Harris Vriza : Astaga!!! Kamu berdosa banget
Risky Billar : Tapi kamu suka, kan?
Harris Vriza : Apaan dah, siapa bilang aku suka
Risky Billar : Tuh kamu nahan senyum
Harris Vriza : Mana ada woy *sembari ngacir karena malu pipinya blushing
Risky Bill...
Beberapa kali aku menyumpah serapah suara perempuan yang keluar dari Google Maps, “belok kiri 3 ratus meter”, “belok kanan 2 ratus meter”, aku yang samasekali gak kenal wilayah ini berusaha taat, patuh, dan percaya pada arahan Google Maps meskipun gak terlalu percaya, karna takut murtad. Hehe. Kata ibu percaya cuma sama Tuhan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Google Maps harapanku satu-satunya sekarang, setelah dibuat putus asa oleh petunjuk buibu berdaster yang abis ditanya malah bilang “belum pernah denger nama kosan itu”, aku berusaha menahan diri untuk tidak berputus asa lalu mebaringkan diri di tengah jalan, aku masih berusaha yakin pada Google Maps akan membawaku pad tujuan, Google Maps lebih bisa dipercaya daripada nanya sama abang-abang random di pinggir jalan tadi, malah disuruh “maju-mudur, maju-mundur, cantik” kan jadi baper akunya, nggak ding.
“Belok kanan putar balik”, petunjuk arahnya sama sekali gak akurat, aku malah pusing bolak balik di derah ini, kalau gak salah udah 4 kali, dan kosan bernama HIBER yang kemaren aku nemu di internet gak ketemu, atau mungkin kosan itu udah dialihfungsikan ya? Aku membatin. Di sekitar titik lokasi yang ditunjukkan Google Maps itu aku mencari-cari bangunan yang menyerupai kosan, dan gak ada!
Aku bunuh, eh matikan maksudnya, sepeda motorku, lalu turun dari motor dengan ransel besar di punggung, sambil mengedarkan pandangan, ada rumah-rumah besar di sekitar, ada mesjid besar di ujung sana, mataku belum menyerah menyisir area sekitar, siapa tau ada plang bertulis Hiber yang ketutupan sesautu atau kealingan sampe gak keliatan.
Tiba-tiba ada sebuah motor gede yang melaju ke arahku, aku panik dong, untung udah bekal kain kafan di ransel, nggak deng, motor itu berhenti tepat satu meter dari posisiku, dengan suara rem berdecit, gilak! dalam hati aku mengumpat “anjim”, aku melotot ke arah orang itu, tak lama pria itu membuka helm fullface nya, eh dia malah senyum, nyengir, pasang wajah innocent, kayak gak punya salah, seneng banget bikin orang panik setengah mati.
Btw, senyumnya lumayan sih, bikin adem, tipikal senyum jail, bukan senyum psikopat, tanpa basa-basi-busuk dia nanya “nyari siapa, dek?” suaranya bariton, kayak suara Qorygore.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku masih dalam masa transisi sejenak mencerna pertanyaan orang yang barusan mau ngelindes aku.”Nyari kosan”. Jawabku sambil membuang pandangan ke arah lain. Rasa kesal masih meronta-ronta di dada. Untung cowok ini luamayan cakep, dengan rambutnya lumayan panjang, bergelobang, celana chino abu-abu, kemeja flanel ditutup jaket hitam, luamayan stylis, kayak pekerja lamtor kekinian.
“di sini banyak kosan, itu kosan, itu juga kosan, di belakang sana juga kosan, di ujung sana juga kosan,” jawabnya santai.
“Oh” jawabku singkat.
“Oh doang?” dia makin menyebalkan.
“Lah terus gimana? Aku harus exited? lalu teriak teriak histeris karna denger dimana-mana ada kosan?” aku makin gak paham sama orang ini. aku jawab nyolot, dia malah makin ketawa ngeliat responku.
“Malah ketawa” aku bersungut kesal.
“Kamu lucu” pria itu menggumam samar.
“Apa? Aku denger ya”
“Ya udah, kayaknya kamu masih marah karena hampir aku tabrak tadi, hahah, kos yang kamu cari namanya kosan apa?” kayaknya kali ini dia serius.
“Hiber, tapi dari tadi aku aku keliling-keliling liat sekitar sini gak ada yang namanya Hiber,” jawabku hopeless.
Tanpa bilang apa-apa, sekonyong-konyong pria itu menarik lenganku, aku tepis dong, kayaknya udah gak bener deh orang ini “eh apa apaan narik-narik?” aku mundur beringsut.
“Udah, ayok abang anter ketemu pemilik kosnya, abang juga kos disana, liat tuh nama kosannya HIDUP BERSAMA disingkat HIBER.” jawabnya menoleh ke belakang, ke arahku, reaksaiku cuma bisa membentuk huruf O, tanda paham. Aku berjalan beriringan, langkahnya panjang-panjang, badannya lebih tinggi dariku, padahal aku merasa badanku udah lumayan tinggi selama ini.
Sembari berjalan tiba-tiba dia bilang “Aku Nikki Frazetta, panggil aja Nik,” yap itu artinya dia ngajak aku kenalan, nanya nama aku, dan aku gak pelu baper, itu hal basic dalam hubungan sosial semacam ini “Aku Harris Illano Vriza, panggil aja Harris,”. Setelah itu tak ada obrolan lagi.
Kami memasuki rumah pemilik kosan, rumahnya cukup besar, berpilar kokoh, berlampu terang, arsitekturnya tipikal modern, halamannya luas, garasinya juga luas, ini udah kayak rumah sultan. Pemiliknya dipanggil mami Tiara, tipikal ibu-ibu sosialita gitu, masih cantik, padahal jam besar di dinding sana udah nunjukin pukul 18.00 wib, tapi make up, hair do, dan bulu matanya masih ON.
Pria di sebelahku ini kayaknya akrab banget sama wanita itu, mebgobrol lepas, tertawa cekikian, setelah ditanya-tanya, asalku dari mana dan ngekos buat apa, akhirnya aku nyerahin beberapa berkas, kayak kartu identitas dan semacamnya, lalu aku dianter ke kosan yang letaknya ada di sebelah kiri rumah besar ini.
Kosan Hiber ini berlantai dua, memang posisinya gak terlalu kentara, karena bangunannya memanjang ke belakang,nama kosannya yang terbentuk dari cor-an semen pun memang gak terlalu keliatan kalau diliat dari depan, karena ditumbuhi bunga-bunga menjalar. Ada sepuluh kamar kos, cukup besar tiap kamarnya, udah dilengkapi kasur, dapur, kamar mandi masing-masing, ada juga kamar mandi dan toilet umum kalau yang di kamar airnya macet.
Sesampainya di depan pintu kamar kos yang dituju, kak Nikki nyerahin kunci pintunya ke aku, digapainya tanganku yang sebelah kanan, lalu meletakkan kunci itu di sana, “ini kuncinya, kalau butuh apa-apa bilang aja ke abang, abang tinggal di kamar kos sebelah, apa mau dibantu beres-beres?” unpredictable! di mataku, pria ini kayak gak bisa ditebak gitu. Kadang bikin kesel, dalam waktu singkat berubag jadi ramah banget kayak gini.
Duhh pusinglah dede...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini ilustrasi kosan, di nomor satu kamarnya Harris, Nomor 2 kamarnya anak pemilik kos , kamarnya Nikki di sebelah kamar Harris. Uwuuuu gemeshh