Nyai Dukun Sirah duduk di singgasananya yang terbuat dari kursi kayu besar berukir indah sambil memegang sebuah tongkat yang ujungnya terdapat tengkorak kepala manusia. Beberapa buah lonceng kecil bergantung di bawah tengkorak itu. Sehingga bila tongkat itu bergerak-gerak, maka terdengar suara gemirincing.
Wajah wanita tua itu berkerut. Sesekali dia mendengus geram. Orang-orang yang berada di depannya tidak ada yang berani bersuara. Kebanyakan dari mereka tertunduk, diam seribu bahasa.
"Tolol! Goblok.! Apa kerja mereka disana, he?!" umpat Nyai Dukun Sirah geram sambil mengetuk-ngetukkan tongkat ke lantai. Sepasang mata wanita itu melotot garang. Sehingga urat-urat berwarna merah yang memenuhi biji matanya terlihat jelas.
"Laporkan padaku, apa yang kau peroleh?" tanya Nyai Dukun Sirah pada laki-laki setengah baya yang duduk bersimpuh di depan singgasananya.
"Mereka menguasai dua desa dalam waktu singkat. Orang-orang kita ditawan dan tidak berdaya. Menurut laporan, mereka akan menyerang Desa Jembrang...."
"Kurang ajar...!" maki wanita tua itu kembali seraya menghentak hentakkan tongkatnya ke lantai. Matanya semakin mendelik garang. Hela napasnya terdengar kasar, menandakan hatinya yang amat gusar karena memendam amarah.
"Nyai... Desa Pandak yang telah dikuasai mereka merupakan jalan utama menuju kadipaten. Dan kini mereka telah bersatu. Kalau kita tidak cepat menggempur mereka, maka Desa Jembrang akan kembali mereka rebut. Apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya laki-laki setengah baya yang bersimpuh di depannya itu.
"Huh! Jadi semua ini karena ulah pemuda itu?! Pendekar Rajawali Sakti? Chuih! Dia belum tahu kekuasaanku, he?!"
"Gajah Seta dan Rompang Wiguna tidak kembali. Kuat dugaan kami, mereka gagal menjalankan tugas. Nyai harus berbuat sesuatu untuk mengatasinya..."
"Tutup mulutmu, Gendar?! Sejak kapan kau berani mengajariku?! "
Laki-laki setengah baya bernama Gendar itu langsung menunduk, setelah tersentak kaget mendengar bentakan majikannya.
"Ampuni aku, Nyai..."
"Huh! Kau semakin kurang ajar saja! Seharusnya kau kuhukum mati!"
"Ampun, Nyai...! Ampun...! Aku berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi...!" ratap Gendar seraya bersujud di depan kaki wanita tua itu.
"Masih untung jasamu banyak terhadapku. Sehingga, aku masih menyayangi jiwamu. Tapi sekali lagi kau berani mengguruiku, tak ada ampun bagimu!"
"Aku berjanji, Nyai!" sahut Gendar cepat.
"Sudah, kembali ke tempatmu!" bentak wanita tua itu.
Gendar langsung beringsut mundur ke belakang, dan mengambil tempat duduk di barisan sebelah kiri.
"Kalian bertiga, ke sini!" tunjuk Nyai Dukun Sirah.
Tiga orang segera menuju ke depan. Setelah menjura hormat, mereka duduk bersila di depan Nyai Dukun Sirah. Seorang bersenjata tombak dan bertubuh gemuk. Namanya, Bagor Suta. Yang berada di tengah adalah wanita berusia kurang dari tiga puluh delapan tahun. Dia bernama Nyai Laning. Tubuhnya kurus dan kedua pipinya cekung. Di pinggangnya terselip dua buah kapak yang biasa dipergunakan untuk menebang kayu. Orang ketiga bernama Ki Semplung. Tubuhnya kurus senjatanya berupa cambuk. Usia mereka rata-rata tidak jauh berbeda.
"Kalian tahu, apa yang telah terjadi, bukan?" tanya Nyai Dukun Sirah.
"Tahu, Nyai!"
"Bagus! Pemuda bergelar Pendekar Rajawali Sakti itu telah menghinaku. Dia menginjak-injak mukaku! Pergilah! Dan temui dia di Desa Dukuh Barus! Penggal kepalanya, lalu persembahkan padaku!" perintah Nyai Dukun Sirah dengan nada berang.
"Beres, Nyai! Itu urusan kecil!' Bagor Suta menunjukkan jari kelingkingnya.
"Bagus! Kau ingat kata-katamu, Bogar? Bila kau kembali dengan tangan hampa, maka kepalamu yang akan menggantikannya!"
"Huh! Segala anak bau kencur mau bertingkah! Tidak usah khawatir, Nyai. Tenangkan saja hatimu. Kami akan kembali membawa kepalanya!" sahut Bagor Suta, kembali meyakinkan majikannya.
"Nah! Kalau begitu, pergilah kalian sekarang! Bawa anak buah secukupnya jika kalian berhadapan dengan pasukan kadipaten!"
"Hm, kurasa hal itu tidak perlu. Kami masih mampu mengatasi mereka!' kali ini Ki Semplung yang menyahut.
"Benar, Nyai! Kami bertiga sudah cukup untuk mengatasi mereka!" tjmpal Nyai Laning.
"Aku percaya pada kalian. Pergilah sekarang!"
"Kami berangkat, Nyai!" ujar mereka serempak. Dan ketiganya segera beringsut, lalu berlalu dari ruangan ini.***
Seorang laki-laki gagah berpakaian panglima turun dari punggung kudanya. Memang setelah menerima laporan dari salah seorang penduduk Desa Dukuh Barus, Adipati Rapaksa memerintahkan panglimanya yang bernama Kertapati untuk menemui Pendekar Rajawali Sakti. Panglima yang dipercaya memimpin pasukan kadipaten ini memberi hormat, lalu duduk di dekat pemuda itu.
"Apa kabar, Panglima? Adakah sesuatu yang kau bawa untukku?"
"Kanjeng Adipati berkenan memenuhi keinginanmu. Beliau senang sekali mendapat bantuan darimu. Makanya hari ini aku membawa pasukan untuk menyerbu desa-desa yang dikuasai anak buah Nyai Dukun Sirah... "
"Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan junjunganmu. Lalu berapa jumlah pasukan yang kau bawa saat ini?" ucap Rangga.
"Lima puluh orang, Rangga!"
"Hm? Jumlah anak buah Nyai Dukun Sirah sekitar dua puluh lima orang. Kurasa, kita bisa menyapu bersih mereka hari ini."
"Kami akan senang sekali jika kau bersedia ikut."
"Tentu! Aku akan ikut dengan kalian. Bahkan aku punya rencana lain."
"Rencana apa, Rangga?"
"Salah seorang mata-mata yang kukirim mengatakan, dua desa lainnya yang dikuasai anak buah Nyai Dukun Sirah, yaitu Desa Gelagah dan Desa Tandon, memiliki jumlah yang sama."
"Apakah kita akan merebut dua desa itu pula?"
"Desa Gelagah tidak begitu jauh dari Desa Jembrang yang juga telah dikuasai Nyai Dukun Sirah. Desa itu sangat penting, sebab merupakan jalan termudah dan terdekat menuju ibukota kerajaan. Desa itu harus dikuasai, meski bagaimanapun caranya!" tandas Rangga.
"Aku setuju!" sahut Panglima Kertapati bersemangat.
"Rangga, aku ada pertanyaan..." cetus Badin.
"Ada apa, Sobat?"
"Apakah hal ini tidak terlalu berbahaya?"
"Maksudmu?"
"Kita menyerbu anak buah Nyai Dukun Sirah di desa lain. Dan sementara kita pergi, mereka akan datang lalu menguasai Desa Dukuh Barus ini!"
Namun sebelum Rangga menjawab, mendadak salah seorang penduduk desa yang berjaga-jaga di halaman depan masuk dengan napas memburu.
"Rangga, salah seorang penduduk yang berjaga-jaga di atas pohon tinggi memberitahukan kalau kita akan kedatangan tamu," lapor orang itu setelah menjura hormat.
"Apakah mereka anak buah Nyai Dukun Sirah?"
"Mungkin."
"Berapa jumlah mereka?"
"Tiga orang."
"Tiga orang?" Panglima Kertapati tampak bingung mendengar berita itu.
"Apakah mereka tidak jadi menyerbu kita? Atau, Nyai Dukun Sirah menganggap sepele?" lanjut Badin dengan wajah tak percaya.
"Nyai Dukun Sirah mungkin tidak menganggap sepele. Bahkan menganggap tinggi terhadap kita...," sahut Rangga disertai senyum kecil.
"Maksudmu...?" tanya Badin dan Panglima Kertapati, nyaris bersamaan.
"Setelah kehilangan dua orang kepercayaannya, maka sudah barang tentu dia marah besar. Sehingga sampai mengirim tiga orang ini."
"Apakah kau beranggapan kalau mereka orang kepercayaan Nyai Dukun Sirah?" tanya Badin.
"Tentu saja. Tidak mungkin Nyai Dukun Sirah mengirim utusan yang memiliki kepandaian rendah dari dua orang yang terdahulu," sahut Rangga enteng.
"Tapi, kenapa tidak dia saja yang datang sendiri?" tanya Badin lagi.
"Entahlah. Mungkin wanita itu punya rencana lain. Sebaiknya, kita keluar. Sebab tidak baik membiarkan tamu menunggu lebih lama," ujar Pendekar Rajawali Sakti. Setelah berkata begitu, mereka segera mengikuti Pendekar Rajawali Sakti yang beranjak ke beranda depan.
Apa yang dikatakan si pelapor tadi memang benar. Dari kejauhan, terlihat tiga orang penunggang kuda yang melarikan tunggangannya dengan kecepatan tinggi. Sehingga, terlihat debu mengepul ke udara.
Rangga melangkah beberapa tindak ke halaman depan, diikuti Badin serta Panglima Kertapati dan beberapa pemuda desa ini yang selalu mendampingi.
Ketiga penunggang kuda itu berhenti pada jarak tujuh langkah. Sama sekali mereka tidak bermaksud turun dari punggung kudanya.
"Siapa di antara kalian yang bernama Pendekar Rajawali Sakti?" tanya salah seorang yang berada di tengah.
Rangga memperhatikan seorang wanita yang barusan bicara sesaat. Wanita ini tampak angkuh dan betul-betul menganggap sepi kehadiran mereka di sini. Padahal di halaman depan ini telah berkumpul lima puluh orang prajurit kadipaten dengan senjata lengkap.
"Akulah orangnya. Siapa kalian?" sahut Pendekar Rajawali Sakti.
"Orang menyebutku Nyai Laning. Dan di sebelah kananku, Bagor Suta. Sementara di sebelah kiriku, Ki Semplung. Kuperintahkan atas nama Nyai Dukun Sirah, agar kalian menyerah! Jangan sampai kami menggunakan kekerasan!"
"Kurang ajar! Perempuan lancang! Apa hakmu bicara seperti itu?!" bentak Panglima Kertapati, geram.
"Tenanglah, Panglima. Biar kuselesaikan urusan ini...," ujar Rangga menahan kemarahan panglima kadipaten ini.
Panglima Kertapati bersungut-sungut kesal mendengar kata-kata Nyai Laning yang angkuh dan takabur. Kalau saja Pendekar Rajawali Sakti tidak mencegahnya, ingin rasanya dia merobek mulut wanita itu.
"Nyai Laning. Permintaanmu terlalu gegabah. Dan kami sekali sekali tidak bermaksud menyerah. Sebaliknya, kaulah yang harus sadar kalau Nyai Dukun Sirah bukanlah orang baik-baik. Dia dan semua pengikutnya telah menindas rakyat. Bahkan telah menimbulkan kekacauan di daerah ini. Orang sepertinya sudah patut mendapat hukuman...," sahut Rangga tenang.
"Kurang ajar! Pemuda lancang! Jangan sok mengguruiku! Kau kira, siapa dirimu berani bicara seperti itu?!" geram Nyai Laning.
"Nisanak! Aku hanya memberi kesempatan sekali. Dan sekarang, masih ada kesempatan untuk bertobat," sahut Pendekar Rajawali Sakti, enteng.
"Setan! Tutup mulutmu...!" bentak Nyai Laning. Begitu selesai berkata begitu, Nyai Laning melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti.
"Heaaa!"
"Mundur...!" teriak Rangga pada orang-orang di belakangnya. Seketika Pendekar Rajawali Sakti berkelebat, memapak serangan Nyai Laning.
Plak! Plak!
Wuuut!
Tendangan Nyai Laning berhasil ditepis Rangga dengan tangan kiri. Namun wanita itu langsung menyodok kepala lewat kepalan tangan kirinya. Rangga sedikit menunduk, sehingga pukulan itu hanya mengenai tempat kosong.
Pada saat yang bersamaan, Nyai Laning menghantam Rangga dengan pukulan bertenaga kuat dalam jarak yang amat dekat. Namun Pendekar Rajawali Sakti telah menduga. Buru-buru tubuhnya berkelebat ke samping. Dan seketika itu pula dikerahkannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' untuk balas mendesak.
"Yaaat...!"
Bet! Bet!
"Uhhh...!"
Untuk sesaat Nyai Laning terlihat kewalahan menghindari serangan-serangan gencar Pendekar Rajawali Sakti yang seperti melayang di udara. Nyai Laning berkelit mati-matian sambil mendengus geram. Dia melompat kebelakang untuk menyiapkan jurus baru. Namun Rangga tidak memberi kesempatan dan terus mengejar dengan kakinya yang terus mengibas.
Wanita itu kalah sigap. Cepat tubuhnya berkelit kesamping, seraya menangkap kaki Pendekar Rajawali Sakti. Dan seketika itu pula, disentaknya kaki Pendekar Rajawali Sakti.
"Hiiih!"
Pada saat Rangga mengikuti sentakan itu, Nyai Laning mengejar sambil menghantam lewat keprukan tangannya yang bertenaga dalam tinggi. Sasarannya batok kepala pemuda itu. Cepat bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti berkelit kekanan. Langsung ditangkisnya keprukan itu.
Plak!
Belum sempat Nyai Laning berbuat sesuatu, cepat sekali tangan Rangga bergulir kebawah. Langsung dihantamnya perut wanita itu.
Des!
"Aaakh...!" Nyai Laning memekik keras. Tubuhnya terhuyung-huyung kebelakang sambil mendekap perutnya yang terasa mau meledak.
"Jahanam...!" maki wanita itu geram. Nyai Laning melotot garang. Wajahnya tampak berkerut menyeramkan. Langsung sepasang kapak yang terselip di pinggangnya dicabut.
"Minggir! Aku masih mampu meladeni keparat ini!" bentak Nyai Laning garang ketika kedua kawannya melompat dari punggung kuda dan bermaksud membantu.
"Tapi, Nyai..."
"Minggir kataku! Huh! Menghadapi kunyuk ini aku masih belum memerlukan bantuan!" potong Nyai Laning, membentak kedua kawannya yang bernama Bagor Suta dan Ki Semplung diam saja. Sementara Nyai Laning mendengus geram, lalu membuka jurus baru. Sedangkan Rangga telah bersiap menyambut serangan.
"Hiiih!" Kapak di tangan wanita itu berkelebat cepat, dibarengi tenaga dalam kuat. Rangga merasakan bahwa serangan itu sungguh hebat. Mau tak mau Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa menganggap enteng. Maka tubuhnya cepat melejit ke atas. Se-telah berputaran beberapa kali, tubuhnya kembali menerjang dengan menggunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa', sebelum Nyai Laning menyerang kembali.
"Yeaaat!"
Bet!
Nyai Laning menyambut serangan dengan sabetan kedua kapaknya. Namun mendadak tubuh Pendekar Rajawali Sakti menarik serangannya. Tubuhnya langsung meliuk-liuk menghindari sabetan kapak. Bahkan Pendekar Rajawali Sakti balas menyerang secara tidak terduga, lewat sepakan kaki. Dan ini membuat Nyai Laning sampai kalang kabut, menghindarinya.
Nyai Laning cepat mengibaskan kapaknya. Namun Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba saja berkelebat cepat, langsung menyambar ke arah tengkuk. Wanita itu mencoba menghindar, namun terlambat. Dan...
Tuk!
"Akh...!" Totokan Rangga mendarat telak ditengkuk Nyai Laning. Bukan main terkejutnya wanita itu, ketika merasakan lengan kirinya kaku dan sulit di gerakkan. Dia bermaksud menghajar dengan tangan yang sebelah lagi. Namun sebelum dilakukan, Pendekar Rajawali Sakti telah kembali menyelinap dari bawah, langsung melepaskan totokan ke arah dada kanan. Seketika itu pula, tubuh Nyai Laning melorot ambruk ke tanah.
"Kurang ajar! Apa yang kau lakukan, Keparat?! Kubunuh kau...!" teriak wanita itu memaki, berusaha melepaskan diri dari totokan.
"Bangsat pengecut! Ternyata nyalimu rendah! Kau hanya mampu memperdaya tanpa berani melawannya habis-habisan. Kali ini biar aku yang akan meremukkannya!" teriak Ki Semplung bernada geram.
Tepat ketika Ki Semplung dan Bagor Suta melompat bersamaan, Badin dan Panglima Kertapati juga bermaksud membantu Rangga. Namun Pendekar Rajawali Sakti memberi isyarat agar mereka tetap di tempat.
"Aku masih mampu menghadapi mereka..."
"Ya! Kau masih mampu menunggu ajalmu saat ini!" dengus Bagor Suta sambil memainkan ujung tombaknya yang bergerak menyapu tubuh Rangga. Pendekar Rajawali Sakti berkelit lincah, menggunakan jurus Sembilan Langkah Ajaib.
Ctar!
"Heh?!" Pendekar Rajawali Sakti sempat terkejut, begitu Ki Semplung mengeluarkan senjatanya. Sebuah pecut yang suaranya cukup keras. Malah nyaris saja, pecut itu menyambar wajahnya kalau tidak sempat mengegoskan kepala.
"Sial!" desis Rangga geram.
Cambuk Ki Semplung kembali menjilat angkasa, mengancam perut Rangga. Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti menjatuhkan diri. Baru saja Rangga bangkit berdiri, Bagor Suta telah melancarkan serangan dahsyat. Permainan tongkatnya semakin cepat, pertanda tengah mengerahkan seluruh kemampuan.
Untuk beberapa saat terlihat kalau Pendekar Rajawali Sakti hanya mampu menghindar dari setiap serangan. Dan itu membuat kedua lawannya semakin bersemangat mendesaknya habis-habisan. Tombak di tangan Bagor Suta serta cambuk dalam genggaman Ki Semplung terus mengincar kelemahan Pendekar Rajawali Sakti.
"Heaaat...!"
Rangga melompat ke belakang. Dan ketika lawan-lawannya bermaksud mengejar, dilepaskannya Pukulan Maut Paruh Rajawali. Seketika selarik cahaya merah meluruk cepat ke arah kedua anak buah Nyai Dukun Sirah. Mereka terkejut. Bagor Suta dan Ki Semplung kalang kabut melompat, menghindari hantaman pukulan jarak jauh pemuda itu. Dan pada saat itu pula, Rangga mendesak salah seorang dari mereka. Dan pilihannya jatuh pada Bagor Suta.
"Yaaat...!"
Bagor Suta terkejut melihat serangan Pendekar Rajawali Sakti yang mendadak dan cepat bukan main. Tombaknya masih sempat dikibaskan untuk menghalau kedatangan Rangga.
Wuuut!
"Uts!"
Tapi Rangga cepat membungkuk dengan kedua kaki melebar, rata dengan tanah. Lalu dengan bertumpu pada kedua telapak tangan yang menempel tanah, dia melompat. Langsung dilepaskannya satu tendangan ke dada.***

KAMU SEDANG MEMBACA
153. Pendekar Rajawali Sakti : Pemuas Nafsu Iblis
ActionSerial ke 153. Cerita ini diambil dari Serial Silat Pendekar Rajawali Sakti karya Teguh S. Dengan tokoh protagonis Rangga Pati Permadi yang dikenal dengan Pendekar Rajawali Sakti.