, ini kejutannya."
"Sepeda?" Caca menatap Rega, lelaki yang menggunakan kaos oblong berwarna putih itu tersenyum manis.
"Iya, suka gak?" tanya Rega.
"Suka sih, tapi lebih suka boneka teddy warna Cream."
Ngode aja terus. Ngode. Ni anak, emang sengaja mau bikin bangkrut atau gimana dah.
"Btw, tadi itu bukan ngode loh. Tapi, kalo emang mau di beliin gue gak akan nolak." Caca nyengir membuat Rega ikutan nyengir sok polos.
"Gimana kalo kita langsung naik sepedanya aja? Kasian kan dia dianggurin." Rega mengusulkan, Caca mengangguk setuju.
Caca sudah duduk manis dan bersiap mengendarai sepedanya. Tapi Rega mencegahnya, "Kenapa?" tanya Caca bingung.
Rega memberi jas hujan juga alat pelindung untuk naik sepeda pada Caca. Caca lantas tertawa, "Rega, kita cuma mau maen sepeda di sekitaran sini doang loh."
Rega mendengus. "Tapi tetep aja. Safety first, Ca."
Caca tersenyum hangat. "Siap, pak dokter," ujarnya seraya mengambil jas hujan yang Rega beri. Caca sedikit kesulitan memakai jas hujannya, Rega dengan cekatan membantu Caca tanpa harus dikode terlebih dahulu.
"Okey, lets go."
Caca berteriak riang. Dia sudah mengayuh sepedanya dengan tidak santai, meninggalkan Rega yang menggeleng tak habis pikir karena tingkah lucu seorang Cantika Ayu Prameswari.
***
Caca tengah mengibas-ngibaskan tangannya guna mengurangi rasa gerah. Dia melirik kesana kemari, mencari sosok Rega yang tak kunjung datang. Padahal Rega bilang, dia hanya akan pergi sebentar. Tapi nyatanya, sudah sepuluh menit Rega belum juga datang.
"Ih, Rega kemana sih? Gue kan haus." Caca menggerutu. Wajahnya sudah memerah karena cuaca sudah semakin panas.
Rega datang sambil menenteng plastik kecil berisi dua botol air mineral. Dia memberikan satu botol untuk Caca. "Maap, lama ya? Pasti lo kehausan."
Caca yang sudah sangat dehidrasi, lebih memilih membuka air mineral yang Rega bawa lebih dulu. Karena bicara kan butuh tenaga, dan tenaga Caca sudah tinggal dua puluh lima persen. Rega yang mengerti, memilih melakukan hal yang sama. Dia duduk berselonjor disamping Caca.
Caca menutup air mineral miliknya yang tersisa setengah botol. Dia menoleh guna melihat Rega, "Ga, kenapa minumnya gak dingin sih? Terus ini, kenapa kita pake jas hujan? Dari tadi gue diliatin orang tau."
Rega yang baru saja selesai minum, menatap Caca lembut. "Kita itu abis naik sepeda Ca, gak baik kalo langsung minum minuman dingin." Caca mengangguk paham, dia tidak mungkin membantah perkataan seorang dokter kan?
"Nah, kalo masalah jas hujan. Tadi gue abis liat prakiraan cuaca, katanya hari ini bakalan turun hujan. Makanya gue sedia jas hujan sebelum hujan."
"Biasanya, orang bilang, sedia payung sebelum hujan tau, Ga."
"Kita kan naik sepeda. Ribet, kalo pake payung."
"Iya juga sih."
Caca berdiri. Dia bersiap untuk kembali menaiki sepedanya. "Ayo, Ga. Nanti keburu hujan," ajak Caca seraya melihat langit yang mulai mendung.
Rega melakukan hal yang sama. Dia dengan segera menaiki sepeda miliknya juga. Rega sedikit menoleh, karena Caca berada dibelakangnya. "Ca, nanti kalo keburu hujan. Kita neduh di pos ronda di ujung jalan, ya." Rega menyarankan. Caca merespon dengan anggukan kecil.
Keduanya mulai kembali mengayuh sepeda mereka. Seperti apa yang Rega bilang, hujan benar-benar turun bahkan semakin deras. Rega yang sudah berteduh sedikit kebingungan karena Caca tak kunjung datang.
Rega menoleh kesana kemari guna menemukan Caca. Rega akhirnya menemukan keberadaan Caca, ia menggeleng pelan, "Udah di suruh neduh, malah hujan-hujanan."
Rega mendekat. Dia menarik Caca secara sepihak. Membuat Caca sedikit terseret karena langkah Rega yang terlalu cepat.
"Rega, sepeda gue." Caca menggerutu kesal. Dia menatap sepedanya yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan.
"Udah, biarin aja. Nanti juga bisa kita ambil lagi. Lagian, lo gimana sih, udah dibilang neduh dulu, malah hujan-hujanan," ucap Rega kesal, ia menatap manik mata Caca tajam.
Caca menunduk. "Maap, gue suka hujan soalnya."
Rega mengembuskan napas kasar. Ia mengajak Caca untuk duduk. Rega yang melihat Caca masih menunduk, dengan perlahan mengangkat kepala Caca agar menatap dirinya. "Ca, gua tau lo suka hujan. Tapi gua gak bisa biarin lo sakit karena kehujanan. Gua sayang sama lo Ca, jangan hujan-hujanan lagi, ya," ujar Rega tulus. Rega mengusap wajah Caca yang sedikit basah. Caca mengerjap lucu membuat Rega tertawa.
"Ga, itu tadi lo nembak gue?" Caca bertanya dengan polosnya. Dia menatap Rega menunggu jawaban.
"Mana ada. Nembak itu bukan begitu."
"Terus gimana? Coba dong, lo tembak gue."
Rega semakin tertawa, ia mengacak rambut Caca gemas. "Nanti, kalo udah waktunya gue pasti nembak lo."
Caca cemberut, ia mengerucutkan bibirnya. "Waktunya kapan? Lama atau sebentar?"
"Rahasia."
Jawaban Rega yang menyebalkan membuat Caca terdiam. Caca sibuk mengulurkan tangannya guna merasakan dinginnya air hujan. Sesekali Caca mendongak, memperhatikan hujan yang turun dengan begitu derasnya ke bumi.
Maap Ca, gue pengin kita bisa saling kenal dan ngerti tentang perasaan kita dulu. Sekalipun kita udah nikah, tapi tetep aja, gue pengin lo dan gue sama-sama saling cinta dengan tulus, bukan karena kasihan atau rasa suka yang sementara. Jadi sabar ya Ca, gue pasti selalu berusaha buat lo tersenyum. Sampe hari yang lo mau itu datang.
Rega mendekati Caca, ia ikut mengulurkan tangan guna menyentuh tangan Caca. Caca refleks menoleh, dia menemukan Rega yang tersenyum manis. "Marah ya?" tanya Rega. Caca hanya diam.
Rega mendekatkan mulutnya pada telinga Caca, kemudian berbisik pelan. "Jangan marah, nanti cantiknya ilang kalo lo marah. Gue minta maap ya, tapi gue harap lo bisa ngerti, Ca."
Caca mengangguk. Dia juga membiarkan Rega memeluk dirinya dari belakang. Sungguh, ini adalah hujan terindah yang pernah Caca lewati. Caca berharap dirinya dan Rega akan selalu seperti ini sampai kapan pun. Karena pada akhirnya, Caca sadar, bahwa dia mulai terbiasa dengan kehadiran Rega, cowok menyebalkan yang ternyata sudah menjadi suaminya.
***
Jangan lupa votementnya 😊
Makasih 😉
KAMU SEDANG MEMBACA
Suddenly Married [SEGERA TERBIT]
RomansaDisaat cinta itu datang, kenapa cinta masa lalu ikut datang? Dilema itu tengah dirasakan oleh dokter ganteng, Regantara Putra Maheswara. Rega menghadapi sebuah dilema saat seseorang di masalalu nya kembali datang untuk menagih sebuah janji. Akankah...
![Suddenly Married [SEGERA TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/229569004-64-k719107.jpg)