What Is Love? || 03. Burung

4.9K 491 17
                                        

Revika merasa bingung saat Karina mengatakan ia harus berkemas. Walau begitu dia tetap menurut. Yang ia tahu, mereka berencana disini selama empat hari, kenapa tiba-tiba disuruh berkelas padahal baru sampai kemarin?

Perjalanan udara yang memakan waktu sekitar empat jam lebih Revika habiskan untuk tidur. Kasur nyaman di kamar pribadi pesawat Kakaknya ini membuat matanya berat sejak menidurkan tubuhnya disini. Jika bukan karena tepukan halus dipipi dari Kakaknya, mungkin dia masih akan melanjutkan tidurnya.

"Mau jalan sendiri apa Kakak gendong?" pertanydeaan lembut dari Reza setelah ia membuka mata membuatnya mengerjap. Nyawanya belum terkumpul sempurna membuat dia mengulurkan kedua tangannya tanpa tenaga.

Samar ia mendengar kekehan dari Kakaknya sebelum tubuhnya terasa melayang. Layaknya anak kecil, ia digendong oleh Kakaknya di depan. Membuat kedua kakinya otomatis melingkari pinggang Kakaknya sedangkan kedua tangannya memeluk leher Kakaknya. Dengan pelan ia menumpahkan kepalanya di bahu Reza kemudian terpejam. Dia masih ngantuk.

"Perasaan Adek udah tidur dari tadi." Gava berkomentar saat melihat Kakak tertuanya keluar dengan Revika di gendongan.

Perjalanan sengaja dilakukan saat pagi atau bisa dikatakan dini hari. Mereka berangkat sekitar jam tiga pagi dan sampai jam enam lebih waktu Indonesia Barat. Perbedaan waktu di dua pulau tersebut sekitar satu jam.

Perjalanan mereka belum selesai, turun dari pesawat mereka sudah disambut oleh deretan mobil siap mengantar mereka semua. Mobil-mobil tersebut berjalan mengantar mereka ke dermaga untuk menyeberang sampai ke Pulau Pangkil. Pulau yang sudah disewa oleh Gibran namun dengan uang Kakaknya secara dadakan.

"Bukannya nyewa pulau pribadi nggak bisa dadakan?" Gava menyuarakan kebingungannya. Saat ini mereka semua tengah menikmati terpaan angin laut.

"Bisa kalau duit lo banyak." Gibran menjawab santai. Memang seperti itu adanya. Sebenarnya ia tidak berniat ke Pulau ini namun Pulau yang ia inginkan sebelumnya sudah di boking terlebih dahulu oleh orang lain. Sebenarnya pulau ini pun sama. Akan tetapi ia bernegosiasi dengan orang yang sudah menyewa pulau ini sebelumnya kemudian memberikan sedikit uang sebagai gantinya.

"Berapa lama kita disini?" tanya Bara.

"Tiga hari." jawaban dari Reza dibalas anggukan paham dari Bara.

Nyatanya perjalanan laut tidak semulus keinginan mereka. Clara, istri dari Regan sempat muntah-muntah beberapa kali hingga tubuhnya lemas. Awalnya Regan sudah menentang keputusan istrinya untuk ikut pindah tempat. Tapi dia bisa berbuat apa jika sang istri sudah mengeluarkan air mata untuk membujuknya? Bahkan Revika yang sedang tidur tiba-tiba saja bangun dan mengeluarkan isi perutnya. Membuat banyak orang menjadi khawatir.

Semua kesulitan itu terbayar saat mata mereka disuguhi pemandangan begitu indah pulau pribadi yang beberapa hari kedepan menjadi milik mereka. Beberapa orang dengan pakaian berseragam berdiri di pesisir pantai. Seperti tengah menunggu mereka.

"Selamat datang di Pulau Pangkil," sambutan ramah dari orang-orang tersebut dibalas tak kalah ramah oleh keluarga Wiratama.

Sebagian dari mereka mengikuti para staf yang akan menunjuk resort pada mereka. Berbeda dengan Karina yang sudah menarik Revika untuk bermain air. Padahal beberapa saat lalu Revika mengalami mual karena berada di kapal. Tapi semua itu seakan hilang saat matanya disuguhi keindahan Pulau Pangkil ini.

"Kita sarapan dulu." seruan dari Elena menghentikan aktivitas kedua gadis itu. Mengingat perut mereka yang juga kosong, mereka langsung menurut.

Pulau kecil ini benar-benar sepi. Hanya ada keluarga mereka juga para staf. Membuat mereka merasa nyaman juga bebas. Tidak perlu takut suara keras mereka akan mengganggu orang lain.

What Is Love ?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang