Chapter 59

5.2K 682 350
                                    

Kayanya banyak salah paham dengan updatean aku yang sebelumnya .-.

Nih ya guyss.. kalian berhak buat baca dimana pun cerita ini, begitupun orang lain juga berhak buat ngetranslate ini dan di up di wattpad ini.

Aku cuman merasa gak ada gunanya lagi aja buat aku up cerita ini karena toh udah ada yang lebih jauh babnya.

Aku sebagai pembaca juga pun mending liat punya yang udah jauh :v wkwkwkwk

Aku males aja kalo ada yang komen seperti di akun lain udah jauh updatenya sementara akun ini belum.

Coba kalian pikiran lagi guys, yakin ini mau lanjut? 

~~~~~

"Bahasa kuno?"

"Iya."

"Itu sedikit..." gumam Elody.

Bahasa kuno bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari siapa pun.

Hanya orang yang lahir dengan keterikatan yang kuat terhadap mana yang dapat menguasai bahasa tersebut.

"Apakah anda memiliki keterikatan pada mana, putri?"

Berdasarkan atas pengetahuan Elody dari novel, Larissa bukanlah seorang yang dapat menggunakan mana.

Namun, ingatan Elody mulai memudar karena itu, ia memutuskan untuk meminta tuan putri Larissa mengklarifikasi hal tersebut.

"...Tidak. Tidak bisakah aku mempelajari bahasa kuno tanpa harus bisa menggunakan mana?" tanya Putri Lariisa sambil mengerutkan keningnya.

"Saya khawatir anda tidak akan dapat memahami apa pun..."

Ekspresi Larissa penuh dengan kekecewaan.

Larissa entah bagaimana membuat Elody merasa tidak enak hati.

"....Begitu. Lalu, apakah duke juga tahu cara berbicara bahasa kuno? Aku pernah melihatnya menggunakan mana di medan perang...."

"Ya, itu benar duke bisa."

"Ah, seperti yang diharapkan dari duke."

Putri Larissa ingin mempelajari bahasa kuno agar ia bisa memahami isi kertas tersebut.

'Apakah benar-benar tidak ada tulisan yang mencurigakan di atasnya?'

Larissa juga ingin menjalin hubungan dengan duke cernoir melalui pelajaran bahasa kuno.

'Jika aku tahu bagaimana berbicara bahasa kuno, aku akan bisa lebih dekat dengannya...'

Larissa sangat menyesal.

"Putri! Lalu anda bisa belajar dari duke!" Kata Carolina sambil memandangi duchess.

Carolina benar-benar tidak tahu malu, tidak bermoral jika menyangkut sikapnya yang tidak biasa. Duchess baru saja memarahinya, namun Carolina masih berani bertindak kurang ajar.

"......"

Dan Putri Larissa, juga, secara tak terduga terkejut dengan kata-kata pelayannya. Ia kemudian melanjutkan untuk mencubit Carolina di pinggang.

"Seharusnya kau tidak mengatakan itu..." kata Putri Larissa, wajahnya terlihat tidak enak hati.

Sementara itu, Elody terkejut.

'Bukan itu...'

Bukannya Elody tidak ingin mengajari putri bahasa kuno. Hanya saja putri tidak akan pernah bisa mempelajarinya karena putri tidak memiliki ketereikatan dengan mana.

I'm Ready for Divorce!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang