"Tera..." panggil perempuan itu yang tidak lain adalah Oily . Sinar yg awalnya tersenyum mulai mendatarkan wajahnya.
Semua serempak menoleh ke asal suara, Sinar yang telah mengetahui balik dari suara itu tetap melanjutkan makannya.
Lentera memutar badannya dan menatap Oily "Iya ly? Kenapa?." Tanya Lentera.
"EKHEM, duh batuk guaa!."ujar Thea , Kenari langsung mengelus punggung Thea "Ish." Thea menepis tangan Kenari.
"Buset dah yak, ini cabe berapa kilo si. Pedes amatt!," Saut Rembulan, ia langsung meminum air yg sudah iya pesan sampai abis.
"Gapapa, ini makanan yang pedes dari cabe asli. Tapi jangan sampe ada orang yg jadi cabe ya haha."Ujar Thea sambil melirik Oily.
"Awas nar, ada permen karet." Teriak Egas dari mejanya yg membuat semua orang melihat kearahnya.
Timur mengerutkan keningnya "Ko permen karet gas?," Tanya Timur.
"Iyaa permen karet, sana sini nempel." Ujar Egas, disusul tawa satu kantin.
Tera menutup matanya pelan, mendengarkan sindiran teman temannya dan juga teman Sinar yang pasti melukai hati kecil sahabat kesayangannya ini.
"Thea, mulut lu. Lu juga Gas, mulut kok kaya cewe" ujar Lentera tajam.Thea berdecak sebal. Dia menyilangkan tangannya di depan dada.
"Mending dong ngomongnya fakta, daripada ngomong sayang tapi bullshit?" Ujar Arghi membuka suara, sebenarnya iya tak ingin ikut campur. Namun melihat tingkah Oily yang selalu merusak suasana mmebuatnya nampak kesal.
"Kenapa Ra? Mulut mulut gua, kok situ yang rese? Apa jangan-jangan kata-kata gua menusuk jiwa dan raga lu ya? Oh iya lupa, dia kan prioritas lu. Jadi harus lu bela dimana-mana ya kan." Ujar Thea santai, Oily berjalan mendekati Lentera. Dia memegangi lengan Lentera. Lentera menatap Oily dengan tatapan tak terbaca.
Sinar menatap tajam tangan Oily yang bertengker di lengan pacarnya. Sinar mengebrak meja dan bangkit meninggalkan kantin.
Tera hendak menyusul namun tangannya dicekal oleh Oily, Oily menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Lentera mengusap ujung mata Oily dengan sayang.
"Halah, eneq gua. Niat nya mau makan jadi ga selera." Ujar Thea, dia bangkit dan menendang meja di depan hingga berbunyi. Diikuti dengan rembulan dan kenari.
"Ganggu aja lu pho, aus kasih sayang ya?" Ujar Rembulan tajam. Lentera hanya menghela napas pelan.
"Udah Bulan, Thea. Kasihan tuh si Oily. Dia kaya anak kecil yang minta permen ya. Gitu aja nangis." Bulan dan Thea memandang Kenari. Baru kali ini Kenari menyindir seseorang.
"Ayo kita cariin ayah baru buat bunda." Ujar Rembulan menarik tangan Thea dan Kenari.
***
Sinar menghela napas pelan, saat ini dia berada di taman belakang. Memandangi bunga-bunga yang nampak tumbuh dengan indah. Sinar berdiri dan hendak memegang bunga bunga yang berada didepannya. Dia menghitung jumlah bunga dalam satu pot. Sungguh kegiatan yang tak menguntungkan.
Derap langkah memenuhi gendang telinga sinar membalikkan badannya dan melihat siapa yang datang. Posisi sinar yang setengah berdiri mengharuskan dia mendongakkan kepalanya.
"Tara." Ujar seseorang memperlihatkan yuppi kepada Sinar. Sinar tersenyum dan mengambil yuppi dengan semangat.
Sinar berjalan kearah tempat duduk dan membuka bungkus yuppi tersebut.
"Makasi Gerald." Ujar Sinar seraya melahap yuppi tersebut, Gerald menganggukan kepalanya. Ia menatap lekat wanita didepannya ini.
"Suka?" Tanya Gerald, Sinar mengangguk antusias.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sinar Lentera
Novela JuvenilSeorang gadis terkekeh miris, menatap 2 manusia yang berada didepannya. Matanya memanas melihat genggaman tangan mereka. "Apa kamu pernah mikirin perasaan aku? Engga kan! Pikiran kamu semua tentang dia!!" Tunjuk gadis tersebut kepada gadis yang bera...