sang putri

23.6K 452 5
                                        





"Maaf, aku tidak sengaja."

Aku membungkuk sedikit berusaha memberi hormat. Agak was-was karena aku baru saja menabrak seorang pria yang semoga saja termasuk orang baik dan mau langsung memaafkanku. Di pasar yang sedang ramai seperti saat ini memang rawan orang saling tabrak. Hanya saja beberapa orang lebih pendendam dan membuat masalahnya semakin panjang.

"Tidak masalah nona."

Senyum bersyukurku terbit. Untunglah tabrakan tidak sengaja barusan tidak berakhir panjang. Aku sangat malas jika harus berurusan dengan polisi kerajaan saat ini.

"Mari."

Aku melangkah pergi tidak mau membuang waktuku yang berharga.

"Hey, tunggu sebentar."

Menarik napas panjang, aku menghentikan langkah karena menangkap suara pria yang tadi kutabrak. Jelas yang dimaksudnya adalah aku.

"Bisakah kita berbicara agak lama karena aku ingin bertanya lumayan banyak hal denganmu?"

Anggukan kuberikan setelah memastikan dia tidak mengenaliku sebelum tabrakan kami tadi. Siapa tahu dia orang tersesat yang membutuhkan petunjuk.

"Aku sepertinya membuang waktumu tapi aku sedang butuh jawaban."

"Ku harap bukan hal tidak penting."

"Mungkin untukmu tidak penting. Tapi bagi ku yang bukan berasal dari tempat ini pasti sangat membantu."

Penasaran, aku memerhatikan pria didepanku lebih detail dan tidak menemukan banyak perbedaan dari dirinya dengan penduduk asli tempat ini. Atau dia termasuk orang yang mudah menyesuaikan diri?

"Jadi?"

"Aku ingin menanyaimu tentang sang putri."

Kalimatnya sedikit membuat aku kaget. Untung saja sekarang kami sudah duduk di tepi sungai yang lumayan jauh dari kerumunan jadi orang-orang tidak tahu. Penduduk di daerah ini sangat menghormati Sang Raja dan keluarganya. Bukan berarti aku akan melakukannya tapi mereka bisa sangat murka jika ada yang terbukti sedang mencemarkan nama baik penguasanya.

"Sang putri?"

"Ya."

"Kenapa kamu yakin aku akan memberi tahu apa yang kamu tanyakan. Apalagi bisa saja dengan aku menjawab pertanyaanmu nyawaku yang akan jadi taruhannya."

"Kamu meminta bayaran?!"

"Tidak ada yang gratis di dunia ini boy!"

"Baiklah. Kamu ingin berapa?"

Aah. Kasihannya orang ini. Dia mungkin hanya beberapa tahun diatasku usianya tapi mempertaruhkan segalanya demi Sang Putri yang bahkan dia tidak tahu.

"Aku tidak sedang kekurangan uang."

"Kenapa semua orang disini sangat sulit jika ditanyai tentang perempuan itu."

Tertawa, aku mengambil kertas dan pena dari tas kecil yang aku bawa.

"Satu saja permintaanku yang harus kamu turuti di saat kita terakhir bertemu nanti. Itu bayaranku dan kamu akan dapat semua hal yang kamu ingin ketahui tentang Sang Putri."

Beberapa detik kami bertatapan sampai akhirnya dia mengangguk. Membuatku tanpa sadar tersenyum dan akhirnya memilih cepat pergi dari sana dengan meninggalkannya secarik kertas berisi alamat tempat dan waktu nantinya kami akan bertemu.

i am [One Shoot Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang