Bab 9

21 7 4
                                    

Pintu terbuka dan semua yang ada di ruangan itu menoleh, "Ada apa?" Jimin bertanya ketika pandangan semua orang tertuju padanya.

"Duduk saja dulu, hyung." Sahut Jungkook. Jimin menurut dan duduk di sebelah Taehyung.

"Hyung, kau tidak tahu Anna dibawa kemana?"

Dan jawaban Jimin adalah sebuah gelengan, yang membuat helaan nafas Jungkook semakin memberat. "Aku satu bus dengan Anna tapi saat gadis itu turun ada orang yang mengikutinya, itu sebabnya aku ikut turun, tapi saat Anna dibawa ke mobil aku kehilangan jejaknya. Maafkan aku."

"Tidak, hyung. Itu bukan salahmu." Tentu saja Jungkook tidak bisa menyalahkan Jimin, bagaimana pun hyung nya itu berniat membantu, harusnya Jungkook berterima kasih , berkat pria itu dia bisa tahu Anna dalam bahaya.

"bagaimana hyung?" fokus Jungkook teralih lagipada Yoongi yang masih berkutat pada komputer. "Aku rasa tidak ada jalan lain, kau harus menelpon gadis itu."

"Hyung, kau yakin?" Jungkook melihat Yoongi mengangguk.

"Kalau kita menunggu ponsel Anna hidup aku rasa akan sia-sia. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan menimpa Anna." Saat Yoongi berbicara seperti itu, raut wajah Jungkook semakin khawatir. "Dan sebelum kau menghubungi gadis itu ada baiknya kau memberitahu orang tua Anna dulu." Tambah Yoongi.

Jungkook baru ingat, dia hampir melupakan orang tua Anna karena terlalu fokus pada Anna.

Setelah Jungkook menghubungi papa Anna dia dapat menangkap nada khawatir dari pria paruh baya itu, ditambah terdengar suara tangisan yang sudah pasti adalah suara mama. Jungkook jadi semakin merasa bersalah karena ini semua terjadi karena dirinya. Tak lupa Jungkook meminta kepada papa agar mengurus masalah ini ke polisi, tapi tentu saja dia yang akan bertindak. Polisi hanya mengurus sebagian kecilnya saja, karena bagaimana pun ini adalah sebuah kasus kejahatan dan harus ditangani oleh pihak berwenang.

Sekarang dia harus menghubungi dalang dibalik semua ini, panggilan pertama tidak dijawab. Tapi Jungkook tidak berhenti disana, dia terus mencoba, sedangkan para hyungnya sedang sibuk mengumpulkan bukti dan Yoongi hyung masih memperhatikan Jungkook.

"Masih belum diangkat?" Tanya Yoongi.

"Aku rasa dia sengaja tidak menjawab panggilanku."

Saat dia mencoba lagi akhirnya panggilan itu dijawab. Jungkook baru saja akan melayangkan makian kalau saja tidak ditahan oleh Yoongi.

"Aku baru tahu kalau seorang Jeon Jungkook sangat keras kepala."

"Sialan! Dimana kau sembunyikan Anna?" Akhirnya umpatan itu keluar setelah ia tahan.

"Ups! Kasar sekali ya pada perempuan."

"Persetan, aku tidak peduli. Untuk apa lembut pada perempuan sepertimu."

"Hey, perempuan yang kau maksud masih berstatus sebagai pacarmu, kau ingat?" terdengar suara kekehan dari seberang telepon.

"Dimana. Kau. Sembunykan. Anna?" Nada bicara Jungkook penuh penekanan. Amarahnya seakan ingin meledak, urat di tangannya sudah tercetak jelas saat mengepalkan tangan. Dia tidak tahu perasaannya kali ini yang jelas dia tidak mau kehilangan Anna. Perasaannya kacau ketika mengingat Anna sekarang dalam bahaya.

"Apa yang akan kau lakukan setelah aku memberitahumu? Kau akan menyelamatkannya, hmm?" Jungkook menarik nafas panjang, rasanya tidak ada gunanya berbicara pada gadis gila itu. Suara di seberang telepon tiba-tiba menjadi serius.

"Baiklah. Datanglah ke Wolseong 1-dong, disana ada gudang bekas minyak, ku harap kau bisa menemukannya dan

sudah pasti kau tahu aturan mainnya kan? Datanglah sendiri jangan jadi pengecut."

"Kau harus datang dalam tiga jam, tepat waktu. Kalau tak ingin peluru bersarang di kepala gadis malang itu."

***

Anna bergerak semakin gelisah, perutnya belum diisi sedari tadi dan sekarang sepertinya sudah malam. Anna kehabisan tenaga. Lehernya terasa dingin juga telapak dangan dan kakinya. Penutup matanya masih setia dipasang jadi Anna tidak bisa melihat apapun.

Terlepas dari itu semua, Anna selalu berdo'a agar ada seseorang yang menolongnya. Meskipun itu dirasa mustahil bahkan sering terlintas di pikirannya bahwa hidupnya tinggal sebentar lagi.

Terdengar suara pintu terbuka. "Sepertinya pahlawanmu akan segera datang." Oh, itu suara perempuan tadi. "Apa aku harus melenyapkanmu sekarang?" Kulit Anna meremang saat suara itu terdengar jelas.

"Kurasa tidak. Lebih seru kalau pahlawanmu melihat saat aku melenyapkanmu, bukankah begitu cantik?" Suara tawa terdengar setelahnya.

Rasanya hari ini Jungkook terlalu banyak mengumpat. Dia harus ke Wolseong dalam waktu tiga jam dan dia tidak tahu gudang minyak mana yang dimaksud gadis itu. Wolseong ada di daerah Daegu dan jarak tempuh antara Seoul-Daegu adalah tiga jam, bagaimana dia bisa sampai disana dalam waktu tiga jam tanpa terlambat? Baiklah, untuk Anna dia akan mengambil semua resiko.

Jungkook melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kini pemuda itu seakan tak peduli apapun, yang ada di pikirannya hanya Anna, Anna, dan Anna. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri apabila sesuatu terjadi pada Anna. Jungkook melihat ponselnya dan kini jam menunjukan pukul sembilan malam, sudah terhitung satu jam dari mulai ia berangkat.

***

Perempuan itu mengetuk-ngetukan ujung sepatunya ke lantai seirama jarum jam seraya menatap gadis yang terikat di depannya. Senyumnya tersungging tatkala jam sudah menunjukan pukul 11.58. Ya, dua menit lagi tersisa dari waktu yang diberikan.

"Sepertinya jagoanmu tidak akan datang."

"Siapa bilang?"

Anna tida menjawab apapun, itu suara seseorang yang baru saja masuk, Air mata Anna tiba menyeruak saat  dirinya mengenali dengan jelas pemilik suara itu.

"K-kak Jungkook."

Wajah Jungkook menyendu setelah atensinya teralihkan pada seorang gadis yang terikat disana.

"Aku tidak tahu kau akan datang apa aku harus mengucapkan selamt datang?"

"Siapa yang peduli." Sarkas Jungkook.

"Aku tidak mengundangmu untuk menyelamatkannya, Jeon. Ingat itu, aku mengundangmu untuk melihat kepergiannya."

"Lepaskan dia Song Yeji!"

"Jangan mendekat!" Yeji mengeluarkan pistol dari celananya, mengarahkan senjata itu pada Anna. Senyumnya tersungging kembali ketika ia melihat pemuda di depannya mematung di tempat.

"Kenapa? Kau takut?"

"Hentikan obsesi bodohmu itu, dia tidak bersalah." Jungkook mendekat perlahan.

"Kau di bodohi oleh perasaanmu sendiri, Ji. Itu bukanlah cinta tapi obsesi. Kau melakukan segala cara agar aku tetap ada di sisimu. Bukannya cinta adalah perasaan saling terbalas? Bukan kesenangan salah satu pihak, sedangkan pihak lainnya menderita. Apa itu yang kau maksud dengan cinta?"

"Diam! Dari awal aku mencintaimu. Dab itu tidak ada gunanya karena kau tidak pernah melihat ke arahku sedikitpun. Sudah kubilang jangan mendekat atau pelatuk ini akan kutarik." Peringatnya. Dan Jungkook kembali terdiam ditempat. Yeji memberi isyarat kepada dua orang pria di belakang Jungkook.

Jungkook yang tidak siap menerima serangan tersungkur, ngilu sekali, bibirnya robek dan mengeluarkan darah saat tangannya menyentuh bagian itu. Sial.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyelamatkan gadis itu." Perkelahian tidak dapat dihindari, meskipun Jungkook mendapat banyak lebam tapi ia merasa puas lawannya juga sama parahnya. Saat itu juga netranya menangkap Yeji akan menarik pelatuknya. Jungkook sontak berlari menerjang gadis itu.

DOR!

----

Aku harap cerita ini gak buat kalian kecewa 

vote dan komennya jangan lupa ya >.<

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 29, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I See [Jungkook]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang