Happy reading 🖤
"Ngapain lo kesini?" Tanya Ana. Daniel duduk diatas motornya sambil menunggu Ana.
"Gw anterin lo ke sekolah," ucap Daniel.
"Lo mau nyari masalah sama Vero lagi? Gw bisa pergi sendiri," ucap Ana.
"Rich Devil sama Alivator udah damai, jadi gw bebas mau kesana. Naik cepet," ucap Daniel. Ana langsung naik ke motor Daniel.
Setelah beberapa menit diperjalan, Daniel menghentikan motornya tepat didepan gerbang.
"Nanti pulang sekolah gw jemput," ucap Daniel.
"Nggak perlu," ucap Ana.
"Pulang sekolah Ana ikut gw ke pertemuan Rich Devil sama Alivator," ucap Vero. Daniel menatap Vero dengan tajam, Vero mendekat pada Daniel.
"Rich Devil sama Alivator emang damai, tapi kita nggak akan damai," bisik Vero.
"Yuk, Na. Kita ke kelas," ucap Vero menarik tangan Ana masuk ke sekolah. Daniel juga langsung pergi dari sana.
"Kayaknya Daniel suka sama lo deh," ucap Vero.
"Itu hak dia, lagian lo ada masalah apa sih sama Daniel? Kayaknya kalau ketemu nggak bisa akur banget," ucap Ana.
"Pokoknya ada deh, masalah yang paling bikin gw nggak suka sama dia," ucap Vero.
"Main rahasia-rahasia an ya lo sama gw," ucap Ana.
"Nanti kalo udah waktunya gw kasih tau lo, tapi intinya pulang sekolah lo harus ikut gw," ucap Vero.
"Ngapain gw ikut lo? Gw bukan anggota Alivator," ucap Ana.
"Gw mau bikin Daniel kesel," ucap Vero.
Sepulang sekolah Ana dan Vero langsung pergi ke Cafe yang sudah ditetapkan, hari ini Alivator dan Rich Devil akan dipertemukan sebagai bentuk perdamaian diantara mereka.
Ana dan Vero langsung masuk ke dalam dan bertemu dengan anggota Alivator lainnya yang sudah duluan sampai. Tak lama kemudian Rich Devil datang dipimpin oleh Ares, Jefri, dan Daniel.
"Kalian pesen apa aja yang kalian mau, acara ini sebagai bentuk perdamaian kita," ucap Ares. Lalu mereka bersenang-senang sambil menikmati banyak makanan enak.
"Na, mau nggak?" Tanya Vero menawarkan mie yang dipesannya. Ana membuka mulutnya minta disuapi karena tangannya memegang cake.
"Vero, pedes," ucap Ana. Ia memang tidak tahan pedas, Vero langsung menyodorkan minumannya. Tapi Daniel segera menahannya dan memberikan Ana minuman baru.
"Itu bekas mulut dia," ucap Daniel. Ana hanya menganggukkan kepalanya.
"Gw lagi nggak mau ribut sama lo ya, cepet lo pergi," ucap Vero. Daniel malah duduk disamping Ana dan menghiraukan ocehan Vero.
"Jangan ribut, biarin aja dia," ucap Ana memegang tangan Vero yang mengepal menahan amarah.
"Kalau bukan karena lo, udah gw hajar dia," ucap Vero. Ia menggenggam tangan Ana.
"Lepasin tangannya," bisik Daniel. Ana menuruti ucapan Daniel.
"Kenapa lo ada disini?" Tanya Bara yang tiba-tiba menghampirinya.
"Harusnya gw yang nanya sama lo," ucap Ana.
"Gw wakil Rich Devil," ucap Bara.
"Oh sorry, berarti gw salah tempat," ucap Ana. Ana keluar dari Kafe itu tapi Bara juga mengikutinya.
"Tunggu, Ana. Gw belum selesai ngomong," ucap Bara.
"Apalagi yang perlu lo omongin? Lo sama keluarga lo itu sama aja, nggak ada bedanya sama sekali," ucap Ana.
"Lo juga keluarga gw," ucap Bara.
"Sorry, gw nggak punya keluarga kayak lo semua. Musnah aja lo semua dari dunia, manusia nggak punya hati," ucap Ana.
"Lo yang nggak punya hati, orang tua lo meninggal dan lo sama sekali nggak peduli. Harusnya lo ada dipemakaman orang tua lo bareng sama kakak lo," ucap Bara menaikkan suaranya. Sekarang mereka berdua sudah jadi pusat perhatian.
"Orang tua? Orang tua mana yang tega ngusir anaknya sendiri? Buat apa gw peduli sama mereka kalau mereka juga nggak pernah peduli sama gw. Dan ingat satu hal, gw nggak bakal mau nganggep manusia setan itu sebagai kakak gw lagi," teriak Ana didepan wajah Bara. Bara menampar pipi Ana dengan keras, semua orang terkejut melihat hal itu.
Daniel langsung menonjok pipi Bara, ia benar-benar kesal melihat kelakuan Bara yang sangat kasar.
"Jangan pernah lo sentuh dia lagi," ucap Daniel tajam. Lalu Daniel melepaskan jaketnya dan menutupkannya ke kepala Ana. Daniel mengantar Ana pulang menggunakan motornya.
Daniel membantu Ana mengobati luka kecil disudut bibirnya, ia masih kesal saat mengingat kejadian tadi. Ia tidak suka melihat ada laki-laki yang kasar kepada wanita, karena itu mengingatkannya kepada ayahnya yang selalu kasar pada Bundanya.
Ana hanya diam, ia juga kesal dengan Bara yang berani menamparnya dengan keras. Ini pertama kalinya ia ditampar.
"Masih sakit?" Tanya Daniel.
"Nggak, cuma sedikit nyeri," ucap Ana.
"Tadi ada Dara disana," ucap Daniel.
"Kenapa bisa?" Tanya Ana.
"Dia udah deket sama Ares sejak lama, dan gw temen dia dari gw SMP," ucap Daniel.
"Ares tau kalau Dara kakak gw?" Tanya Ana.
"Nggak,"
"Terus kenapa lo bisa tau masalah gw sama Dara?" Tanya Ana.
"Dara sering cerita ke gw, dia udah ceritain semua tentang permasalahan lo sama dia," ucap Daniel.
"Dia pasti bilang kalau gw pembawa sialkan? Udah pasti dia bilang gitu," ucap Ana.
"Dia nggak bilang kalau lo pembawa sial, tapi dari semua cerita yang Dara bilang. Gw sempet mikir kalau lo yang membuat masalah ini semakin sulit," ucap Daniel.
"Terus kenapa lo mau temenan sama gw, harusnya lo ngebela Dara aja," ucap Ana.
"Walaupun gw temen dia, gw nggak akan ngebela dia kalau dia salah. Dara selalu ngerasa kalau dia orang yang paling menderita dan itu sebabnya dia jadi orang yang lebih dingin dan tertutup," ucap Daniel.
"Dia emang selalu kayak gitu, itu yang buat gw benci sama dia. Dia nggak pernah peduli dengan orang disekitarnya, dia cuma mentingin urusannya sendiri," ucap Ana.
"Sorry kalau gw ikut campur urusan pribadi lo," ucap Daniel.
"Nggak papa, malahan gw seneng punya temen yang perhatian kayak lo," ucap Ana tersenyum. Daniel terpaku melihat senyuman Ana.
"Niel, kok bengong," ucap Ana menyadarkan Daniel.
"Udah sore, gw pulang dulu ya," ucap Daniel.
"Hati-hati dijalan," ucap Ana. Setelah Daniel pergi, Ana langsung masuk ke rumahnya dan mengunci pintu.
Sedari tadi Dara mengawasi mereka dari jauh, walaupun tidak mendengar percakapan mereka berdua tapi hatinya panas melihat Daniel yang terlihat sangat perhatian kepada Ana. Dara sudah menyukai Daniel sejak lama, tapi Daniel tidak mengetahuinya dan malah memperkenalkan Ares kepada Dara.
"Gw nggak akan biarin lo dapetin Daniel," ucap Dara. Lalu ia pergi dari sana sebelum ketahuan.
"Bukannya aku egois, hanya saja aku terlalu iri padamu,"- Andara Dafitna.
Thanks for reading 🖤

KAMU SEDANG MEMBACA
ONLY THE ANTAGONIST IN YOUR STORY
Novela JuvenilJangan hanya menilai orang dari satu sisi, ada banyak sisi lain yang harus kau lihat.