Jalan-jalan

13 3 0
                                    

"Kamu bilang apa ke ayah?" tentu saja aku sedikit tidak percaya, yaa walau anak ini memang mental baja, gak ada takut-takutnya, heran.

"Ada deh, tanya aja ke ayah," jawabnya

Gimana mau nanya coba, sekarang aja aku udah takut bakal di tanya-tanya pria paruh baya yang selalu nomor satu dalam hidupku itu.

"Bilang dong, Please. Aku kepo," ucapku dimanja-manjakan, itu juga dengan alasan

"Aduh, oleng nih kuda putih kesayangan pangeran karena dibaperin tuan putri," lagi-lagi tidak bisa serius.

Ya, aku menepati janji ku tadi pada Dana, kami jalan-jalan, eh motor-motor, eh apasih. Intinya keliling aja, tanpa tujuan.

Itu juga karena aku takut pulang, takut ditanyain ayah.

Takut dimarahin, apalagi kalo sampe tau putri kecilnya ini udah kenal pacaran, sama Gasendra Pramadana pula. Habis sudah aku.

"Tadi aku izin ke ayah, trus di izinin gitu aja, emang siapa sih yang bisa nolak Pramadana?" ucapnya sombong.

"Belagu, kamu iming-imingin apa ke ayah?" tentu saja aku gak percaya penuh pada makhluk satu ini.

"Gak ada tuan putri, tadi Dana cuma izin ke ayah untuk bawa putrinya ini keliling kota sampe malam, sampe setelah maghrib deh," jawabnya lagi

"Hm, tumben ayah izinin, kamu kasih ayah pelet apa? ayo ngaku," aku masi tidak percaya, sangat batu ya teman.

"Kalo gak percaya sini aku cium," lalu ia memelankan laju motornya itu.
Aku waspada, takut keningku atau bahkan pipiku diperawani makhluk ini lagi. Jangan sampai, aku ini masih suci.

"Heh, jangan macam-macam ya, atau aku teriak nih," ancam ku

"Hahahaha, lucu banget sih, sampe panik, tenang aja Tari, Dana ini orang yang baik," ucapnya terkekeh.

Pembelaan macam apa itu, jelas-jelas tadi dia baru saja mengecup keningku, aduh aku aja masih ingat rasanya gimana. Dasar Bestari, ayo lupain Tari, kamu bisa.

"Apaan! tadi kamu udah merawanin kening ku ya! jangan asal nyosor aja, tau sopan santun gak sih," aku kesal, benar-benar kesal, baru aja hari pertama dengan status baru, rasanya sama aja, dia jahil. Lebih baik temenan dibanding pacaran.

Eh, Tari! jangan gitu, nanti dia nangis.

"Apa itu merawanin? Hahaha lucunya pacar ku," jawabnya, selalu seperti itu.

"Udah ah, nanti bensin mu abis, ayo pulang. Kita masih bisa jalan-jalan besok. Ayo pulang ayo," rengek ku, sungguh aku mau baringan aja dikasur sambil mutar vinyl-vinyl favorit ku dan ayah.

"Uang ku masih cukup untuk beli bensin lagi, aku masih mau berduaan sama kamu,"
memang tidak ada capek nya ini anak.

"Heh, harus hemat! kamu gak cuma miskinin diri sendiri, tapi juga bikin bumi miskin," aku sudah capek beradu mulut seperti ini, Dana.

"Iya sayang, kita pulang," putusnya.

Ah, akhirnya.

..

Dan sekarang kuda putih alias Vespa putih kesayangan ini sudah berhenti tepat di depan pagar rumahku.
Kenapa rasanya sekarang aku yang tidak rela berpisah dari makhluk ini sih.

Aku masih belum beranjak dari vespa ini.

Masih beradu pendapat antara hati dan otak ku. Harus pulang, atau cari alasan lain biar ga pulang? duh aku bingung.

"Kenapa?" kata itu berhasil keluar dari mulutnya.

"Ehm itu, aku kepengin martabak manis, temenin aku beli ya, di depan komplek tadi kayanya aku nampak deh gerobaknya," jawab ku

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 14, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Gasendra PramadanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang