8. Now and Then

144 18 0
                                        

Deru mesin nebulizer di ruang rawat inap itu tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Alpha merasa kepalanya penuh.

Gamma sudah sedikit lebih tenang dibandingkan satu jam yang lalu, tapi napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Masker nebulizer menutupi separuh wajahnya, uap putih tipis masih keluar pelan-pelan dari alat itu. Dadanya naik turun dengan ritme yang lebih lambat, meskipun bahunya masih tampak tegang. Sesekali matanya terbuka, hanya memastikan sosok Alpha dan Delta masih di ruang inapnya. Itu cukup untuk membuatnya tenang.

Alpha berdiri di sisi ranjang. Tangannya masuk ke saku jaket, ibu jarinya bergerak pelan—kebiasaan lama setiap kali ia berusaha terlihat tenang. Matanya tidak lepas dari Gamma. Ia tidak sedang melamun. Ia menghitung napas.

Terlalu pendek.
Jeda terlalu cepat.

Dibandingkan sebelumnya, memang lebih rapi. Tapi belum normal. Alpha tahu itu. Beberapa kali ia berdecak melihat kondisi adiknya yang satu itu. Masih belum percaya, bisa-bisanya dua penyakit diborong dalam waktu yang bersaman.

Di sisi lain, Delta berdiri dekat jendela, bersandar pada dinding. Tangan disilangkan di dada, wajahnya datar, tapi matanya waspada. Dari tadi ia tidak bicara, hanya memperhatikan setiap gerak kecil Gamma.

“Gam,” Delta akhirnya bersuara, suaranya rendah. “Udah mendingan?”  Pertanyaan itu keluar setelah perawat selesai memberi obat lewat infus, tak lama setelah nebulizer dilepas, digantikan selang oksigen yang beretengger di hidung Gamma.

Gamma membuka mata, menoleh sedikit. Senyum kecil muncul—'senyum kebiasaan'. “Mayan.”

Itu setengah bohong, setengah jujur. Delta tidak langsung menanggapi, hanya mengangguk.

Setelah sekian detik terjeda, ia membuka mulutnya. “Ampun dah.” Delta menelan ludah. “Sinting lo, gue kira lo hampir lewat.”

Alpha melirik cepat ke Delta, lalu kembali ke Gamma. Gamma tertawa kecil—terlalu kecil untuk orang yang bilang sudah enakan.

“Nggak lah,” katanya. "Lebay. Masih idup gini.”

Delta mengerutkan kening. Ia melangkah lebih dekat.

"Liat kan Mas, sakit juga masih bisa-bisanya dia cengar-cengir." ujar Delta mengadu. Si sulung hanya menatap keduanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya tersilang di depan dadanya.

“Tangan lo gemeter gitu Gam.” Alpha khawatir, sedari tadi dia menyelidik tangan Gamma yang tersembunyi di balik selimut. Terlihat juga  Gamma seperti menahan rahangnya yang sedikit gemeletuk. "Dingin?"

Gamma refleks menarik tangannya sedikit, meletakkannya lagi di bawah selimut. “Kagak, biasa aja. Efek obat.”

Delta mengangguk pelan. “Steroid?”

Gamma mengedikkan bahunya. “Magnesium sama steroid sedenger gue tadi,” jawab Gamma singkat.

Alpha menoleh cepat. “Kok tau?”

Delta mengangkat bahu. “Perawat tadi ngomong.”

"Nguping aja lo bocah." tukas Alpha sembari menyikut tangan Delta, menghadirkan senyuman tipis dari Gamma.

Kemudian hening mengambang.

Gamma menghela napas. “Udah aman. Jangan pada tegang ngapa sih?!” Kalimat itu diakhiri batuk kecil yang langsung membantah ucapannya sendiri.

Alpha tidak menjawab. Delta justru menatap Gamma lebih lama, lalu berkata, datar tapi menonjok ulu-hati.

“Apaan sih, lo selalu bilang aman pas kelihatan paling nggak aman. Heran gue.”

SkeletonsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang