Ayahnya, Ayahku juga?

6 1 0
                                    

“Pras, Abyasa tampaknya sedikit aneh. Iya ‘kan?” Zahara memulai pembicaraan ketika Abyasa keluar kelas.

“Kenapa? Karena apa yang terjadi barusan?”

“Itu juga, tapi … hanya kecurigaanku, sih. Dia bergabung dengan klub literasi hanya karena kau.”

“Itu gak masuk akal. Dia gak punya alasan untuk itu.”

“Nah, itu, seprtinya gak masuk akal, bukan?”

"Lebih masuk akal jika karnamu. Bukankah kalian saling suka? Dan dia cemburu karna kau sering bersamaku." Pras sengaja mengatakan itu, berusaha mencari tahu perasaan Zahara saat ini terhadap lelaki yang ia sukai saat kelas sebelas.

"Apaan? Tentu saja hal itu gak benar. Itu sudah lama! Dia ..., lelaki dingin itu, menyukaiku? Kurasa gak benar." Zahara sedikit cemberut.

Mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing, dan melanjutkan bersih-bersih kelas.

***

Terlihat Abyasa sedang mencari sesuatu di ruangan yang penuh dengan buku-buku yang berjejer rapi di rak. Ditelusurinya satu-persatu deretan buku-buku yang berukuran besar dan tebal di rak yang bertuliskan ‘Arsip Angkatan’. Hingga ia menemukan apa yang ia cari, lalu membukanya lembar demi lembar.

                                                              

Sampailah ia pada halaman penuh foto, dipandanginya lama pasfoto yang dibawahnya bertuliskan AYUDIA ELVINA.

Kemudian ia buka halaman selanjutnya, tampak ia memandang pasfoto murid laki-laki. Lantas ia merogoh saku celana yang dikenakan, mengeluarkan foto yang tidak utuh lagi, foto yang menggambarkan seorang pria dan perempuan dewasa yang sedang bersama. Tampak bekas bakaran di pinggiran foto sebelah kiri atas, dan bagian kanan foto terbakar seluruhnya hingga menyisakan dua-pertiga bagian yang masih jelas.

 Abyasa menyandingkan foto itu dengan pasfoto laki-laki yang bernama ADAM KOSASIH. Laki-laki dalam pasfoto itu mirip dengan lelaki dewasa dalam foto yang terbakar.

***

Dari celah pintu yang terbuka, terlihat seorang lelaki paruh baya berkaca-mata sedang menjelaskan pelajaran di depan mahasiswa dalam sebuah kelas. Ia sedang menerangkan sesuatu yang telah ditulisnya di papan tulis.

Sesorang masuk tanpa bersuara melalui pintu yang terbuka, lalu duduk di bagian belakang, di kursi dekat pintu. Ia ikut menyimak pelajaran yang sedang lelaki paruh baya itu berikan.

“Baiklah, bisa kujelaskan pada kalian sekali lagi. Bisa kuhapus ini sekarang?”

“Profesor Adam!” protes para mahasiswa saat lelaki tua itu akan menghapus tulisan di papan tulis. Ia menghentikan aksinya.

“Tunggu! Mengapa dihapus Prof?” lanjut para mahasiswa, saat beliau benar-benar menghapusnya. Tindakannya mendapat gumaman ramai di kelas.

“Saya ingin anda menyimpannya dalam kepala, daripada hanya mencatat dan menghafalnya. Anda bisa menemukan rumusnya, di bagian belakang buku. Hal yang paling penting untuk diingat dalam matematika bukanlah rumus atau penjelasan dari soal yang sudah diselesaikan tapi keingintahuan dan imajinasi. Saya lebih suka anda mencoba berimajinasi di papan tulis kosong ini. Sekarang saatnya menyelesaikan beberapa pertanyaan. Siapa yang ingin menyelesaikan pertanyaan ini?” 

Lelaki yang dipanggil profesor Adam itu menatap mahasiswanya satu-persatu. Namun tidak ada yang berani mengajukan diri. Para mahasiswa pura-pura sibuk melihat buku atau seolah berdiskusi dengan teman di dekatnya.

Nyanyian HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang