BAGIAN 8

201 16 4
                                    

Bagor Suta cepat melompat ke belakang. Sementara Pendekar Rajawali Sakti cepat berdiri, langsung menangkap senjata laki-laki itu.
"Heup!"
Rangga menarik dengan keras. Sedangkan Bagor Suta berusaha mempertahankannya. Tarik-menarik di antara mereka tidak berlangsung lama, ketika cambuk Ki Semplung melecut kearah Pendekar Rajawali Sakti.
"Heaaa!" Rangga melipatgandakan tenaga dalamnya. Akibatnya, tubuh Bagor Suta terangkat ke atas, bahkan langsung dijadikan sasaran ujung cambuk Ki Semplung.
Ctar!
"Aaa...!" Bagor Suta kontan memekik keras. Punggungnya seketika tersengat senjata kawannya sendiri.
"Ohhh...! Bagor Suta...!" Ki Semplung terkejut. Buru-buru dihampirinya Bagor Suta dan berjongkok di sisinya.
Sementara Bagor Suta tampak menggelepar dengan wajah berkerut menahan sakit. Matanya melotot lebar. Punggungnya robek. Darah tampak menggenang ditanah. Setelah meregang nyawa, orang itu tewas beberapa saat kemudian.
"Bagor, maafkan. Aku..., aku tidak bermaksud begini," ratap Ki Semplung.
Ki Semplung menunduk sedih, merasa bersalah. Untuk beberapa saat tak ada yang bisa dilakukannya, selain berdiam diri. Namun mendadak, tubuhnya bangkit. Di pandangnya Pendekar Rajawali Sakti dengan tatapan garang.
"Kau telah membunuh kawanku! Aku akan merencah kepalamu, Keparat Busuk!" dengus Ki Semplung geram. "Heaaa!" Begitu selesai dengan kata-katanya, Ki Semplung melecutkan cambuknya.
Ctar!
Kemudian laki-laki itu melompat, menerjang Pendekar Rajawali Sakti.
"Uts!" Rangga melompat ke atas sambil menggenggam tombak Bagor Suta yang tadi berhasil dirampasnya. Tidak dipedulikannya lagi amarah Ki Semplung yang meluap-luap. Tombak ditangannya menyambar Ki Semplung yang coba mendekat.
Wuk!
Ki Semplung agaknya menyadari kalau tenaga dalam pemuda itu berada di atasnya. Sehingga dia tidak berani sembarangan melecutkan cambuk. Dan bila cambuknya berhasil ditangkis dan dililit kuat, maka Pendekar Rajawali Sakti akan menyentaknya kuat-kuat.
Tapi Rangga bukannya tidak bisa membaca siasat Ki Semplung. Dalam kemarahannya yang meluap, tentu Ki Semplung akan membabi-buta menyerangnya dengan senjata cambuk. Namun ternyata Ki Semplung seperti berusaha menghindari benturan kedua senjata.
Pendekar Rajawali Sakti tidak mau memberi hati. Tombak di tangannya diputar laksana baling-baling, untuk menyerang dahsyat. Meski Ki Semplung berusaha menghindar dan sesekali balas menyerang, tetap saja tidak berkutik. Tombak ditangan Pendekar Rajawali Sakti selain untuk menyerang, juga sebagai tameng.
Bet! Bet!
"Uhhh?!"
Ki Semplung pontang-panting menyelamatkan diri. Dan dia berusaha menghantam dengan pukulan jarak jauh. Namun Pendekar Rajawali Sakti mampu menghindar dengan mudah. Bahkan ujung tombaknya selalu mengincar setiap saat. Dan saat Ki Semplung tidak mampu lagi menghindar, cambuk di tangannya melecut untuk membalas serangan.
Rrrt!
Seperti yang diduga, Pendekar Rajawali Sakti menangkis dengan tombak. Sehingga cambuk itu melilit erat. Seketika Pendekar Rajawali Sakti menyentaknya.
Plas!
Ki Semplung tidak mau bertindak gegabah. Dilepaskannya cambuknya. Dan segera dihantamnya pemuda itu dengan pukulan jarak jauh disertai pengerahan seluruh tenaga dalam tingkat tinggi.
"Heaaa...!"
"Uts!" Pendekar Rajawali Sakti cepat bagai kilat melompat menghindar, membuat pukulan Ki Semplung luput. Pada saat berada di udara Rangga cepat menangkap gagang cambuk yang melayang.
Tap!
Belum sempat Ki Semplung memperbaiki kuda-kudanya, Pendekar Rajawali Sakti telah mengebutkan cambuk yang berhasil dirampas kearah dada.
Ctar!
"Aaakh...!"
Ki Semplung memekik keras begitu ujung cambuk menyengat dadanya. Tubuhnya terlempar ke belakang. Bajunya robek. Dan didadanya terlihat menghitam bekas cambukan.
Pendekar Rajawali Sakti sengaja tidak melukai lawannya. Dan dengan tenang, dihampirinya Ki Semplung yang tidak berani bangkit. "Ikat dia! Dan satukan dengan yang lain!" ujar Rangga dingin.
Serentak Badin dan para pemuda lainnya melompat. Mereka langsung mengikat Ki Semplung yang tanpa melakukan perlawanan berarti. Namun baru saja Ki Semplung selesai diikat, mendadak terlihat berkelebat satu sosok bayangan memasuki halaman depan ini.
Tahu-tahu di halaman telah berdiri seorang wanita tua. Tangannya memegang sebatang tongkat yang ujungnya tertancap tengkorak kepala manusia. Dan di bawah tengkorak, bergantung beberapa buah lonceng kecil yang berbunyi dengan nada beraturan.
"Nyai Dukun Sirah?!" seru Ki Semplung dan Nyai Laning, hampir bersamaan. "Celakalah kalian! Hiih!"
Raut wajah wanita tua yang ternyata Nyai Dukun Sirah seketika berubah menggiriskan. Dan tiba-tiba dia mendengus sinis, sambil mengacungkan tongkat di tangannya. Dari lobang biji mata tengkorak kepala manusia itu mendesir angin halus. Dan tahu-tahu ...
Cras! Crasss!
"Aaa..." Nyai Laning dan Ki Semplung kontan memekik setinggi langit, begitu desir angin halus menghantam mereka. Keduanya terjengkang dan tewas seketika dengan tubuh membiru. Pada leher mereka tertancap beberapa batang jarum yang amat halus bagai buluh bambu.
Perbuatan Nyai Dukun Sirah membuat yang lain terkejut. Namun kematian dua orang itu sama sekali tidak menimbulkan penyesalan sedikit pun di wajahnya yang semakin bengis. Terlebih lagi ketika memandang kepada Pendekar Rajawali Sakti.
"Hm.... Jadi kau Pendekar Rajawali Sakti...?" tanya Nyai Dukun Sirah dingin.
"Betul," sahut Rangga seraya berkacak pinggang.
"Kau tahu? Aku Nyai Dukun Sirah! Tempat ini telah kukepung. Maka lebih baik suruh kawan-kawanmu menyerah. Dan bebaskan anak buahku yang kalian tawan!" ujar wanita tua itu lantang.
Begitu selesai berkata-kata, seketika itu pula bermunculan anak buah Nyai Dukun Sirah dari segala penjuru mengepung tempat ini. Jumlah mereka sekitar seratus orang, siap dengan senjata di tangan.
Melihat kemunculan mereka, maka semua yang berada di sini terkejut. Sebagian dari mereka tampak ciut. Namun Pendekar Rajawali Sakti kelihatan tenang-tenang saja.
"Nyai Dukun Sirah! Kau bermaksud mengancamku dengan menunjukkan kecoa-kecoa ini? Huh! Jangan harap! Sebaiknya, kaulah yang parut menyerah. Dosamu telah lewat takaran, Nyai!"
"Bocah keparat! Kau kira tengah bicara dengan siapa?! Huh! Akan kupecahkan batok kepalamu!" dengus Nyai Dukun Sirah.
Serentak Nyai Dukun Sirah memberi isyarat. Maka semua anak buahnya langsung berlompatan hendak menyerang. Tapi mendadak...
"Suiiit...!" Rangga bersuit nyaring bernada aneh. Seketika anak buah wanita tua itu menghentikan serangan, memandang aneh pada Rangga.
"Kragkh....!"
Semua orang yang berada di tempat ini makin terkejut, ketika tiba-tiba terdengar suara aneh yang keras menggelegar membelah angkasa. Belum sempat keterkejutan mereka hilang, mendadak terasa angin kencang laksana badai topan. Sementara dari angkasa terlihat bayangan hitam besar. Dan ketika mereka memandang keatas, makin lengkaplah keterkejutan mereka.
"Heh?! Apa itu?! Rajawali raksasa...!"
"Rajawah raksasa...!" timpal yang lain.
"Serang mereka, Putih!" ujar Pendekar Rajawali Sakti sambil menunjuk kearah anak buah Nyai Dukun Sirah.
"Khragkh...!" sahut rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu, seperti mengerti kata-kata Rangga.
Burung rajawali berukuran raksasa yang baru muncul langsung menyambar anak buah Nyai Dukun Sirah. Seketika barisan mereka jadi kocar-kacir. Beberapa orang berusaha melawan, namun kandas dan terhempas dihalau sayap Rajawali Putih. Bahkan banyak yang lari ketakutan.
Semula Badin, Panglima Kertapati, dan yang lain-lain merasa gentar. Namun belakangan mereka baru menyadari kalau kedatangan hewan raksasa itu berada di pihak mereka. Terbukti burung itu hanya menyerang anak buah Nyai Dukun Sirah. Maka melihat itu, keberanian mereka muncul. Dan dengan dipimpin Panglima Kertapati, mereka bergerak menyerang anak buah Nyai Dukun Sirah dengan semangat menyala-nyala.
"Yeaaat...!"
Sementara itu, sepak terjang Rajawali Putih amat dahsyat. Tak heran kalau dalam waktu singkat, burung raksasa itu mampu menimbulkan korban yang cukup banyak. Dan hal ini membuat Nyai Dukun Sirah geram bukan main.
"Binatang sial! Kau boleh mampus sekarang!" desis wanita tua itu garang seraya mengacungkan tongkat ke arah Rajawali Putih.
Seketika dari mata tengkorak ditongkat Nyai Dukun Sirah mendesir angin halus bersama benda kecil berkilatan ke arah Rajawali Putih.
"Khraaagkh...!" Rajawali Putih berteriak nyaring. Sebelah sayapnya langsung mengebut jarum-jarum beracun yang dilepaskan Nyai Dukun Sirah. Dan wanita tua itu jadi kalang kabut, ketika jarum-jarum beracunnya, malah berbalik menyerangnya. Bahkan ada yang menyerang beberapa anak buahnya yang berada di tempat ini.
"Uts! Setan...!"
"Aaa...!" Nyai Dukun Sirah menghindar. Namun anak buahnya yang terkena jarum beracun tewas seketika dengan tubuh kejang berwarna biru.
"Binatang terkutuk! Rasakan pembalasanku...!" desis wanita itu geram.
Nyai Dukun Sirah mengerahkan seluruh kekuatannya. Dan dia bersiap menghantam dengan pukulan maut yang amat diandalkannya. Apalagi disadari kalau burung rajawali amat istimewa dan bertenaga kuat. Maka dia tidak mau bertindak setengah-setengah untuk menghabisinya. Namun sebelum hal itu terjadi...
"Nyai Dukun Sirah! Akulah lawanmu?!"
Nyai Dukun Sirah segera melompat kearah datangnya suara. Dan wajahnya menggiriskan dengan mata melotot lebar kearah Pendekar Rajawali Sakti yang tadi berteriak keras.
"Kalau begitu kau boleh mampus lebih dulu!" desis Nyai Dukun Sirah garang seraya menyorongkan telapak tangan kirinya ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
Bersamaan dengan itu, melesat selarik cahaya kehitaman yang berbau busuk menimbulkan hawa pengap disekitarnya.
"Hup! Yeaaa...!" Rangga melenting tinggi ke atas. Begitu berada di udara, tangannya menghentak ke depan.
"Aji Bayu Bajra!" teriak Pendekar Rajawali Sakti.
Wueeerrr...!
Saat itu pula serangkum angin kencang laksana badai topan menderu dahsyat menyerang wanita itu. Nyai Dukun Sirah berusaha bertahan. Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak berhenti sampai di situ. Tubuhnya terus berkelebat bagai kilat sambil mencabut pedangnya.
Sring! "Heaaat...!"
Nyai Dukun Sirah terkesiap. Dia tidak mau mengikuti gerakan Pendekar Rajawali Sakti yang cepat bagai kilat. Bahkan yang dilihatnya hanya sekelebatan cahaya biru yang bergerak cepat menyambarnya. Dengan sebisanya, dia berusaha menangkis dengan tongkatnya.
Tes!
Betapa terkejutnya Nyai Dukun Sirah melihat tongkatnya putus jadi dua bagian. Dan belum sempat dia berbuat apa apa, pedang Pendekar Rajawali Sakti telah kembali berkelebat keperutnya.
Cras!
"Aaakh...!"
Nyai Dukun Sirah memekik setinggi langit begitu perutnya tersambar pedang Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya kontan ambruk dan bergulingan untuk beberapa saat. Kemudian diam tidak berkutik dengan darah membajiri bumi. Sebelah tangannya masih memegang tongkatnya yang patah.
Trek!
Rangga menyarungkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Dihampirinya mayat wanita tua itu. Ada sesuatu di wajah Nyai Dukun Sirah yang menarik perhatiannya. Kulitnya terkelupas. Agak tebal, namun lentur. Rangga mengamatinya dengan seksama, lalu memungutnya.
Sementara itu, pertarungan yang lain berjalan singkat. Anak buah Nyai Dukun Sirah menyerah, setelah mengetahui pimpinan mereka tewas. Sebagian mati dalam pertempuran. Sedangkan yang lain kabur, ketika Rajawali Putih datang.
"Mereka menyerah! Kita menang...!" seru Badin gembira, melaporkan hal itu pada Pendekar Rajawali Sakti.
"Hm, syukurlah..." sahut Rangga seraya memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Pendekar Rajawali Sakti melambaikan tangan, saat Rajawali Putih membubung tinggi menembus mega.
"Apa itu?" tanya Badin melirik benda dalam genggaman Pendekar Rajawali Sakti.
"Topeng...."
"Topeng siapa?"
Pendekar Rajawali Sakti tidak menjawab. Diberikannya topeng itu pada Badin, yang mengamatinya dengan seksama.
"Nyai Dukun Sirah?" desis Badin kaget. Badin segera memeriksa wajah Nyai Dukun Sirah yang tergeletak tak berdaya, kemudian memandang Pendekar Rajawali Sakti dengan mulut ternganga.
"Apa artinya semua ini, Rangga? Nyai Dukun Sirah ternyata seorang laki-laki?!"
"Agaknya begitu, Sobat." sahut Rangga lirih.
"Apa maksudnya?? Apa maksudnya??" guman Badin berkali-kali, seraya menggengam topeng itu. Di pandangnya jasad Nyai Dukun Sirah.
"Kita tidak tahu. Mungkin Nyai Dukun Sirah punya alasan sendiri. Sobat... " desah Rangga pelan.
Badin terdiam. Agak lama dia seperti memikirkan sesuatu, kemudian berdiri lesu. Diamatinya topeng Nyai Dukun Sirah agak lama.
"Marni..."
"Adakah hasil yang kau peroleh dari mereka...?" tanya Rangga.
Badin menggeleng lesu. "Mereka tidak tahu soal Marni. Bahkan setelah kupaksa, mereka tetap menjawab hal yang sama. Hanya saja..." Badin terdiam sambil menggeleng lesu. Wajahnya tampak semakin muram.
"Ada apa, Sobat?"
"Mereka mengatakan kalau Nyai Dukun Sirah selalu membutuhkan wanita setiap hari. Entah untuk apa. Tapi, setiap wanita yang dibawa ke kamarnya tidak pernah kelihatan lagi...," lanjut Badin.
Rangga mengangguk. Dan Badin masih terdiam lagi. Keduanya seperti memikirkan hal yang sama. "Tabahkan hatimu Sobat..." ujar Rangga lemah, seraya menepuk-nepuk pundak kawan barunya.
Badin mengangguk lesu. "Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi setelah mengetahui siapa sesungguhnya Nyai Dukun Sirah, maka berat dugaanku kalau Marni telah menjadi korban pemuas nafsu iblisnya. Keparat!" maki Badin geram.
Sementara itu, Rangga bersuit pelan. Tak lama, kuda berbulu hitam yang tadi berada dikandang, berlari kecil menghampirinya.
"Sobat, aku pergi dulu," ujar Pendekar Rajawali Sakti pada Badin sebelum melompat ke punggung kuda bernama Dewa Bayu.
Badin mengangguk lemah. "Terima kasih segala bantuan yang kau berikan, Rangga...."
"Sama-sama. Aku pun berterima kasih padamu...."
Pada saat itu, Panglima Kertapati mendekatinya dengan wajah gembira. "Rangga, kita berhasil melumpuhkan mereka! Semua ini tidak terlepas dari jasamu. Kanjeng Adipati akan senang sekali bila kau sudi berkunjung ketempatnya."
"Terima kasih. Sampaikan saja salamku untuk beliau. Dan sampaikan pula maafku, karena aku tidak bisa berkunjung ketempatnya."
"Ah! Sayang sekali. Beliau tentu akan sangat kecewa..."
"Mudah-mudahan bila ada umur panjang, aku akan berkunjung kesana"
"Rangga... Aku atas nama beliau, akan selalu menanti. Rakyat di negeri ini sangat berterima kasih atas segala bantuan yang kau berikan," kata Panglima Kertapati.
"Jangan berkata begitu. Kita melakukannya bersama-sama. Dan bila tanpa bantuan kalian, aku juga tidak bisa meringkus mereka," sahut Rangga, merendah.
"Ah! Rangga, bisa saja kau merendah. Tapi, ada hal yang membuat kami penasaran. Dari mana datangnya rajawali raksasa. Dan siapa pemiliknya?" tanya Panglima Kertapati.
"Rajawali raksasa? Ah, iya! Dari mana datangnya? Dan siapa pemiliknya? Apakah kalian pernah melihat burung itu sebelumnya?" sahut Rangga berlagak bodoh.
"Tidak! Kami belum pernah melihat burung itu sebelumnya. Hm, tapi aku curiga!" Panglima Kertapati tersenyum-senyum dikulum.
"Curiga bagaimana...?"
"Kau tadi bersuit. Dan rajawali itu lalu datang. Maka..."
Rangga tertawa kecil. "Jadi kau menduga kalau rajawali itu milikku? Itu hanya kebetulan. Sebab, saat bersuit tadi, aku berharap mereka terkejut. Lalu, dengan mudah kita menyerang. Dan ternyata, siasat itu berhasil. Tapi, aku sama sekali tidak menduga, ternyata datang bala bantuan. Entahlah... Aku sendiri masih bingung. Tapi, saat ini aku ada urusan penting yang harus kuselesaikan. Hm... Jika ada waktu, tentu saja aku senang sekali bisa menyelidiki siapa pemilik burung itu...," sahut Pendekar Rajawali.
Rangga segera mohon diri, dan berlalu dari tempat ini. Kudanya digebah kencang. Mereka hanya mampu memandang dengan wajah kagum. Sedang Panglima Kertapati masih termangu, mencerna jawaban Pendekar Rajawali Sakti. Benarkah yang dikatakannya tadi? Panglima kadipaten itu hanya bisa menghela napas panjang.

***

TAMAT

🎉 Kamu telah selesai membaca 153. Pendekar Rajawali Sakti : Pemuas Nafsu Iblis 🎉
153. Pendekar Rajawali Sakti : Pemuas Nafsu IblisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang