10

6.6K 1.2K 98
                                        

DARI tempatnya duduk, Lisa masih dapat mengawasi Jisung sedang bermain dengan beberapa anak kecil lain.

Terdengar jelas tawa Jisung yang sangat lepas, seperti tak memiliki beban apa pun. Melihat wajah Jisung yang sangat bahagia membuat Lisa tidak bisa menahan senyuman.

Dirinya terkejut saat seseorang duduk di sampingnya.

"Halo, maaf mengganggu."

Ternyata itu adalah pria di café tadi.

"Oh, halo."

Sebelum percakapan berjalan lebih lanjut, Jisung datang dan menatap pria tersebut tak suka.

Bukannya tersinggung, dia malah tersenyum ramah. "Hai, namanya siapa?"

Lisa otomatis mengusap kepala Jisung saat anak itu tidak menjawab. "Ditanyain loh."

"Icung." Jawabnya cepat dan agak ketus.

Lisa terkekeh sejenak. "Namanya Jisung."

Pria tersebut ikut tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan.

"Nama paman Taeyong, salam kenal Jisung."

Dengan wajah yang perlahan melunak, Jisung menerima jabatan tangan Taeyong.

"Kenapa?" tanya Lisa pada Jisung. Karena setahunya tadi Jisung sibuk bermain.

Jisung justru menatap Taeyong. "Paman ini jahat ke Mama?"

Lisa tidak bisa menahan tawa mendengar pertanyaan Jisung. Bukan kali pertama Jisung cemburu melihat sang mama dengan orang lain, biasanya terjadi di taman kanak-kanak.

Bagi Lisa hal ini lucu sekali.

"Engga, sayang. Paman ini baik kok." Ucapnya setelah selesai tertawa.

Jisung bergumam tak jelas, lalu memegang kedua tangan Lisa erat. Kedua matanya berbinar, entah untuk ke berapa kali dalam hari ini.

"Tadi Jeongin bilang ada kinciran, nanti liat kinciran ya, Ma?"

"Kinciran?" beo Lisa kebingungan.

"Kemarin pasar malam buka di lapangan kota, ada bianglala. Mungkin itu yang dimaksud." Sahut Taeyong.

Jisung mengangguk berkali-kali. "Itu pasar malem. Mama tadi janji loh!"

"Iya, iya, nanti malem ke sana."

Karena tak tega menolak, Lisa langsung menyetujuinya. Lagi pula ini kesempatan yang bagus menghabiskan waktu bersama Jisung sebelum Rose datang lagi.

Jisung bersorak senang lalu lari ke tempatnya bermain.

Dapat Lisa lihat Jisung yang pamer akan datang ke pasar malam nanti. Diikuti beberapa anak berseru nyaring.

"Jisung sepertinya sangat sayang pada Mamanya."

Lisa tersenyum menanggapi. Tidak ada niatan untuk membalas ucapan Taeyong.

"Maaf atas kejadian di café tadi, nona?"

"Lisa," jawabnya. "Tak apa, saya yang harusnya minta maaf karena membuat keributan."

Taeyong segera menggeleng, menolak permintaan maaf Lisa.

"Ah, saya kira tadi nona dengan seorang teman."

Lisa tersenyum geli melihat tingkah Taeyong yang kaku. "Panggil Lisa saja, temanku ada masalah mendadak di tempatnya bekerja. Jadi aku sendirian."

Taeyong mengangguk paham.

"Apa kamu pemilik café tadi?" tanya Lisa hati-hati.

"Bukan pemilik, cuma kebetulan lewat."

Lisa tahu jika Taeyong berbohong, karena itu ia langsung memberi tatapan curiga. Sedetik kemudian Taeyong tertawa setelah melihat raut wajah Lisa.

"Jangan minta maaf lagi, tak apa-apa kok, sungguh!" sergah Taeyong di sela tawanya.

Saat itu Lisa baru sadar, bahwa Taeyong yang terlihat dingin di café aslinya memiliki kepribadian yang rendah hati.

Terutama wajah Taeyong yang saat tertawa mengejutkannya--tampak sangat tak nyata.

Setelah itu mereka berdua berbincang dengan lebih santai. Membicarakan beberapa hal ringan, salah satunya adalah mengenai Jisung.

Jisung jelas menarik perhatian Taeyong, Lisa dapat melihatnya.

"Kenapa Jisung?" tanya Lisa tiba-tiba.

Taeyong menatapnya lekat, tetapi tetap diam menunggu Lisa lanjut berbicara.

"Omongan ibu tadi bisa saja benar. Kenapa mengikuti kami? Kenapa mencari tahu sejauh ini?"

Lisa memang sadar Taeyong mengikutinya setelah keluar dari café. Niatnya mampir ke taman untuk  mengetes apakah Taeyong datang menghampiri atau tidak.

Senyuman terukir di bibir Taeyong, pria itu tak tampak terkejut sedikit pun atas ucapan Lisa.

"Katamu ucapan ibu tadi salah," sanggah Taeyong lembut.

"Kalau benar?" tanya Lisa langsung.

Lisa tak mau memberi peluang lebih banyak. Pengalaman yang dulu-dulu sudah mengajarinya untuk tidak berharap tinggi pada seorang pemuda.

Namun tanggapan Taeyong jauh dari perkiraan Lisa.

"Kalau benar memangnya kenapa? Apa aku dilarang melangkah lebih jauh dari ini?"

[tbc.]

warning : pemuda kayak taeyong di sini cuma fiktif, mana ada di dunia nyata

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

warning : pemuda kayak taeyong di sini cuma fiktif, mana ada di dunia nyata

02/10

nanaourbunny

[1] StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang