Mitos

9 2 0
                                        

Mitos
(Fiksi mini)
Oleh tsabitalaiv
______________________________


Pagi itu, pelajaran Fisika. Namun, Bu Hilda hanya memberi tugas untuk dikumpulkan pada jam istirahat. Setelah beliau meninggalkan kelas, beberapa murid mulai membentuk kelompok diskusi, padahal ini tugas individu. Ada juga yang memilih meletakkan kepala di atas meja, seperti teman sebangkuku, Ilyas, dan satu-dua anak yang asyik dengan ponsel mereka.

Di mana-mana penghuni kelas IPA pasti lebih banyak berisi murid perempuan. Aku sudah membuktikannya. Di kelasku, dari 24 murid, 17 diantaranya adalah perempuan, sisanya laki-laki. Bisa terbayang bagaimana sistem pemilihan anggota kelompok jika ada tugas bersama, bukan?

Kulihat sekeliling, teman-teman masih sibuk mengerjakan sambil berceloteh entah apa. Kemudian, pandanganku jatuh pada bangku pojok belakang. Di bawah jendela, dia masih fokus menulis. Kubawa langkahku ke sana, duduk di kursi depannya tanpa menimbulkan suara. Beberapa kali dia mencoret angka-angka yang baru saja ditulis. Lalu, jemarinya tak bergerak, lama. Dia menyerah, meletakkan kepalanya di atas meja. Dari sini, wajahnya terlihat lucu. Pipi bulatnya menempel penuh pada meja, membuat bibirnya sedikit menekuk.

"Kenapa berhenti?"

Dia terlonjak, mengelus dada. "Astaga! Kamu ngapain di sini?"

Matanya mengerjap cepat, menelisik kehadiranku seperti hantu di siang hari. Menggemaskan. "Kenapa emang? Ini masih kelasku."

Rena berdecak, mengambil kembali pensil yang baru diletakkan beberapa saat lalu. "Kamu udah selesai? Tumben banget nyamperin?"

"Mau nyontek."

"Dih, juara satu nyontek."

"Juara satu juga manusia."

Rena mengambil buku di tanganku. "Lihat punyamu!" matanya memindai pekerjaanku, mencocokkan dengan miliknya. Setiap perubahan mimik wajah, gerakan bibir dan kerjapan matanya membuatku terhibur. "Oh, jadi gini caranya," ucapnya kemudian.

Akhirnya, kami menyelesaikan tugas itu bersama. Meski beberapa kali Rena mengerang kesal, tidak bisa memecahkan rumus selanjutnya. "Na, aku mau tanya sesuatu."

"Apa?" jawabnya, memfokuskan pandangannya padaku.

"Kamu jadian sama Ari?"

Rena berdecak. "Kamu juga suka dengerin gosip ternyata. Kupikir cowo yang tahunya perpustakaan nggak tertarik sama yang beginian."

Itu benar, tapi tidak jika menyangkutmu.

"Ya atau enggak?"

"Kenapa, sih?"

Karena aku peduli.

"Nggak ada, cuma penasaran. Kamu nggak pernah kedengeran punya cowo, sekalinya ada berita justru sama si Ari."

"Mitos. Ari, kan, cewenya banyak. Aku ga ada niat jadi salah satunya."

Aku terkekeh, "Mitos?"

"Yep. Mitos, kan, gosip yang pengen dipercaya jadi fakta sama masyarakat." Rena tersenyum ... begitu manis. Jika aku bisa memiliki senyumnya di kemudian hari, itu akan menjadi hal terindah dalam hidupku. Sekali lagi, aku terkekeh. Syukurlah, rasanya begitu lega.

Bel istirahat membuat seisi kelas kelimpungan dengan tugas mereka. Tak sedikit yang saling menanyakan hasil akhir tugas tersebut. Namun, pandangan mereka mendadak mengarah pada kami. Berdua di pojok, membicarakan entah apa, pasti mengundang niat jahil. Teman sebangku Rena yang berada dalam perkumpulan diskusinya bahkan sudah berseru menggoda kami. "Wil, kalau mau ngasih contekan yang adil donk. Rena aja yang dilobi. PDKT, ya!"

Belum sempat menjawab, sorakan teman-teman lain saling bersahutan. Aku berdiri, membiarkan buku tugasku di depan Rena. "Udah, ah! Kamu yang ngumpulin, ya, Na!"

🌼🌼🌼

STF 30 Day Writing ChallengeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang