What Is Love? || 04. Reza Tua

4.7K 442 27
                                        

"Disini kan cuma ada kita, kenapa nggak boleh?" tanya Clara setengah merajuk. Dahinya berkerut tanda tak suka.

"Yang kamu bilang kita itu satu keluarga, bukan cuma berdua. Banyak saudara aku sayang, masa kamu cuma make bikini di depan mereka? Kalau cuma di depan aku sih nggak pa-pa."

Rasanya Regan ingin tenggelam saja di lautan. Lebih dari setengah jam ia berdebat dengan istrinya namun tidak juga berakhir. Melihat adiknya saja hanya mengenakan bikini saja dia tidak terima apalagi istrinya. Yang ada dia akan mengurung Clara di kamar seharian. Atau mungkin sampai liburan selesai?

"Yaudah matanya biasa aja! Gausah liatin Kak Lena kayak gitu!" ketus Clara menahan kesal. Sudah beberapa kali ia mendapati Regan menatap kearah Elena yang tengah berbaring disebelah Revika. Melihat body Elena, wanita hamil mana yang tidak insecure?

Regan yang mendapat tuduhan dari istrinya hanya bisa menghela nafas. Padahal sedari tadi ia melihat adiknya bukan calon iparnya itu. Tapi mau dijelaskan pun, apa ibu hamil ini akan mendengarkan? Ia rasa tidak.

"Cari kelapa muda aja yuk Yang, biar dedeknya bersih." dengan lembut ia merangkul istrinya. Mengecup pelipis Clara sebelum membawa istrinya itu pergi dari sana.

Disisi lain, lima pria yang tengah berbaring di kursi pantai di bawah payung itu terus mengamati ketiga gadis yang tengah berjemur. Namun telinga mereka juga masih bisa menangkap jelas perdebatan pasangan suami istri tadi. Membuat Gava tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak berkomentar.

"Ribet bener ngurus orang hamil." ujarnya setelah mendengar semua perdebatan tidak penting Kakaknya. Sejak awal Regan selalu mengalah namun tidak juga menuruti istrinya. Mencegah namun dengan cara halus.

"Nikah biar tahu."

Gava menatap sinis Gibran. "Kek udah nikah aja." cibirnya.

"Siapa tuh?" ceplos Bara saat melihat dua sosok pria mendekati tiga gadis yang sedari tadi mereka perhatikan.

Bukan hanya Bara, keempat sepupunya juga menatap tajam dua pria tersebut. Sebenarnya dari penampilan juga apa dibawa dua pria itu terlihat jika mereka seorang pelayan disini. Memangnya tidak ada pelayan wanita sampai dua pria itu yang datang kesini?

Galih, pria itu bergerak paling cepat. Dengan membawa bathrobe entah milik siapa ia menghampiri adiknya. Menarik adiknya berdiri kemudian tanpa kata memakaikan bathrobe tersebut. Tak lama kemudian Bara pun menyusul. Bagaimanapun dia tidak terima tubuh adiknya dilihat oleh orang luar.

"Kakak kok-"

"Diem!" tanpa sadar Galih membentak Revika saat tengah menyimpulkan tali bathrobe yang sudah membalut tubuh mungil adiknya. Melihat adiknya yang menunduk takut membuat ia menghela nafas. "Ayo sayang," ajaknya kemudian merangkul bahu adiknya. Membawa sang adik pergi dari sana.

Reza menatap kepergian Galih dan Revika kemudian menatap bathrobe ditangannya. Padahal ini milik adiknya sedangkan itu milik Elena. Kenapa juga Galih bisa sampai lupa. Menggedikan bahu, ia menghampiri Elena yang berdiri mematung ditempatnya. "Pakai." perintahnya.

"Kalian berdua." Reza menatap tajam dua orang pria yang membawa buah kelapa itu. "Saya sudah bilang sebelumnya, jangan ada staff pria berkeliaran diluar apalagi datang kesini. Pergi kalian! Dan jangan harap kalian bisa bekerja disini lagi."

Ucapan Reza jelas membuat dua pria itu terkejut bukan main. "Jangan Tuan... Saya mohon maafkan kami..."

"Pergi!"

Menghiraukan kedua pelayan bodoh itu, ia berbalik pada Elena. Menatap gadis yang hanya diam dengan tali bathrobe belum disampulkan. "Apa terpapar sinar matahari membuat kinerja otakmu melemah?" Reza meraih dua tali bathrobe tersebut kemudian menyampulkannya. "Ayo." ajaknya kemudian menarik tangan Elena karena gadis itu tak kunjung memberi respon.

Disisi lain Gava menyaksikan semua itu dalam diam. "Lo gak kepikiran Bang Reza suka sama Kak Lena kan?" tanyanya pada Gibran. Namun saudara yang sayangnya lebih tua darinya itu hanya menggedikan bahu kemudian berlalu dari sana. "Ck! Dasar Abang laknat!"

🍁🍁🍁🍁

Reza menyandarkan tubuhnya pada dinding. Menyilangkan tangan di depan dada sembari menatap Galih yang tengah mencuci tangan lewat cermin besar. Tatapan matanya tidak sehangat sebelumnya.

"Empat tahun, jangan bilang lo masih suka sama Vika." tembak Reza tanpa basa-basi.

Galih menghentikan kegiatannya. Membiarkan air terus mengalir dari kran. Perlahan ia menegakkan tubuhnya kemudian mematikan aliran air tersebut. Membalas tatapan Reza dari cermin di depannya. "Gue nggak tahu." kemudian dia membalikkan badan. Menyandar pada wastafel. "Empat tahun...." jemari Galih mengetuk-ngetuk pinggiran wastafel. "Gue rasa nggak mungkin perasaan gue masih sama."

Sebelah alis Reza terangkat. Pernyataan Galih empat tahun silam masih terekam jelas diotaknya. Lalu sekarang haruskah ia percaya pada pria yang jelas-jelas tidak tahu perasaannya sendiri. "Nikahi Elena, dan beri jarak pada Vika."

"Jarak?" beo Galih. "Dia adek gue juga!"

"Dia bukan adek lo." senyum tipis tersungging di bibir Reza kemudian pria itu beranjak dari sana. Mengabaikan Galih yang mematung di tempatnya.

Wajah Reza berubah lunak, senyum pun tersungging di bibirnya saat Revika -adik kecilnya- melambaikan tangan padanya. Segera ia mendekat kemudian duduk disebelah adiknya. Gadis itu sudah tidak memakai bathrobe lagi melainkan dress selutut yang nampak cantik dipakainya.

"Kak Galih mana?" tanya Revika.

"Nggak tahu." Reza menggedikan bahu kemudian menarik tangan Revika yang memegang garpu dan memasukan udang ke dalam mulutnya. Tersenyum saat melihat wajah cemberut adiknya.

"Katanya Kakak nggak suka udang, kok udang Vika dimakan?"

"Kalau dari tangan kamu Kakak jadi suka." Reza terkekeh pelan. "Tuh masih banyak, lagian anak kecil nggak boleh makan banyak-banyak."

"Geli gue denger Abang bilang gitu." Gava menggelengkan kepalanya. Telinganya tidak salah kan menangkap gombalan Kakak tertuanya itu. Kalau dikasih ke perempuan lain dia biasa saja. Ini ke adik mereka, yang benar saja!

"Jauh-jauh lo dari adek gue." Regan merangkul bahu adiknya kemudian menariknya mendekat. Namun tangannya langsung kena pukul oleh Reza. Punya dendam apa Kakaknya itu sampai memukulnya keras begini. "Anjing!" umpatnya tanpa sadar. Yang malah membuat bahunya mendapat pukulan keras. Juga tatapan tajam dari Bunda dan Mamahnya.

"Udah mau jadi orangtua masih aja gitu!" sinis Clara galak. "Udah lanjut kupasin udangnya!"

"Iya sayang iya...." dengan telaten Regan kembali mengupas udang goreng milik istrinya. Kenapa juga kulit undang-undang ini tidak dikupas sampai bersih. Jika begini kan dia yang repot.

"Vika bukan anak kecil ya Kak, Kakak aja yang udah tua." ucapan savage Revika mengundang tawa Gava, Bara, juga Regan. Ketiganya kompak tertawa keras, menertawakan Reza yang mendapat ejekan dari adiknya sendiri.

"Bukan tua sayang.... Tapi dewasa." ralat Reza bersabar.

"Ucap om-om yang belum dapet cewek sampe sekarang." Seloroh Gava lalu disusul tawanya bersama Regan. Kalau soal membully mereka memang cocok. Bahkan Gibran tak segan untuk memberikan tawa penuh ejekan. Oh jangan lupakan dua sepupu mereka yang kini masuk circle receh tukang bully.

"Sabar ya Kak Eza, nanti Vika do'a biar Kakak cepet laku." Dengan wajah polos penuh prihatin, gadis manis itu menepuk-nepuk bahu Kakak tertuanya. Hal yang membuat tawa Gava meledak.

🍁🍁🍁🍁

To be continue

Akhirnya bisa update juga. Ayo jadi pembaca yang aktif guys! Biar aku makin semangat nulisnya.

Jangan lupa tinggalkan jejak! See you....

What Is Love ?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang