Setelah satu jam duduk manis membiarkan wajahnya dirias sedemikian rupa, Revika bisa bernafas lega setelah dua orang make-up artist sudah menyelesaikan tugasnya. Kepiawaian mereka dalam merias wajahnya memang tidak diragukan, ia merasa pangling dengan wajahnya sendiri.
Koleksi make-upnya memang lengkap. Lebih dari lengkap malah. Namun sampai sekarang dia belum pandai dalam mengaplikasikan secara maksimal. Atau lebih tepatnya dia malas ribet. Lebih simpel hanya memakai make-up tipis, yang menurutnya juga tetap memakan waktu apalagi di bagian mata.
Jujur ketimbang make-up, dia lebih suka melakukan perawatan pada wajahnya. Dengan begitu dia tidak perlu terlalu meng-cover wajahnya jika sudah terlihat cantik meski tanpa make up. Beruntung dia tidak perlu memikirkan uangnya yang keluar puluhan juta hanya untuk perawatan bulanan yang rutin ia lakukan.
"Kami permisi, Nona."
Revika tersenyum manis seraya mengangguk. Tak lama setelah dua orang tersebut keluar, pintu kamarnya kembali terbuka. Sudut bibirnya keatas melihat kedatangan Papahnya.
"Cantik, selalu cantik sampai papah takut akan ada laki-laki yang merebut kamu dari Papah."
Dress off shoulder dengan panjang depan selutut sedangkan bagian belakang sampai menyentuh lantai. Heels setinggi 7 centi membalut kaki mulusnya. Rambut bagian depan dikepang kebelakang, menyisakan poninya. Sedangkan sisa rambutnya dibiarkan terurai tapi. Oh, jangan lupakan pita senada dengan warna dress-nya, membuat penampilannya semakin manis.
Wajah manisnya dirias yang menghabiskan waktu sampai satu jam. Hasilnya sangat memuaskan, terlihat berbeda dari biasanya namun tidak medok. Terkesan natural namun juga makin menonjolkan kecantikan wajahnya.
"Nggak ada yang bakal pisahin Vika dari Papah," ucapan tersebut sungguh-sungguh ia katakan. Meski ia sendiri paham betul dengan maksud ucapan Papahnya. Hanya saja, memikirkan ia akan berpisah dengan keluarganya suatu hari nanti membuat ia merasa enggan. "Lagian mana ada yang berani rebut Vika sedangkan Papah sama Kakak-kakak halangin mereka."
"Benar juga." Ryan terkekeh mengingat fakta betapa posesif dirinya juga anak-anaknya pada satu-satunya anak perempuan dikeluarga ini. "Sini peluk Papah."
Tanpa kata, Revika memeluk Papahnya yang sudah mendekat padanya. "Happy birthday cantiknya, Papah. Kesayangan Papah dan Mamah, sekarang sudah tambah dewasa."
"Thank you, Papa."
"Hadiah kamu ada diluar, kamu bisa lihat nanti setelah acara selesai."
Revika mengecup pipi Papahnya. "Sayang Papah!" Serunya senang.
Sepasang anak dan ayah itu berjalan bergandengan keluar. Halaman luas rumah disulap untuk menjadi tempat diselenggarakannya pesta sore ini. Disana sudah terdapat banyak orang dengan balutan pakaian terbaik mereka. Selain keluarga juga kerabat, terdapat banyak orang penting disana. Memang jumlahnya hanya 150 orang, namun semua yang diundang oleh keluarganya adalah orang-orang penting.
Tujuan pesta ulang tahun Revika kali ini adalah membangun relasi gadis ini agar lebih luas. Satu tahun terakhir Revika memang sudah sedikit aktif mengikuti pesta bersama orangtua ataupun kakak-kakaknya. Namun sikap pasif gadis membuatnya sulit mendapatkan teman. Kecuali perempuan satu ini.
"Happy birthday, sayangkuuu!"
Gadis dengan gaun berwarna baby blue memeluk hangat tubuh mungil Revika. Sedikit lebih tinggi dari Revika, tubuhnya memiliki bentuk yang diinginkan oleh banyak perempuan. Leeya Maharani, teman yang ia dapatkan lebih dari enam bulan ini. Teman dari kolega ayahnya yang ia kenal dari pesta perusahaan tahun lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Is Love ?
Romance#3 Witatama's [Judul lama 'New Feeling'] Revika Angela Wiratama, princess kesayangan keluarganya. Akan tetapi mentalnya yang sedikit terganggu membuatnya tinggal jauh dari keluarga besarnya. Semakin hari usianya terus bertambah. Hingga menginjak kep...
