Klara langsung saja masuk ke dalam kantor setelah tadi ditinggal oleh Carlos tanpa perasaan.
"Apa lihat-lihat!?" ucap Klara menatap tiga trio gesrek yang memang menatapnya.
Ketiganya langsung tersenyum kikuk setelah ketahuan memperhatikan Klara, sang ular tapi tidak memiliki sisik.
"Tidak ada," jawab Adinda.
"Aku lihat di belakangmu," jawab Mala.
"Coba tatap mataku, apa mataku melihat padamu?" tanya Desi.
Klara memicing menatap ketiga manusia yang dia anggap sebagai sampah!
"Kalian kembali bekerja saja, tidak usah memperhatikan saya!" ucap Klara memerintah layaknya bos.
"Mohon maaf Mbak Kun, pekerjaan kami telah selesai," ucap Desi sambil menahan kekesalannya.
Bisa-bisanya kuntilanak memerintah manusia seperti dirinya, memang dia pikir, dia bekerja di alam barzah apa!?
"Mbak Kun?" tanya Klara dengan menaikkan satu alisnya.
"Itu loh yang make baju putih di belakangnya bolong-"
"Itu sinder bolong sayang," ucap Mala nimbrong.
"Ouh ... salah ya," ucap Desi dengan cengirannya.
"Mbak Kun yang gini loh yang make baju putih tapi dari kaki sampai ujung palanya diikat-"
"Itu pocong, Beb," peringat Adinda.
"Salah lagi," ucap Desi yang sekarang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Layaknya seorang gadis pemalu.
"Mbak Kun-"
"Ah sudahlah! Sayang bisa gila berbicara dengan kalian bertiga," ucap Klara, kemudian meninggalkan ketiga gesrek yang kini saling menatap satu sama lain.
"Lu kok begok banget sih, dari pada anak tk? Masa kuntilanak aja lu gak tahu ciri-cirinya ke apa?" tanya Mala menatap kesal Desi.
"Betul banget. Untung lu temenan sama kami berdua yang gak pilih-pilih mana temen begok dam mana temen yang pintar," ucap Adinda ikut menatap kesal Desi.
"Ye kan sama warna bajunya jadi wajar ada kesalahan teknis saat menyebutkan ciri-riri mereka. Lagian pocong, sinder bolong sama kuntilanak juga sudaraan jadi beda tipislah," jawab Desi membela diri.
"Coba lihat muka kita berdua!" ucap Mala dan Adinda serentak.
Mendengar perkataan dua sahabatnya, Desi dengan polosnya menatap kedua wajah sahabatnya.
"Apa kami peduli?" tanya keduanya kembali bersuara serentak.
'Asem gue dikerjain!' bantin Desi mengubah ekspresi serius menjadi jengkel.
"Ayo ke pantri katanya mau buat kopi," ucap Adinda.
"Males gak mood," jawab Desi sewot.
"Eleh sok sewot lu, Neng." Mala menjawab perkataan sewot Desi dengan mencolok dagu Desi yang tentunya dihempas cantik oleh Desi.
"Alemong ngambek dia," ucap Adinda.
"Ayo cepetan ih," ucap Adinda kembali dengan menarik tangan Desi yang dibantu oleh Mala.
Dengan malas-malasnya Desi mau tidak mau tetap ikut ke pantri kantor untuk membuatkan kopi untuk dirinya sendiri.
"Ngapain sih kita buat sendiri, kan ada OB tinggal suruh mereka gampang!" ucap Desi masih dengan suara sewotnya yang kini sudah berada di dalam pantri kantor.
"Kita ini mandiri jadi bisa buat sendiri, kasihan OB banyak kerjaan apalagi kalo lu nambah minta buat kopi makin capek mereka," ucap Mala sambil menuangkan kopi yang memang sudah ada dalam wadahnya hanya perlu menuangkannya saja, kopi sudah ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuan Muda Rese (On Going)
RomansaAku tidak pernah menduga bagaimana hidupku bisa bertemu dengan pria yang kaya raya tapi sayang tingkahnya yang rese membuat aku ilfil padanya. Aku bahkan sangat-sangat membencinya. ~Maharani Putri~ Aku senang bertemu dengan gadis itu, setiap...
