Welcome to my world! 📖✨ Terima kasih sudah menyimpan cerita ini di perpustakaanmu. Hope you enjoy the journey as much as I enjoyed writing it.
Sore itu, cahaya matahari musim gugur yang jingga masuk menembus jendela kaca sebuah kafe tua di sudut tersembunyi Seoul. Rose duduk di depan Jimin, mengamati pria itu yang sedang menatap cangkir kopinya dengan bingung.
Rose membawa Jimin ke sini bukan tanpa alasan. Di meja kayu yang tergores inilah, dulu mereka pertama kali duduk berhadapan dalam kencan buta yang dipenuhi kecanggungan dan gengsi masing-masing.
"Dulu, kamu terus saja membanggakan jam tanganmu dan bicara soal saham," Rose membuka cerita dengan tawa kecil yang getir. "Aku hampir saja menyiramkan kopi ke wajahmu karena kamu sangat sombong."
Jimin mendongak, matanya yang kini lembut menatap Rose dengan rasa tidak percaya. "Benarkah? Saya seburuk itu?"
"Jauh lebih buruk," Rose mengangguk, tangannya meraih korek api Zippo di atas meja dan memutarnya perlahan. "Tapi kamu juga pria yang melompat ke air hanya untuk mengambilkan antingku yang jatuh. Kamu pria yang selalu menyelamatkanku dari rasa bosan yang membunuh."
Jimin terdiam. Ia tidak bisa mengingat satu pun kilasan gambar dari cerita Rose, namun ia mulai merasakan detak jantung yang aneh setiap kali wanita di depannya ini berbicara. Ia tidak jatuh cinta pada kenangan yang diceritakan Rose; ia jatuh cinta pada cara Rose menatapnya seolah ia adalah pusat dunianya.
Kehangatan di rumah keluarga Park terusik saat Vernon muncul satu bulan kemudian. Ia datang membawa keranjang buah premium, mengenakan setelan jas yang sangat rapi, dan senyum yang sulit dibaca.
"Kamu terlihat sangat lelah, Roseanne," ujar Vernon, suaranya tenang namun mengandung tekanan yang disengaja. "Biarkan Somi dan staf ahli yang mengurus Company P sepenuhnya. Kamu butuh istirahat, atau kamu akan ikut tumbang sebelum Jimin pulih."
"Aku sudah mengatur segalanya, Vernon. Terima kasih atas perhatianmu," jawab Rose dengan nada dingin yang tegas.
Vernon mengalihkan pandangannya pada Jimin yang duduk diam di sofa, mengamati interaksi itu dengan tatapan polos. "Hai, Jimin. Senang melihatmu bernapas lagi. Aku Vernon, teman dekat Rose."
"Salam kenal," Jimin mengulurkan tangan dengan sopan santun yang kaku.
Vernon menjabat tangan itu, namun tidak segera melepaskannya. "Kami benar-benar cemas saat kamu hilang. Terutama Roseanne. Hubungan kalian sangat... unik, ya? Terutama karena awal pertemuan kalian yang didasarkan pada perjodohan mendadak demi kepentingan keluarga."
Suasana di ruangan itu seketika membeku. Rose mengepalkan tangannya di bawah meja. Vernon sengaja melempar kerikil ke dalam air yang tenang.
"Perjodohan?" Jimin mengulangi kata itu, suaranya bergetar. Ia menoleh pada Rose. "Apakah hubungan kita... dimulai sebagai transaksi bisnis?"
"Jimin, itu cerita lama yang tidak relevan," potong Rose cepat, matanya menatap tajam ke arah Vernon.
Vernon hanya tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri. "Tentu saja, masa lalu tidak penting jika sekarang kalian bahagia. Rose, jika kamu merasa sesak dengan semua beban ini, kamu tahu siapa yang harus kamu hubungi. Kita sudah bersama sejak kecil, bukan?"
Setelah kepergian Vernon, kesunyian yang mencekam menyelimuti ruang tamu. Jimin menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Roseanne... apakah saya selama ini memaksamu? Apakah kamu bersamaku hanya karena perintah keluarga?"
Rose berlutut di depan Jimin, meraih kedua tangannya dan memaksanya untuk menatap matanya. "Dengar baik-baik, Park Jimin. Kedua mendiang orangtua mu menyetujui akan hal ini karena kamu yang memintanya. Memang benar ada perjodohan, tapi aku bukan wanita yang bisa diperintah. Aku bisa saja pergi jika aku mau. Tapi aku tetap di sini. Aku memilihmu di altar, aku mencari duniaku yang hilang di pulau itu, dan aku memilihmu lagi hari ini. Mengerti?"
Jimin menatap mata Rose yang berapi-api. Untuk pertama kalinya, ia merasa aman dalam ketidaktahuannya.
Dua bulan berlalu. Musim berubah, dan begitu pula perasaan di hati Jimin. Ia mungkin belum mendapatkan memorinya kembali, tetapi ia telah membangun sebuah identitas baru di atas kasih sayang Rose.
Malam itu, di sebuah taman kecil yang dipenuhi lampu-lampu taman yang temaram, Jimin mengajak Rose berjalan-jalan. Udara malam terasa dingin, namun tangan mereka tertaut erat.
Tiba-tiba, Jimin berhenti di bawah pohon maple yang daunnya mulai berguguran. Ia berlutut di atas satu lutut, sebuah gerakan yang terasa asing namun sangat benar baginya. Ia tidak mengeluarkan cincin berlian baru. Di telapak tangannya, hanya ada korek api Zippo perak yang sudah lama ia pegang setiap hari.
"Roseanne," suara Jimin mantap, menghilangkan kesan rapuh yang selama ini menghantuinya. "Saya tidak tahu pria seperti apa saya di masa lalu. Saya tidak ingat janji-janji yang pernah kita buat."
Ia menatap korek api itu, lalu menatap Rose dengan mata yang kini penuh dengan kilau pemujaan.
"Tapi saya tahu satu hal: pria yang berdiri di depanmu sekarang ini mencintaimu lebih dari nyawanya sendiri. Kamu mempertaruhkan segalanya untuk mencari seseorang yang hilang, dan kamu menemukanku yang bahkan tidak tahu siapa diriku sendiri. Kamu memberiku nama, kamu memberiku rumah, dan kamu memberiku alasan untuk bangun setiap pagi."
Jimin mengangkat korek api itu sedikit lebih tinggi. "Park Roseanne, maukah kamu menerima pria yang baru ini? Maukah kamu tetap menjadi tempatku pulang?"
Tangis Rose pecah. Bukan karena duka, melainkan karena kelegaan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa ia tidak membutuhkan Jimin yang lama untuk kembali. Jimin yang sekarang yang tulus, yang memilihnya tanpa beban masa lalu adalah hadiah terindah yang pernah ia terima.
"Ya, Park Jimin," Rose berbisik di antara isaknya, menarik Jimin bangun dan memeluknya erat. "Tentu saja! Seribu kali ya!"
Di bawah cahaya lampu taman, mereka berpelukan. Memori mungkin bisa terhapus, namun cinta yang sejati selalu menemukan jalannya untuk ditulis kembali dari awal.
Cerita ini murni fiksi dari imajinasi penulis. Seluruh karakter, tempat, dan peristiwa di dalamnya adalah hasil rekaan tanpa ada maksud menyinggung siapa pun. Selamat membaca!
KAMU SEDANG MEMBACA
ECHOES OF ROSEANNE | JIROSE [END]
Fiksi PenggemarRoseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa, Jennie, dan Jisoo. Namun, ketenangan Rose t...
![ECHOES OF ROSEANNE | JIROSE [END]](https://img.wattpad.com/cover/243090635-64-k868060.jpg)