Fitrah alamiah manusia untuk bertahan hidup adalah memenuhi nafsu yang bersumber dari perut, alias meredam rasa lapar. Sebagai puncak rantai makanan, manusia tidak pernah puas untuk mengisi pencernaannya dengan ini dan itu.
Seperti yang dihadapi Alpha, ia sedang mencoba berdamai dengan cacing di perutnya. Sambil gemetar Alpha menuangkan air hangat dari dispenser di sudut ruangan kantor ke dalam gelas berisi serbuk minuman untuk 'sarapan' paginya. Untung masih ada sisa satu sachet lagi minuman gandum yang ia bawa dari rumahnya minggu lalu, semoga bisa sedikit mengganjal perutnya sampai makan siang nanti.
"Fa, di cari Mbak Hara tuh tadi." ujar Erik, temannya yang duduk di meja sebelah. "Kayaknya lo diminta temenin ke luar kota, soalnya Pak Banan belom sembuh."
"Oh? Dimana Mbak Haranya?" tanya Alpha sembari mengaduk minumannya.
Erik mengedikkan bahunya sambil memencet tombol dispenser menuangkan air ke tumblernya. "Di ruangannya kali? Coba aja ketok."
Alpha langsung bergegas menuju mejanya, sebelum melangkah ke ruangan atasannya itu, ia sempatkan meneguk sedikit minumannya.
Tok tok
"Ya, masuk."
Sosok Mbak Hara terlihat sedang terfokus ke layar monitor di depannya begitu Alpha masuk.
"Mbak cari saya?"
"Ah iya." Mbak Hara langsung mengalihkan pandangannya ke Alpha, "ini Fa, saya mau minta tolong, bisa kan ya besok anterin saya ke Tangerang. Pak Banan masih belom bisa masuk, sekalian kamu ikut project ini, saya butuh satu orang lagi masuk tim soalnya."
Dalam hati Alpha bersorak senang, tandanya bulan depan gajinya bertambah lagi. "Iya, bisa Mbak. Sore ini saya selesaiin laporan mingguan."
Perempuan yang lebih tua lima tahun darinya itu tersenyum, "oke, makasih ya Fa. Pulang nanti bawa aja mobil kantor, biar besok pagi kamu bisa jemput saya dari rumah."
"Saya yang makasih Mbak. Nanti saya minta kuncinya ke Pak Yayan ya Mbak."
Mbak Hara mengangguk. "Ya udah, besok saya kabarin lagi ya."
"Iya Mbak, saya permisi."
Selepas kunjungannya dari ruangan atasannya, Alpha bersemangat menyelesaikan laporan mingguannya. Hilang sudah rasa laparnya, hanya satu yang ia pikirkan, uang tambahan untuk melanjutkan hidupnya dan keempat anggota keluarganya.
*****
Wendi memarkir mundurkan mobilnya di depan sebuah cafe, matanya melirik sosok Gamma yang masih duduk tanpa berganti posisi sejak ia bangun dari tidur singkatnya.
"Yosh! Kuy turun." pekik Wendi setelah mematikan mesin mobilnya dan menarik rem tangan.
Gamma menghela nafas panjang sebelum membuka pintu mobil dan keluar menyusul kawannya yang berjalan duluan. Harum kopi langsung menyeruak menerobos penciuman begitu pintu cafe terbuka. Cukup ramai pengunjung di pagi menjelang siang ini.
"Wen, tumben jam segini kesininya, skip lo ya?"
"Enggak kok, emang kosong." jelas Wendi ke seorang wanita di belakang meja barista. "Tumben sendirian aja."
"Nah itu, pusing gue, bantuin sini, liat banyak orang tuh." orang itu melempar apron merah maroon ke arah Wendi. "Kudu buka lowongan ini mah, meninggoy kalau cuma bertiga, apalagi malem minggu nanti."
"Gak, gak, gue bawa temen noh, masa gue tinggalin."
Gamma tersenyum canggung, "santai Wen, gue duduk aja kalo gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Skeletons
Short StoryThey said 'blood is thicker than water', but for us, the skeletons are stronger than diamond.
