Agony
(Fiksi Mini)
Oleh MeisyaFitri9
_______________________________
“ARRRGGHHH!!!!”
“Astaga, Niki!”
Prang!
Sebuah benda melayang ringan menghantam kaca meja rias. Teguh tidak berani mendekat lagi. Niki sedang tidak bisa dikendalikan. Dia tahu amarah dalam diri gadis itu serupa lava gunung merapi, mulai dari asap hingga laharnya terdorong dihentak rasa kalut. Kening Niki meneteskan peluh berbarengan dengan gulir darah segar di pelipis. Dia memegangi belati di tangan kanannya, menusuk-nusuk bantak hingga bulu-bulu pengisi terburai.
Saat Teguh lengah hendak menelepon seseorang, Niki mengalihkan ujung mata pisau itu ke lengannya sendiri. Dia tarik garis lurus dari mulai pergelangan tangan hingga ujung siku. Merentang luka yang sama sekali tidak mampu mendistraksi semua marah yang menguap.
“Niki, lepasin!” Teguh terbeliak melihat darah mengisi petak lantai. Dia berusaha merebut pisau dari tangan adiknya.
“Bangs*t! Pergi lo dari sini! Tinggalin gue!”
Walaupun tahu tenaganya tidak akan sepadan, Niki tetap memberontak.
“Lo tenang dulu, Nik. Lihat gue!” Dia mengguncang tubuh Niki sampai gadis itu tersadar. Kamar ini terlihat sama kacau dengan kewarasan Niki yang berlarian tak terkejar.
“Biarin gue mati, gue nggak bisa hidup kayak gini. Gue nggak mungkin bisa bertahan tanpa Rio.” Niki mulai terisak. Tubuhnya gemetaran. Hatinya berdesir perih.
“Nggak ada gunanya lo mati, dia bakal tetep kawin sama orang!” Teguh sampai harus menaikkan nada suara.
Niki tidak lagi menjawab. Teguh benar, dia terlalu naif mengira bahwa Rio akan lantas kehilangan bila dia pergi. Suasana kama berangsur hening. Tidak ada lagi raungan patah hati dan caci maki kutukan dari bibir Niki. Malam itu, hingga fajar merekah perlahan, Teguh memaku tatapan ke arah Niki agar dia tidak lagi menyakiti dirinya. Suara ponsel Teguh berdering, memecah lamunan pria yang tetap wasapada itu.
“Halo.”
“Gue udah habisin dia, Bos.”
Mata Teguh mengerjap, meyakinkan kalau Niki benar-benar sedang lelap tertidur. “Bagus, buang mayat si Rio ke tempat biasa. Tunggu perintah gue selanjutnya.”
🔪🔪🔪
KAMU SEDANG MEMBACA
STF 30 Day Writing Challenge
Short StoryTantangan menulis pertama oleh grup Story Teller Family untuk melatih konsisten dan kemampuan menulis para anggota. Setiap hari mengusung tema berbeda dengan bermacam genre dan jenis cerita berbeda pula. Bukan hanya cerpen yang menjadi ciri khas Sto...
