05

7.3K 1.3K 29
                                        

IRENE bangkit dari kursinya hingga menimbulkan suara decitan. Ia balik badan dan menatap tajam seisi ruangan.

"Mbak, sini kantor guru. Bukan tempat gosip murahan kayak gitu!"

"Loh, temen Mbak Irene juga harusnya dikasih tau dong. Bukan cuma kita."

Dagu Irene terangkat angkuh. "Emang salah bawa anak kecil ke sini? Lagian gak ganggu guru lainnya kok."

Sebelum dijawab oleh lawan debatnya, Irene berkacak pinggang.

"Kalo mulut mbak-mbak sekalian gak bisa diem, saya kasih tau pemilik yayasan aja."

"Mentang-mentang Mbak Irene istri pemilik yayasan, tingkah Mbak keterlaluan!"

"Mulut anda lebih keterlaluan, ya! Guru macam apa punya mulut kurang ajar begitu. Kalau gak punya niat membenahi diri sendiri, mending gak usah jadi guru! Liat anak kecil aja diperlakukan kayak gini."

Lisa memegang tangan Irene. "Mbak...."

"Biarin, Lis."

Irene melirik ke arah beberapa guru yang baru saja berdebat dengannya.

"Mereka apa gak pernah mikir, anaknya besok kalau udah lahir dikata haram. Padahal jelas-jelas punya orang tua."

Tangan Lisa sontak menutup telinga Jisung. Beruntung Jisung lebih fokus pada rotinya.

"Anak haram itu gak ada!" Irene mengepalkan tangan.

"Tuhan gak pernah berkata seperti itu. Anak kecil tak berdosa gak pernah disandingkan dengan kata haram."

Wajar jika Irene sangat marah, karena dulu saat kecil ia diberi sebutan yang serupa. Hal seperti itu tidaklah baik bagi pertumbuhan anak kecil.

"Kalau gak tau kebenarannya jangan berani buka mulut!"

"Mbak!" Lisa tanpa pikir panjang langsung meninggalkan Jisung dan menahan pundak Irene.

"Guru lainnya bisa pulang lebih dahulu. Saya gak bisa membenarkan sikap kalian, jadi jangan sampai terulang."

Hyeri, salah satu guru di sana berusaha menengahi. Kalau terjadi keributan, masalah yang ada akan semakin besar.

Suasana terasa lebih lengang saat banyak guru memilih pulang duluan.

"Duduk dulu, Mbak." Lisa menuntun Irene ke mejanya setelah mendudukkan Jisung di kursi.

"Tenangin napasnya, Mbak." Ujar Lisa mengingatkan.

Irene mengambil napas dalam beberapa kali hingga emosinya mulai mereda. Namun tetap saja, rasa marah muncul tiap mengingat beberapa guru tadi yang bergunjing.

"Lain kali jangan diam."

Lisa tidak menanggapi, ia justru mengambil sebuah botol air minum dan memberikannya pada Irene.

"Mbak jangan suka marah-marah, kasian sama Baby di dalam."

"Aduh, itu hormon ibu hamil, Lis." Sahut Hyeri dari mejanya.

Irene mengusap perutnya perlahan. Memang belum kelihatan membesar karena baru menginjak dua setengah bulan.

"Seorang anak itu gak bisa milih siapa orang tuanya, Lis. Tapi anak kecil bisa pilih siapa yang ia anggap orang tua."

Gerakan Lisa berhenti.

Tetapi matanya menatap lekat ke mata Irene. Pula dengan mempertajam telinganya untuk mendengar perkataan Irene.

"Contohnya Jisung," Irene memelankan volume suaranya.

"Kamu memang bukan ibu kandungnya, kamu cuma bibinya. Tapi Jisung sayang kamu sebagai orang tuanya."

Irene melirik ke arah Jisung. Anak itu masih fokus dengan roti yang dibawa Irene.

Mau tidak mau Lisa ikut melirik Jisung.

Selama ini ia cuma bisa menahan diri karena Jisung selalu berada di dekatnya.

Ia juga berusaha untuk tidak membentak orang lain di depan Jisung. Hal tersebut akan buruk untuk mental anak kecil.

Maka dari itu Lisa memilih diam. Kadang kala menutup telinga Jisung dengan alasan sederhana. Tapi kebanyakan ia segera pergi dari tempat tersebut.

Tapi ada alasan lainnya, yang entah bagaimana bisa dibaca oleh Irene hanya lewat tatapan mata.

"Lisa, itu bukan salah Jisung kalau ia lahir dari ketidaksengajaan. Jangan anggap kehadiran Jisung sebagai kecelakaan."

Bibirnya ia gigit, menahan berbagai macam luapan di benak.

Sudah setahun semenjak Lisa berniat menerima Jisung. Namun faktanya ia belum benar-benar menerima Jisung.

Tangan Irene beralih mengusap pundak Lisa lembut. Perempuan yang lebih tua menatap dengan pandangan keibuan.

"Jisung cuma punya kamu. Ingat, Jisung udah anggap kamu sebagai ibunya."

Entah sudah ke berapa kali Irene mengatakan hal yang sama, tapi tetap saja Lisa kecewa dengan kenyataan. Hadirnya Jisung, kematian Chanyeol, hingga ia harus mengurus Jisung sampai besar.

Seolah semua beban dilimpahkan padanya. Dan sering kali Lisa merasa itu tidak adil.

[tbc.]

02/05

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

02/05

nanaourbunny

[1] StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang