06

7K 1.2K 45
                                        

KADANG kala Lisa ingin marah pada takdir. Mereka seolah mempermainkan kehidupan Lisa, membuatnya lelah dan kecewa. Semua cobaan itu datang tanpa jeda.

Hari ini seseorang yang tak asing datang ke rumah. Seorang wanita yang sudah lama tidak kelihatan di depan matanya.

Roseanne, ibu kandung Jisung.

Rose masih tampak sangat muda--umurnya pun sama dengan Lisa, hanya lebih tua sebulan. Ia bilang sudah bekerja sebagai direktur sebuah perusahaan besar.

"Kenapa datang kemari?"

Senyuman lebar terukir di bibir Rose. "Aku mau minta waktu seminggu sama Jisung. Boleh kan?"

Tubuh Lisa menegang. Saat tahun pertama kematian Chanyeol, ia pernah berharap agar Rose datang dan mengambil hak asuh Jisung darinya.

Namun sekarang Lisa merasa tidak rela.

"Bahkan kamu gak pernah ngunjungin Jisung waktu kecil!"

Nada bicara Lisa mulai naik.

Rasanya marah, mengingat dahulu Rose tidak mau menggugurkan kandungannya tetapi juga menolak mentah-mentah untuk merawat Jisung.

Wanita ini mengantar Jisung ke rumah Chanyeol lalu hilang bak di telan bumi.

Tidak pernah sekali pun datang menjenguk, tak pernah bertanya kabar Jisung, maupun memunculkan wajahnya ke depan dua bersaudara.

"Chanyeol gak bolehin aku ketemu sama Jisung," ucap Rose sendu.

"Dia ngira aku gak mau menikah karena udah punya lelaki lain. Tapi bukan begitu, Lisa. Waktu itu aku masih ngejar jabatan dan kalau aku menikah, semuanya bakal sia-sia."

Lisa menggigit bibir.

Dahulu sekali, Lisa sangat dekat dengannya. Rose sudah pernah ia anggap sebagai saudara sendiri, karena Rose adalah satu-satunya teman yang selalu ada untuknya.

Setelah bertahun-tahun menghilang, Lisa tetap tak mampu menolak permintaan Rose. Wanita itu adalah sahabat lamanya, juga ibu kandung dari Jisung.

Ketika batin Lisa masih berperang, sesosok anak kecil yang dibicarakan muncul.

Jisung berhenti melangkah. "Siapa, Ma?"

Raut wajah Rose tampak cerah dan bahagia, senyumannya semakin melebar. Berbeda dengan Lisa yang menoleh dengan tatapan terkejut.

"Ma?" tanya Jisung saat menatap wajah Lisa.

"Ini Jisung kan?" Rose bertanya dengan nada yang ditujukan pada Lisa, tetapi matanya masih memandang Jisung.

"I-Iya,"

"Boleh kan? Please," mohon Rose dengan kedua tangan menyatu dan binar berharap yang jelas di kedua matanya.

Lisa tergagap. "Uh, k-kalau Jisung mau. Kalau gak, jangan maksa-"

"Oke!" seru Rose semangat.

Lisa tidak pernah menduga Rose akan berdiri dan berjalan mendekat ke Jisung.

Ia pikir itu terlalu cepat, tapi Jisung juga tidak menjauh saat Rose memegang pundaknya.

"Halo," Rose melambaikan tangan ceria. "Nama tante Rose, tapi panggil Mama aja. Mau?"

"Mama itu," Jisung menunjuk Lisa dengan polos.

Sejenak Lisa merasa canggung di tempatnya. Ia tidak sengaja menatap Rose yang tampaknya sangat terkejut, tapi langsung menguasai diri.

"Oke, kalau panggil Ibu?"

Jisung memiringkan kepala. "Ibu?"

Rose mengangguk cepat dengan senyuman sangat lebar yang tak kunjung mereda.

Lalu ia menoleh dengan ke arah Lisa. "Gimana kalau aku bawa Jisung jalan-jalan sebentar, abis itu Jisung bisa milih. Boleh ya, Lis?"

Lagi-lagi Lisa menyetujui permohonan Rose, padahal hatinya mengatakan agar ia menolak. Ia sangat takut Jisung mau tinggal dengan Rose seiring kedekatan mereka yang semakin merekat.

Tapi Lisa bisa apa? Rose adalah ibu kandung Jisung dan ia punya hak untuk dekat dengan anaknya.

Semakin memikirkan hal tersebut, Lisa mulai sadar bahwa sejak awal ia hanyalah bibi bagi Jisung. Ia bukan ibu Jisung dan tak akan pernah mampu menggantikan posisi Rose.

Satu jam kemudian Rose dan Jisung pulang.

Ketakutan Lisa seolah menjadi nyata. Jisung mengangguk antusias dan berseru semangat.

"Mau sama Ibu!"

[tbc.]

02/06

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

02/06

nanaourbunny

[1] StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang