7. (masih) Cetak miring

149 16 6
                                        

~Pertama-tama, aku memohon maaf atas keterbengkalainya cerita ini wkwkwk. Di Taiwan susah cari waktu cuy untuk nulis-nulis. Dan yay, aku sudah lulus (3 taun lalu wkwkwk), alhamdulillah. Mari lanjutkan cerita ampas ini.

-LUV,

AL

Mari kita lanjutkan lagi, kisah ber-cetak miring dari chapter sebelumnya.

*****

Dengan langkah gontai Alpha mengantar Delta ke sekolahnya. Si bungsu merengek menolak untuk berangkat ke sekolah hari ini. Dia memajukan bibirnya, merengut, meminta untuk ikut Ayah ke rumah sakit.

"Ayok Mas kita pulang aja, aku gak mau sekolah." ujarnya yang kesekian kali. "Lagian...." Delta menundukkan pandangannya, kakinya ia gesek-gesekkan ke aspal. ".... Bunda juga gak tau dimana." lanjutnya sedikit berbisik.

Alpha berpikir sejenak, mencoba menjelaskan situasi yang runyam ini ke adiknya yang masih polos.

"Del, kalau kamu sekolah, pas pulang, siapa tau Ayah bawa es krim pelangi." bujuknya kepada si bungsu.

Sembari lengannya mengelap ingus, Delta mulai tertarik dengan iming-iming kakak sulungnya. Sedetik, dia melupakan bunda, demi es krim pelangi pulang sekolah nanti.

*****

Mata Delta terus menerus melirik jam dinding di dalam kelasnya.

Tak tok tak tok

Bunyinya begitu nyaring, memekakan pendengarannya. Padahal di kelas sekarang sedang riuh rendah oleh suara kawan-kawannya yang bernyanyi. Delta tidak perduli, meskipun berulang kali ibu guru memanggil namanya ­­­­– menegurnya untuk ikut bernyanyi bersama, ia tetap fokus pada jam dinding bulat berwarna kuning cerah di atas papan tulis.

"Ayo dong, cepet pulang" gumamnya pelan. "Aku pengen nyari Bunda."

Ah, sungguh, ada perasaan ngilu tiap kali Delta memikirkan Bundanya. Namun ia sungkan untuk meminta Ayah mencari Bunda hari ini, sebab tragedi tadi pagi yang menimpa Gamma, jadi dipastikan Ayah sibuk harus menjaga Kakaknya yang satu itu.

"Anak-anak, ayo duduknya yang rapi. Yang paling rapi boleh pulang duluan." Suara Ibu Yunna dari sudut ruang kelas bergema.

Delta merapikan dirinya sebaik mungkin, berharap namanya cepat dipanggil.

"Delta..." Akhirnya Ibu Yunna memanggil namanya. Secepat kilat Delta berdiri, kemudian berlari menghampiri gurunya untuk pamit. "Hati-hati di jalan ya."

Delta mengangguk. Setelah mencium punggung tangan Bu Yunna, Delta melesat keluar kelas. Ia bertengger di depan gerbang, menanti Alpha atau Ayah untuk menjemputnya.

Satu persatu teman sekelasnya beranjak. Menyisakan ia sendirian di halaman sekolah. Biasanya sembari menunggu, Delta asik sendiri bermain jungkat-jungkit atau ayunan. Tapi kali ini ia tidak tertarik sama sekali. Tangannya sibuk menulis di tanah, sambil sesekali ia mendongakkan kepalanya, mengecek kedatangan penjemputnya.

"Delta, kok sendirian, Nak?"

Kepalanya menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Bu Yunna ternyata.

"Nunggu di jemput Bu. Lama banget, aku bosen." Ucap Delta jujur.

"Loh, Bundanya kemana?"

Delta menunduk. Genangan air terkumpul di ujung netranya. Ia mengusap matanya kasar dengan tangannya, kemudian menggeleng kepalanya pelan.

SkeletonsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang