Hallo gaess, gak ada yang nunggu aing up to date kannn?? Hahha sorry yehh baru ada kuota buat up to date nya😂🤣
***
Queena pov
Aku mengetikkan berbagai cercaan didepan ponsel yang siang tadi baru dibeli Kian. Aku marah, sangat marah saat ini. Bagaimana mungkin papa menyuruh aku patuh pada ibu tiri sialan itu saat dirinya pergi ke China. Untuk melihat wajahnya saja aku muak, apalagi bertegur sapa. Impossible.
Apa coba alasan aku harus menurut pada Firda? Hellow aku masih waras, gak akan pernah secuil pun aku mengangguk untuknya.
Saat ini bunda adalah pelampiasan ku, tempat dimana aku menumpahkan keluh kesahku. Aku tahu sikap ku yang marah-marah akan menambah beban bunda, tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku marah sama papa, tapi lebih marah pada ibu tiri ku.
Bunda menelpon ku, mungkin dia heran karena aku marah-marah di chatting. Tak kuasa air mataku luruh, sakit bercampur rindu untuk bunda menjadi satu.
"Queen..." bunda memanggilku lembut, aku terisak. Jarak antara dua benua benar-benar menyiksaku, aku yang di Asia dan bunda yang di Eropa semakin terbentang.
"Bun, plis jemput Nana." mohonku getir.
"Gak bisa sayang, sekarang bukan waktu yang tepat." karir bunda sebagai model ambasador memang tak bisa ditunda. Aku tau, aku mengerti tapi rasanya menyakitkan karena aku disini seperti terasingkan.
"Aku benci Firda Bun," adu ku yang kerap kali aku katakan saat ditelepon dengan mama.
"Anggap Firda Bunda ya sayang, kamu nanti akan terbiasa."
"Nggak Bun, bunda tetap bunda, dan Firda tetap orang ketiga." aku menggelengkan kepala kuat. Terdengar bunda menghela napas berat.
"Bun... Kenapa aku yang jadi korban keegoisan kalian?"
"Maafkan bunda sama papa ya Queen. Bunda gak bisa jadi bunda yang baik buat kamu." ini yang aku benci, bunda selalu meminta maaf dan memohon padaku atas nama papa, aku benci.
"Berhenti meminta maaf! Aku gak butuh maaf!" jeritku frustasi. Yang aku butuhkan itu kebersamaan kalian. Kehadiran kalian yang mengharapkan kehadiran ku. Aku benci keadaan ini.
"Maaf Queen, Bunda harus pemotretan."
Aku membanting ponsel ke pintu yang menampilkan wajah khawatir Kian. Aku menjerit kesal. Kenapa mereka sangat egois, papa yang sibuk dengan bisnis, dan Bunda yang sibuk dengan karir modelnya. Aku benci mereka, ditambah kehadiran Firda di kehidupan ku. Aku semakin muak dengan hidup ku.
Aku menatap jijik diriku didepan cermin full body, aku gak boleh lemah tapi jiwa sosial ku terancam. Aku rapuh, dan hanya Kian yang tau. Cowok yang saat ini memeluk ku erat, dan menguatkan keadaanku. Tapi sampai detik ini, aku belum bisa membalas kebaikan sahabat kecilku.
Dia tidak mengatakan apapun, diam dan membiarkan aku membasahi kemeja putihnya. Hanya tangannya yang mengelus lembut rambut ku hingga aku terbuai dengan sendirinya. Aku meremas kemeja belakang nya kuat, aku butuh pelampiasan.
Aku melepaskan pelukan kami. Menatap obsidian hitam nya lekat. Rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya, tapi air mata ku sudah habis. Sial sekali.
"Jangan pergi..." ucapku parau. Kian mengangguk pasti.
"Aku disini. Nemenin kamu, sampai kapan pun," tenang dan halus nya suara Kian selalu membuatku mabuk kepayang.
"Makasih." Aku balas perkataannya seraya menyusut ingus berharga ku. Kudengar dia tertawa, pasti menertawakan aku. Huh kecantikan ku pasti berkurang dimata nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Liar!! [ON GOING]
Teen FictionWarning! Cerita ini mengandung zat unsur hara yang panas dan signifikan di karena kan bisa menimbulkan efek kecanduan, jedag-jedug, lalu meninggalkan lahar yang membekas😎 _____ Aku hanya mengikuti alur dan memainkan peran. Jika kalian tak suka deng...
![Bad Liar!! [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/231030800-64-k690204.jpg)