Peristiwa tak Terduga

678 45 18
                                    

Sekitar pukul 11 siang aku pulang ke kos dalam keadaan babak belur, compang-camping kayak gelandangan, kos sepi, gatau pada kemana.
Di tangga menuju lantai atas aku ngeliat  si Verrel lagi duduk sendirian, kayak lagi termenung, melihat wajah suntuknya, mending jangan disapa deh, daripada kena semprot, kayaknya dia masih kesal soal ledekan semalam, hahah, lebih baik aku cepat ke kamar lalu kompres lebam-lebam di mukaku ini.

Di anak tangga ke sekian, ia mendongakkan kepalanya, sepertinya heran melihat wajahku yang babak belur kayak maling motor habis dikeroyok warga. Tapi dia diem aja, hanya matanya yang menyiratkan keharanan.

Dan aku pun memilih melewatinya tanpa banyak cingcong.

Tiba-tiba ketika kakiku mencapai anak tangga mendekati lantai atas, Verrel bersuara.

“Kenapa muka lu, Ris” tanya dia tanpa menolehkan kepalanya ke arahku.

“jatoh tadi” jawabku bohong, biar gak dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Aku masuk kamar, tenyata Verrel ngikutin dari belakang, dia ikut masuk ke kamarku.

Tanpa permisi dan basa basi busuk dia sekonyong-konyong duduk di pinggir kasurku. Sedangkan aku masuk ke kamar mandi bersihin darah di pelipis dan ujung bibir. Ketika aku keluar dari kamar mandi ternyata Verrel udah bawa kotak P3K, entah bawa dari mana.

“Jatoh, tapi posisi lukanya aneh banget” komentarnya melihat wajahku.

“Ini namanya jatoh dengan cidera versi lebih kreatif.” jawabku ngasal. Verrel buru-buru buka kotak P3K, buka tutup botol Betadine, cutton buds, dan plaster luka.

“Sini gue bantu” instruksi Verrel menarik wajahku ke hadapannya, dengan sembrononya ia menyocolkan cutton bud yang udah berlumur Betadine ke luka di pinggir bibir ku.

“Fa*kkk... Perih, pelan-pelan bego” keluhku gatau diri, udah untung dibantu temen kos. Dasar gue.

“Cengeng anak mami, gini aja kesakitan” jawabnya semena-mena.

“Dengan kulit lu yang bening-glowing-shining-shimering-splendid itu, pasti belom pernah kerja kasar dan belom pernah tergores sedikitpun, makanya ngomong gitu” jawabku ngasal.

“Emang kulit aku segitunya ya? Pantesan Riza sering komen bilang kulit aku kayak cewe.” Verrel menjambak rambutku untuk membuat mulutku agak terbuka, biar dia bisa ngbatin luka di bagian bibirku yang agak dalam. Brutal banget cara anak ini ngobatin orang.

“Lu tuh masih baru di kota, Ris. Jangan salah pergaulan. Jangan nakal begajulan!!! Liat nih, baru beberapa hari, muka udah bonyok.” kata Verrel menasihatiku. Sok bijak banget bocil ini. Aku membatin.

“Enak aja, aku ini jadi korban pemukulan salah alamat yaa” jawabku membela diri.

“Gimana bisa, salah alamat gimana, Ris?” telusur Verrel.

“Iya, tadi di bus ada sepasang kekasih yang berantem kebucinan gitu. Terus cewenya di-sexual harrasmen atau semacam dilecehkan gitu sama kakek-kekek-tua-bangka-bau-tanah-kuburan yang duduk di sampingku. Of course cewe itu gak akan ngira kalau kalau kakek mesum itulah pelakunya, dan dugaannya malah mengarah ke aku, mendarat deh belasan kali tonjokan pacarnya di muka gue.” Aku mencoba menjelaskan.

“Miris banget idup lu Ris. Pasti banyak dosanya lo sampe dapet kejadian kayak gini.” Jawabnya sembarangan.

“Enak aja lambemu!!!” Aku toyor kepalanya. Kini tangannya berpindah mengolesi obat ke luka yang di pelipisku.

Setelah ngobrol panjang lebar. Sampe malem Verrel di kamarku. Beberapa kali handphone Verrel berdering, ada beberapa chat masuk dari Riza. Aku gak sempat liat isinya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 13, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Heart You Hurt | Hati Yang Kau Sakiti (BoysLove)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang