5 | Manusia

20 3 0
                                        

AKHIRNYA, Tara menangis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

AKHIRNYA, Tara menangis.

Setelah melakukan debat internal di sudut kamar, air matanya sukses tumpah. Ada beribu pertanyaan tercetus, salah satunya adalah : mengapa ia dilahirkan dalam bentuk seperti ini? Ia amat teramat sangat memimpikan untuk menjadi seperti kebanyakan cowok seangkatannya yang memiliki bentuk tubuh "ideal", dan juga kulit kecokelatan yang kata Panca memang wajib dimiliki laki-laki. Karena, masih kata Panca, jika putih layaknya Tara berarti laki-laki tersebut malas untuk bekerja ; baiknya di rumah saja memasak nasi.

Termakan oleh omongan sekitar, Tara pernah melakoni diet ekstrem dengan hanya makan sekali sehari dilanjut berlari di treadmill. Setiap kali makan, porsinya benar-benar sedikit. Sampai-sampai ia memuntahkan kembali makanan yang barusan ia santap karena rasa bersalah sudah melanggar janjinya sendiri untuk diet. Manakala matahari masih bersinar, ia selalu berjemur di bawahnya. Sekadar bermain ponsel atau membaca komik. Ia baru berhenti ketika ibunya berteriak dari dapur, meminta untuk segera masuk sebab punggungnya yang sudah menyerupai sang ayah usai kerokan.

Sia-sia saja tadi ia memutar lagu Rehat milik Kunto Aji dengan mode repeat, nyatanya curug di matanya tetap lancang keluar. Ia benci menjadi lemah. Sudah cukup di sekolah saja ia bertingkah seperti anak itik yang butuh induk, menerima segala perlakuan dan perkataan mereka yang disebut "teman".

Menangis adalah tanda bahwa laki-laki sudah mencapai titik paling lemah. Itu kata ayahnya.

Tara tidak pernah dan tidak pernah ingin menangis, setidaknya tidak jika di depan orang lain. Kata ayahnya lagi, menangis hanya diperuntukkan bagi siapa pun yang lemah dan kalah, manusia kuat tidak akan menangis.

Tapi sudah berapa kali ia dengan ceroboh membiarkan dindingnya runtuh di balik dinding kamar hampa ini?

•••


MANUSIA adalah makhluk yang rumit. Kalimatnya tidak bisa dipegang. Jika kemarin mengatakan A, sekarang sudah berganti ke B, dan besok C, hingga semua alfabet dilahap habis.

Ia seharusnya tidak usah percaya permintaan maaf Putra kemarin. Putra tentu tidak mau egonya tergilas dengan meminta maaf pada seseorang yang sepanjang waktu ia anggap inferior. Hal seperti itu justru malah membuatnya ingin mengambil alih lagi superioritasnya yang terampas hanya karena satu kata maaf. Tujuannya bisa diraih dengan satu cara : kembali "menghabisi" Tara, dua kali lipat.

Sudah beberapa kali Dewinta menyarankan untuk melaporkan tindakan Putra ke BK —lagi. Tapi tetap saja Putra dan gengnya masih punya keleluasaan untuk melakukan perundungan. Padahal saat itu sudah beredar rumor jika ia hendak dikeluarkan dari Antariksa, dan ternyata dari setahun lampau sampai kini itu hanya rumor. Entah bagaimana. Privilese, mungkin. Kedua orang tua Putra memang berpunya, seringkali cowok itu mentraktir semua murid di kelas —bahkan Tara sendiri. Bisa dibilang cara ampuh Putra menggaet teman adalah dengan status tersebut.

Sialan, rutuk batin Tara. Apa selesai menangis memang menimbulkan untuk selalu membuat asumsi-asumsi seperti ini meskipun kejadiannya sudah berlalu kemarin malam?

"Gimana, Tar, rasanya jadi anak emas guru?" Seringai Putra yang pertama kali menyambutnya di kelas pagi itu. "Enak ya jadi tukang ngadu?"

Dalam kamus ajaran ayahnya, jika ada yang menghinamu, maka lawan. Namun beda versi di sang ibu yang mengatakan jika mendengarkan omongan orang adalah tindakan yang bodoh, apalagi sampai terbawa emosi. Perbedaan cara mengajar antara kedua orang tuanya acapkali mencipta kebingungan di benak Tara. Lagipula menurutnya dua cara tersebut sama-sama benar.

"Kenapa, Tar? Bisu?" cemooh Elang di belakang Putra.

"Bukan dong, Lang. Kan, nggak ada Dewinta ataupun guru yang lewat sini, jadinya dia nggak bisa ngomong apa-apa." Putra, pomade, seringai, dan cemoohan. Empat hal yang susah untuk dilepaskan. Salah satu alisnya yang tebal terangkat. "Bener kan, Tar?"

Tak bisa menampik, Tara hanya diam. Hendak melengos pergi saat tangan Putra tiba-tiba melekat di kedua sisi bingkai pintu. Mencegahnya masuk.

"Oh-ho-ho, nggak segampang itu, Antara," ucap Putra, masih memamerkan deret giginya lewat senyum miring. Kepalanya menoleh kanan-kiri, seringainya musnah entah kenapa. "Masuk." Nada itu tajam, sarat perintah yang wajib untuk dipatuhi.

Di tempatnya, Tara masih bergeming. Seolah masih berusaha mencerna kalimat Putra yang sebenarnya terang-benderang.

"Masuk, jancok," desis Putra dengan menekankan setiap suku kata.

Akhirnya Tara mau saja menuruti kalimat Putra, lagi pula tujuannya sendiri adalah segera masuk kelas, duduk di kursi dengan bertumpu tangan, sedang kepalanya sibuk melamunkan tentang kesialan-kesialannya. Jika ada yang mengatakan bahwa hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama, maka Tara sudah melabeli dirinya sebagai binatang yang dianggap bodoh tersebut. Sebab kini dirinya nyaris jatuh lagi karena tidak pernah awas dengan Elang yang terkenal punya kebiasaan untuk menjegalnya tiap berjalan.

"Kalau masih ngantuk tuh tidur, ngapain sekolah, Tar?"

Tara tidak menggubris. Kakinya tetap melangkah menuju tempat duduknya di barisan kedua dari depan.

"Eh, Put, songong banget dia nggak jawab kita?" seru Elang, masih di ambang pintu bersama Putra.

"Yoi, Lang. Belagu banget, lagian dia nggak berani apa-apa kalau nggak ada Dewinta ataupun guru," balas Putra. Tangannya bersedekap dengan angkuh.

Dalam hati, Tara mencibir. Tapi ia juga tidak bisa mengelak bahwa apa yang dikatakan Putra barusan adalah fakta. Dia cuma cowok lemah yang butuh orang lain sebagai tameng. Sekali lagi air matanya mencoba menerobos keluar. Sebisa mungkin peristiwa yang malah membuat Putra dan Elang makin berjemawa itu ia tahan. 

Mungkin ia adalah buku terbuka, dan orang-orang bisa membaca apa yang ia rasakan melalui air mukanya dengan mudah. Sebab suara Elang yang penuh celaan  lagi-lagi terdengar, "Duh, jangan nangis, Tar. Cowok apaan lo nangis kayak Princess Disney?"

Iya, cowok memang dilarang mengeluarkan air mata. Itu yang sepanjang waktu diajarkan oleh lingkungannya : menekan emosi yang bernama sedih untuk tidak pernah muncul ke permukaan hanya karena ia adalah laki-laki. Mengajarinya untuk tidak menjadi manusia. Karena sejatinya, emosi —positif maupun negatif— merupakan hal yang dirancang untuk ada dalam setiap diri manusia. Tapi Tara —dan orang-orang lainnya— agaknya terlalu dibutakan dengan stereotipe mengungkapkan kesedihan sama halnya dengan berlutut di puncak kegagalan menjadi manusia.

Meski sebenarnya yang ia percaya adalah salah.

Perfeksi ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang