MAKAN MALAM (TIDAK) ROMANTIS

69 10 18
                                        

"Sayaaaang! Pas banget kamu pulang makanannya udah selesai!" seru Ara saat melihat Tama sekilas masuk ke dalam rumah dalam keadaan lesu. Sambil menata piring di atas meja, dia memperhatikan wajah suaminya itu.

Tama tidak hanya terlihat lesu, tapi seperti orang banyak pikiran. Biasanya saat mereka masih pacaran, sesuntuk-suntuknya Tama dengan pekerjaan, dia masih bisa haha hihi saat melihat Ara. Tapi ini tidak, dia hanya memindai semua makanan yang ada di piring.

"Kenapa kamu bikin tempe goreng?" tanya Tama.

"Karena aku suka. Kan kamu tau"

"Tapi aku enggak. Buatin yang mendoan ya. Aku mandi dulu...." kata Tama sambil melengos ke kamar mereka.

Ara yang merasa jengah kalau harus memasak lagi, ingin mengajukan keberatan tapi baru mau mengucapkan kata, Tama langsung mencegahnya.

"Buatin Yang! Nggak pakai debat aku lagi lemes buat berdebat mana yang lebih enak tempe goreng biasa apa tempe mendoan," sergah Tama yang membuat Ara setengah takut setengah malas.

Masa cuma gara-gara tempe dia jadi begitu?

Disela perasaan campur aduknya, dia masih membuatkan tempe mendoan kesukaan Tama. Memang sejak pacaran, diantara banyak perbedaan mereka, yang sering menimbulkan perdebatan hebat adalah lebih enak mana antara tempe goreng biasa dengan tempe mendoan. Tama tim tempe mendoan garis keras, boleh makan tanpa tempe tapi kalau harus ada tempe dia cuma mau tempe mendoan. Sedangkan Ara suka keduanya tapi lebih suka masak tempe goreng biasa karena lebih praktis.

Sesekali Ara menengok ke arah ovennya. Sebelum Tama masuk rumah, dia sudah memasukkan adonan cookiesnya ke dalam oven, tinggal menunggu sekitar dua puluh menit lagi.

.

Tempe mendoan pesanan Tama sudah selesai bersamaan dengan keluarnya Tama dari kamar mandi.

Tama sudah terlihat lebih fresh dan santai meskipun raut wajah betenya belum sepenuhnya hilang. Ara penasaran, tapi kalau ditanya langsung, dia takut Tama marah. Tama jarang begini soalnya.

Setelah duduk di kursi, seperti biasa, Tama langsung mencomot tempe mendoan buatan Ara.

"Tuh kan, kamu tuh lebih lihai buat tempe mendoan timbang tempe goreng biasa"

Serah lu bang! batin Ara dalam hati sembari menyendok nasi, sayur dan lauk ke dalam piring Tama. Juga tidak lupa air minum.

"Makasih ya Yang," kata Tama lalu memberikan senyum manisnya kepada Ara membuat Ara ikut tersenyum.

"Kamu tuh dateng-dateng kayak baju lecek, udah dikasih tempe mendoan langsung kayak mendoan beneran," celetuk Ara.

Tama tergelak, tangannya mengusap-usap rambut Ara.

"JANGAN DIRUSAK DONG. AKU TADI HABIS PAKE HAIR MASK," seru Ara.

Tama memegang ujung rambut Ara, lalu mengendus-endus di hidungnya. "Wanginya udah kecampur asap"

"Jangan mainin rambut akuuuuu! Aku susah payah bikin segemes ini rambutnya tau nggak kamu! Terus tadi aku mau potong rambut sendiri, guntingnya nggak tajem! Jadi pendek sebelah tuh liat! Untung nggak terlalu jauh bedanya!" Ara membalikkan badannya, menunjukkan bagian rambutnya yang kena potong membuat tawa Tama lepas kembali.

"Tawa terus! Bagus!"

Tama berusaha mengendalikan tawanya.

"Nanti aku bantuin kamu potong rambut. Tapi gini lucu Yang," timpal Tama sambil terus memainkan rambut Ara di sampingnya.

Ara mendelik sebal ke arah suaminya itu.

"Mending kita makan aja. Yuk,"

.

ARATAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang