"Fari ada?"
Aku nggigit bibir nahan diriku biar bisa tetep bersikap sopan sama cowok-cowok yang lagi nongkrong di depan kos-kosan Fari. Mereka nggak salah apa-apa sama aku jadi bukan suatu hal yang baik kalo aku ngelampiasin amarahku ke mereka.
"Eh, ada kok Di. Aku panggilin dulu bentar ya."
Ngangguk kecil dan ngasih senyum tipis ke Beno, aku berusaha nenangin diriku. Agak ngerasa bersalah juga sebenernya nggak langsung sadar ada dia. Walaupun jarang ketemu, tapi dengan adanya dia sekarang aku jadi tertolong karena terbebas dari keharusan ngelakuin basa-basi.
Suasana di depan kos-kosan Fari ini tetep berisik kayak sebelum aku dateng walau kayanya cowok-cowok itu sedikit penasaran kenapa ada cewek yang ke kosan cowok sendirian di sekitar jam sebelasan ini.
"Kamu kok nggak bilang kalo mau kesini sih Di. Kenapa nggak telpon ato chat aja kan aku bisa kekosmu kalo ada hal penting. Udah malem gini kalo kamu digodain cowok gimana!"
Fari lari dari kamarnya dan langsung ngomel. Dibelakangnya Beno jalan ngikutin dan ngetawain perilaku Fari yang emang sering overprotective ke aku. Satu jam lalu, aku pesti masih bakalan ikut ketawa sama Beno dan bales ngomel ke Fari. Tapi sekarang...
Ya Tuhan...
"Diara, hey, kenapa sih?"
Aku masih terus diem. Mandangin cowok yang udah temenan sama aku hampir empat tahun ini sejak awal kuliah. Nyatanya dia yang malah paling besar nyakitin aku.
"Ini kamu tumben banget loh ke kosanku tanpa diminta. Kendaraan kamu juga mana? Kamu jangan mbuat aku kawatir dong."
"Kamu kawatir sama aku dan masih bisa tanya aku kenapa. Seriously Far?"
Tanganku nyengkeram kuat lengan Fari.
"Aku bener-bener pingin bunuh kamu sekarang pake tangan aku sendiri."
"Becandaanmu lucu banget sih. Kamu lagi latian acting?"
Aku ketawa keras. Nggak ada yang aku becandain sekarang, tapi kekerasan nggak akan mbuat aku tau apa yang sebenernya terjadi.
"Selama ini aku bantuin kamu biar cewek-cewek yang kamu mainin itu njauh bukan buat kamu ngelakuin hal yang sama ke Riana. BRENGSEK!"
Ini bahkan pertama kalinya aku ngumpat keras didepan umum. Nggak ku peduliin orang-orang yang ada di sekitar. Biar aja mereka mikir aku cewek nggak bener.
"Kamu ngomong apa sih Di. Bawa-bawa Riana bahkan sampe ngatain aku juga."
"Nggak masalah kamu mau berperilaku bebas, tiap hari gonta-ganti cewek buat diajak tidur tapi bukan adekku Fari."
Raut muka Fari tegang sebentar tapi dia bisa langsung ngendaliin dirinya. Mungkin dia kaget akhirnya aku tau apa yang udah dilakuinnya sama adeku
"Sekarang kan udah nggak kaya zaman dulu yang keperawanan masih dijunjung tinggi Di. Kamu juga sama kan, jadi apa masalahnya kalo aku had sex sama dia."
Aku lemas dan tanganku yang nyengkeram lengan Fari terlepas.
Apa katanya tadi?
"Adekku masih polos Far. Kamu itu maksa Rania, kamu merkosa dia. Aku nggak masalah kalo kalian ngelakuinnya karena sama-sama mau tapi kamu-"
Nggak kuat ngelanjutin omongan, aku mengelap kasar pipiku yang mulai basah. Aku nggak sadar sejak kapan air mataku udah keluar dari pelupuk mata.
"Uang kamu itu banyak. Pelacur ada di mana-mana kenapa harus nyakitin adekku!"
"Aku ngelakuin itu karena dia mirip kamu Di."
Hah, alesan apa itu!
"Kenapa aku yang jadi alesan?"
"Cuma kamu selama ini yang aku cinta tapi kamu nggak pernah sadar dan adekmu dateng. Fantasiku yang selalu mbayangin kamu sedikit tercapai karena dia."
Seandainya aku tahu kalo ternyata orang yang aku anggep temen selama ini adalah orang yang pantes masuk rumah sakit jiwa.
"Fantasi huh? Kamu aja nggak pernah bilang kalo kamu ada rasa sama aku Far, jadi itu salah kamu sendiri kalo aku nggak pernah nanggepin kamu."
Fari bungkam.
"Kamu bahkan nggak pernah berjuang buat ndapetin aku kan padahal aku nggak pernah sama sekali pacaran selama kuliah ini."
"Aku takut kamu nggak suka sama aku dan malah menjauh Di."
"Trus mau sampe kapan gitu terus? Nantinya aku juga bakalan nikah, kamu mau ngelakuin apa lagi hah! Aku juga nggak sepicik itu njauhin orang cuman gara-gara dia suka sama aku. Mengira-ngira nggak akan mbuat kamu mencapai apa yang kamu inginin."
"Di."
"Udahlah, ternyata aku cuma buang-buang waktu ada disini. Sampe sini aja pertemanan kita. Makasih udah jagain aku selama ini."
"Hey, kita lupain aja semua ini, mulai semuanya dari awal. Yang penting jangan pergi dari aku."
"Lupain katamu? Oke, aku bakalan berusaha lupain kamu."
Aku mulai berjalan menjauh. Batinku mungkin nggak akan kuat ada lama di situ. Mulai dari awal diatas penderitaan adekku sendiri bukan hal yang aku inginin. Siapa juga yang mau njalin hubungan sama orang yang sok-sokan ngomong cinta tapi nggak ngerti apa itu cinta.
"Di!"
Tanganku ditarik sama Fari.
"Apa lagi? Ah, iya, ternyata aku lupa bilang, untung kamu nahan aku. Adekku yang kamu paksa menuhin nafsu bejatmu berkali-kali itu pagi tadi dibawa ke rsj sama orangtuaku. Gila dia."
Udah nggak ada lagi tangis yang keluar dari mataku. Dan bertepatan sama cekalan Fari yang lepas, aku melangkah pergi, sebelum aku juga ikutan gila dan berubah histeris jadi mbunuh dia beneran.
Cinta? Apasih sebenernya?
KAMU SEDANG MEMBACA
i am [One Shoot Completed]
Cerita Pendek[21+] #oneshoot ps. ini beneran mature content. hati-hati bacanya ehehe dan dari hati terdalam, beri aku semangat tambahan dengan vote dan komen yaa. love you #1 in #marry on September 22, 2021
![i am [One Shoot Completed]](https://img.wattpad.com/cover/171678535-64-k352666.jpg)