Masih Sama

21 4 4
                                        

SUDAH lebih dari setengah tahun semenjak meninggalnya Arkan, sedangkan Alana tak berubah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SUDAH lebih dari setengah tahun semenjak meninggalnya Arkan, sedangkan Alana tak berubah. Ia masih pemurung, tak mau makan, bahkan untuk pergi ke sekolah saja ia tak mau. Alana selalu mengatakan bahwa ia tak akan pergi dari kamarnya, karna ia takut jika nanti Arkan datang dan bingung mencari dirinya.

Bepuluh puluh kali sudah Dev coba memberi penjelasan pada Alana jika Arkan sudah pergi, dia tak mungkin akan kembali lagi. Dan memang sudah seharusnya Alana memulai hidup yang baru, baik  dengan ataupun tanpa Arkan disisinya. Tapi bujukannya tak mempan, Alana tetap. kekeh mempertahankan keyakinannya ia harus tetal menjaga hati untuk Arkan.

Sering Dev memergoki Alana melakukan self talk. Tapi saat ditanya, Alana selalu menjawab jika ia sedang berbicara dengan Arkan.

Menurutnya Arkan memang belum sepenuhnya pergi, tapi melihat Alana yang terus terusan berhalusinasi seperti ini mau tak mau membuatnya harus bekerja extra keras untuk selalu menyadarkan Alana dari alam bawah sadarnya.

"Arkan, kamu pulang?" ucap Alana tiba tiba memperhatikan luar jendela.

"Kamu mau masuk? Iya sebentarr lewat pintu depan aja ya aku bukain" lanjutnya yang langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga dan membuka pintu yang katanya itu Arkan.

Dev menghela napas panjang, sakit rasanya melihat hal ini. Ia gagal menjadi kakak yang baik, ia juga gagal memberikan bahunya untuk bersandar. Ia mungkin terlalu cuek dan tidak peduli pada Alana, sampai sampai gadis itu merasa kesepian.

Hingga tiba tiba suara Alana yang berteriak membuat Dev langsung ambil langkah seribu menyusul adiknya di bawah sana.

Tampak Alana yang terduduk di depan pintu, menangis sekuat tenaga sambil menyebut nama Arkan.

"Dek udah, bangun yuk" sambil mengangkat badan kurus Alana ke sofa ruang tamu.

"Arkan kakk, Arkan pergi lagi" ucap Alana terbata bata, menempelkan kepalaya lada dada bidang Dev.

Setitik air mata jatuh di pipi Dev. Ia sangat rapuh. Ia tak tau lagi dengan cara apa menyembuhkan Alana. Ia sangat merindukan Alana yang masih bersama Arkan, meskipun kehidupannya sangat buruk dan tidak pantas jika disandingkan dengan Alana, setidaknya Arkan memberi energi positif untuk Alana.

Seharusnya dulu Dev ikut meyakinkan orangtuanya perihal Arkan yang ingin melamar Alana. Seharusnya ia ikut, ia mendukung Alana dan Arkan untuk hidup bersama. Andaikan juga malam itu Dev tak pernah berbicara kasar dan mengusir Arkan, mungkin laki laki itu masih bernyawa dan tetap mendapingi Alana disini.

Kalau aja Arkan ngga sakit hati, dan kalau aja Dev tau akhirnya menjadi seperti ini maka ia tak akan menyia nyiakan kesempatan emas itu untuk menyembuhkan Alana.

ALANA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang