Pagi buta Alpha terbangun, ia terlonjak kaget karena hampir jatuh dari kursinya. Sebuah ringisan lolos dari mulutnya, lututnya terbentur sisi ranjang Gamma, yang untung karenanya dia tidak benar-benar jatuh mencium lantai rumah sakit yang dingin.
Sejurus, lelaki berkaki jenjang itu berdiri membenarkan tubuhnya. Seluruh badannya terasa pegal dan kaku akibat tidur di kursi semalaman. Dengan mata yang terasa panas, ia mengusap wajahnya pelan, mencoba menebas rasa kantuk yang bersarang. Setelah melakukan sedikit peregangan, ia melirik ke arah adiknya, Gamma.
Masih dalam posisi tertidur, dengan selimut yang menutupinya sampai dada. Alpha meletakkan punggung tangannya ke arah kening Gamma, mencoba mengecek suhu tubuhnya yang ringkih.
Rona wajah Gamma terlihat cukup mendingan hari ini, tubuhnya pun sudah bisa dikatakan membaik, tidak ada demam lagi pagi ini. Alpha melirik oximeter yang ada di jari Gamma. Bulan sabit langsung terbentuk di bibirnya begitu melihat nilai saturasi yang menembus angka 98%, meski nasal cannula masih betah menempel di hidung adiknya.
Langit di luar masih gelap. Perlahan Alpha berjalan keluar, ia mengenakan jaket tipisnya. Sepertinya kopi panas terdengar menarik untuk menjaga kewarasannya saat ini. Bukan karena ia benar-benar ingin minum kopi, tapi ia butuh sesuatu untuk membuat kepalanya bekerja lagi.
Lorong rumah sakit masih cukup sepi. Hanya ada beberapa perawat yang sedang duduk di nurse station, beberapa lainnya terlihat sedang belajar dan mencatat entah apa. Alpha berjalan melintasi mereka, menuju mesin kopi otomatis di sudut koridor.
Ia merogoh saku celananya, mengambil selembar uang sepuluh ribuan, kemudian menekan tombol tanpa banyak berpikir. Setelah gelasnya penuh, ia tidak langsung mengambilnya. Ada jeda beberapa menit karena pikirannya melayang, atau mungkin ia sedang bengong, atau bisa juga karena ia masih mengantuk.
Tangannya mendorong kopi yang ada di genggamannya ke arah mulut, menyesap sedikit demi sedikit cairan berwarna hitam pekat yang masih mengepul asapnya. Hidungnya tertekuk begitu rasa pahit mampir di lidahnya.
Ia berjalan pelan menuju ruang tunggu, matanya menatap layar tv besar yang tergantung di atas. Hanya gambar yang nampak, karena mode mute membisukan suara yang ada di sana. Sesekali ia menyesap lagi kopinya, sembari mengecek ponselnya. Tidak terasa satu jam berlalu. Langit di luar juga sudah mulai membiru, meski masih cukup gelap karena matahari belum muncul.
Kembali ke dalam ruang rawat Gamma, anak itu masih tertidur pulas. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya yang sedikit terbuka, juga matanya yang tidak sepenuhnya tertutup, tanda ia benar-benar teler.
Napasnya naik turun, lebih rapi dari semalam. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya, tapi napasnya tidak lagi berbunyi keras. Dada Gamma tidak lagi tertarik-tarik setiap kali menarik napas. Alpha berdiri perlahan, mendekat ke ranjang, matanya otomatis kembali menghitung.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lebih tenang.
Alpha menghembuskan napas panjang, baru sadar sejak kapan ia menahannya. Ia meraih ponsel, membaca satu notifikasi tak terbaca.
Mbak Hara.
Tumben sekali atasannya itu menghubunginya di pagi weekend seperti ini. Ah, iya, mungkin dia menghubungi karena Alpha tidak lagi memberi kabar setelah dua hari lalu ia pamit pulang tergesa-gesa. Ditambah kemarin ia cuti, jadi tidak sempat meminta maaf secara langsung. Wajah Alpha memerah karena malu. Bisa-bisanya dia meninggalkan atasannya itu di luar kota di tengah meeting bersama client. Meskipun dia pergi juga atas izin dari Mbak Hara, tapi ia tetap merasa tidak enak.
Tangannya mengusap layar HP-nya, menampilkan pesan singkat dari Mbak Hara.
Mbak Hara
"Alpha, MoU udah selesai, udah ACC. Nanti tolong bikin draft sama sample desain yang kemarin ya. Btw, saya udah kirim bonus kamu duluan. Jangan sungkan ya. Semoga Gamma cepet sembuh. Sampai ketemu Senin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Skeletons
CerpenThey said 'blood is thicker than water', but for us, the skeletons are stronger than diamond.
