Happy Reading
💙
"Liat deh, lukisan Runa bagus 'kan?" seru seorang anak kecil berumur lima tahun. Dia terlihat begitu menggemaskan dengan hijab marun yang menutupi rambut indahnya, pipi gembilnya yang berwarna putih tertarik menimbulkan senyuman manis hingga menampilkan jajaran gigi susunya yang tersusun rapi.
Salah satu dari dua anak lelaki yang tengah duduk menoleh, memerhatikan lukisan yang baru saja dipamerkan oleh Runa. "Dih, lukisan aneh gitu, dari mana bagusnya."
Anak kecil bernama Runa itu memajukan mulutnya kemudian matanya mulai berkaca-kaca. Dia menoleh, meminta bantuan pada anak lelaki yang lain. "Juna. Raga jahat, dia ngatain lukisan Runa jelek." Runa mengadu seraya menarik tangan Juna. Juna yang terlihat begitu malas akhirnya turun tangan.
Juna menatap Raga, kemudian berujar malas. "Raga, jangan ejek lukisan Runa. Lukisan dia emang jelek, tapi masih ada bagusnya dikit."
Runa tersenyum bangga, dia menjulurkan lidah pada Raga. Pertanda bahwa dirinya menang karena telah dibela.
"Sayang, ini ada Ile sama Nala," teriak seorang perempuan dari dalam rumah. Arjuna dengan cepat masuk kedalam meninggalkan Runa dan Raga.
Runa ingin menyusul Juna, tapi Raga lebih dulu menahan tangannya. "Runa, asal Runa tau aja. Orang suka ngadu gak akan ada yang suka."
Runa lantas menatap Raga. "Mana ada, Raga ngarang. Kata Umi, Runa pasti banyak yang suka. Runa kan cantik, baik, terus gambar Runa paling bagus diantara Juna, Raga, Ile, sama Nala."
"Umi cuma boong. Biar Runa gak sedih. Raga sih denger dari orang, kalo perempuan cerewet itu gak akan bisa jadi pengantin."
Runa menggeleng pelan. "Enggak, Raga pasti boongin Runa. Umi bilang Runa nanti pasti ketemu pangeran, jadi, nanti, Runa bisa jadi pengantin kayak boneka barbienya Runa."
Raga memasang wajah serius. "Itu gak akan terjadi, soalnya Runa cerewet, terus berisik bikin orang kesel sama Runa."
Mendengar ejekan Raga, Runa langsung menangis, dia membuang lukisannya begitu saja. "Huaaa... Umi! Raga jahat. Runa benci sama Raga, Runa gak mau ketemu Raga lagi."
Raga tersenyum puas. Melihat Runa menangis membuat dirinya terlihat begitu bahagia.
Raga mengambil lukisan yang Runa buang. Dia mencoret nama Eric yang tertera pada lukisan berteman prince dan princess lalu mengubahnya menjadi nama dirinya. "Raga gak akan biarin Runa jadi milik siapa pun selain Raga. Karena Runa itu pengantinnya Raga."
"Raga, ayo masuk." Juna memanggil Raga dengan tatapan malas andalannya.
Raga mengangguk seraya menyembunyikan lukisan itu dibelakang tubuhnya.
***
"Sayang, tadi kamu ngapain Aruna?" Caca menoleh, dia memperhatikan putra semata wayangnya yang sibuk melihat sesuatu.
"Raga gak ngapa-ngapain. Runanya aja yang cengeng." Raga menyimpan lukisan Runa kedalam tas miliknya.
"Coba liat mama. Kalo Raga gak boong pasti Raga berani liat mama."
Rega menghentikan mobil yang dia kendarai karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah. Dia terus saja memperhatikan interaksi antara Caca dan Raga.
Raga menatap Caca. "Mama Cantik, Raga gak boong kok, tadi Raga cuma bilang kalo Runa gak akan bisa jadi pengantin karena dia cerewet."
"Loh, kenapa Raga bilang gitu, kasian kan Runanya." Caca menatap Raga. Dia tak habis pikir kenapa putranya ini sangat suka membuat Aruna menangis.
"Biarin, abis Runa ngeselin." Raga cemberut. Dia bersedekap dada sambil melihat kedepan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suddenly Married [SEGERA TERBIT]
RomanceDisaat cinta itu datang, kenapa cinta masa lalu ikut datang? Dilema itu tengah dirasakan oleh dokter ganteng, Regantara Putra Maheswara. Rega menghadapi sebuah dilema saat seseorang di masalalu nya kembali datang untuk menagih sebuah janji. Akankah...
![Suddenly Married [SEGERA TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/229569004-64-k719107.jpg)