Bab 9 : Manusia Berhati Dingin

13 7 0
                                        

Tidak ada yang bisa Amara gambarkan untuk mewakili keadaan hatinya saat ini. Satu perasaan yang mencuat dalam dirinya adalah kecewa.

Tidak ada suara yang memecah keheningan. Ruang makan diisi suasana berat. Amara bahkan tidak sanggup mengangkat wajahnya hanya untuk melihat sosok pria yang duduk jauh bersebrangan dengannya.

Bagaimana ini bisa disebut langkah awal, jika sejak awal Amara tidak diberi kesempatan?

Rasanya Amara ingin melarikan diri ke tempat yang jauh.

Sangat ingin-

"Bagaimana rasa steaknya, nona?"

Amara ingin melarikan diri, ditempat yang tidak ada Heinley didalamnya.

Tanpa menoleh kesamping, Amara tau keberadaan Heinley yang selalu bersinar, menanyakan rasa makanan dengan raut lugunya. Hambar.

"Rasanya," Amara mendorong satu potong bagian steak yang kecil, menoleh tersenyum. "Enak."

"Wah, benarkah?" Heinley menepuk tangan sekali, tersenyum secerah matahari. "Terima kasih, nona. Aku memasaknya sendiri. Tapi karena akau tidak terlalu pandai memasak, aku pikir nona tidak menyukainya,"

Kedua tangan Heinley bertaut. Amara terdiam sesaat saat melihat wajah itu semakin berbinar, seolah yang dia lakukan adalah yang paling menyenangkan. "Tapi syukurlah anda menyukainya." Heinley tersenyum.

"Ah," Amara mengangguk, membiarkan tatapan Heinley tetap cerah. Jika Amara tidak bisa memilikinya, setidakya Heinley dapat memilikinya. "Ya, aku menyukainya."

Kenapa dunia sangat tidak adil?

"Heinley, aku dengar sekolahmu akan mengadakan kemah."

Mendengar suara pria itu, Amara melirik, menyorot redup pada sosok Carlson yang hanya berbicara pada Heinley.

"Ya, tuan Duke. Kemungkinan kemah tahun ini akan menjadi yang paling sibuk, karena ini masuk kebagian kegiatan penting."

"Kalau begitu, jaga kesehatanmu."

Heinley tersenyum manis. "Tentu saja."

Enaknya. Tidak perlu bersusah payah, Heinley bisa mendapatkan banyak perhatian. Seolah dunia ini memang diciptakan untuk dirinya.

Amara menggenggam alat makannya erat. Gadis itu menggigit bibir bawahnya mendengar percakapan kedua orang yang menganggap keberadaannya ini hanya sebagai bayangan. Kenapa Carlson tidak pernah berbicara dan memperlakukannya dengan baik seperti perlakuannya pada Heinley?

"Nona juga ikut, ya kan?" Heinley sempat menoleh dan melontarkan pertanyaan. Amara melirik Carlson sejenak, melihat tatapan pria itu tertuju padanya. Dingin.

"Hm," Amara menfalihkan pandangan, muram. Perlahan menutupi keberadaannya semakin jauh dan jauh. Lebih baik seperti ini daripada Amara mencoba kembali dan terjatuh semakin dalam.

Yang dia lakukan hanya menghabiskan makan malamnya dengan cepat agar bisa kembali kekamarnya.

"Bagaimana persiapannya?" Carlson kembali bertanya. Nampak binar antusias saat Heinley menjawabnya.

"Kami sudah mempersiapkan kegiatan dikemah nanti. Dan saya yang mendapat tugas menyiapkan sarapan dan makan malam."

"Itu bagus." Carlson berpendar, melirik sosok Amara yang tertekan dalam diam memakan makan malamnya tidak bernafsu. "Kalau begitu, apa kau mau membuatkanku sarapan dan makan malam setiap hari?"

"Ya?"

Eh?

Amara dan Heinley mendongak bersamaan. Berbeda dengan raut wajah Heinley yang nampak tak percaya diselingi keripan bahagia, Amara kebalikannya. Apa maksudnya ini?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 29, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

|KEKIRA|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang