Haii!
Pertama-tama aku mau bilang terimakasih untuk yang bersedia mampir di cerita ini. Semoga kalian suka:)
Aku mu tanya Kalian tau cerita ini dari mana?
Selamat bergabung bersama kisah Lesya dan Liam♡
▪♡▪♡▪♡▪♡▪
"Mama! " panggil seorang gadis kecil.
"Iya Lesya? " tanya orang yang lebih tua dari nya, yaitu mama dari gadis kecil itu.
"Eca mau dibawa kemana ma? " tanya gadis kecil itu dengan suara khas nya yang menggemaskan.
"Kita akan pergi ke asrama sayang, nanti Lesya tinggal disana yah? Pas Lesya udah besar nanti mama akan jemput Lesya disana " Jawab mama Lesya.
Gadis kecil yang di panggil Lesya itu mendonggak menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca. "Mama mau buang Eca? " tanya Lesya lirih.
"Bukan sayang, mama hanya menitipkan kamu disana agar Lesya bisa belajar disana, bisa jadi juara kelas, bisa bawa piala dan bisa buat mama bangga " jawab mama nya penuh pengertian.
"Papa juga? " tanya Lesya kepada Ibunya.
Ibu dari anak itu sedikit tertegun "i-iya papa kamu juga pasti bangga sama kamu, kalau kamu bisa bawa pulang piala " ucap mama nya
Mendengar jawaban Mama nya, mata Eca berbinar "Kalau gitu Eca mau belajar di asrama " seru Eca semangat.
"Iya. Kamu bakal belajar di asrama " ucap mama nya
Lagi? Huh.. Terkadang Ia menyesali perkataan nya dulu.
Dulu... Ia kira Mama nya benar-benar menitipkan nya di sebuah asrama, tetapi nyatanya? Ini bukan asrama tetapi seperti neraka baginya.
Mengapa Ia menyebut Neraka ? Karena tempat nya sekarang bukan lah asrama tetapi Pusat Rehabilitasi anak. Tempat dimana anak-anak yang tertangkap melanggar aturan seperti mencuri, bahkan membunuh di berikan sedikit pelajaran di tempat ini.
Lalu Lesya? Ia sama sekali bukan orang seperti itu, bahkan Ia sering di sebut anak yang baik oleh tetangga nya, tetapi mengapa Mama nya sendiri tega meninggalka--Emm lebih tepat nya membuang-- Lesya di tempat seperti ini?
Sudah dua tahun lamanya, Ia di buang ke tempat ini. Dan Lesya tidak pernah lelah menunggu Mamanya yang berjanji akan menjemputnya. Sekarang Lesya berpikir tidak ada gunanya lagi menunggu, karena pada kenyataan nya Ia memang tidak diinginkan itu sebabnya Mama nya sendiri membuang diri nya di tempat ini.
"Kepada seluruh Prisoners di harapkan berkumpul di Aula " Suara Microphon terdengar menggema di tempat yang kali ini sedang Ia tempati.
Prisoners panggilan khusus untuk semua anak yang berada di tempat ini. Prisoners artinya tahanan. Tidak salah? Lesya kesini untuk menuntut ilmu, tetapi malah menjadi seorang tahanan.
"103 sebaiknya kita segera ke Aula " ajak seorang anak berumur 6 tahun sama seperti dirinya. Nama nya adalah Aiza Zaidy. Nama yang baguskan? tetapi nama bagusnya hilang begitu saja saat Ia memasuki tempat ini. Dan yah nama mereka di ganti dengan angka.
"Baiklah 102 ".
Alesya dan Aiza memiliki kamar yang sama sehingga angka mereka pun tak jauh bedanya. Angka 102 dan 103 panggilan untuk Aiza dan Alesya.
Alesya dan Aiza berjalan beriringan menuju Aula, disana sudah banyak anak-anak baik yang seumuran dengan nya maupun yang lebih tua dari nya. Mereka digiring untuk berbaris rapi.
"Baiklah semua sudah berkumpul? " tanya seorang wanita paruh baya yang berdiri tegap di atas podium dengan aura yang memancarkan ketegasan.
"Sudah Mayzi " seru semua Prisoners serempak.
Mayzi panggilan wanita tersebut, mereka dilarang memanggil wanita tersebut dengan sebutan Ibu. Entah apa sebabnya, mereka semua tidak tahu.
Mayzi mengedarkan pandangannya ke seluruh aula "103 " panggil Mayzi.
Alesya sontak menegakkan tubuhnya yang tiba-tiba menegang " i-iya Mayzi " jawab Lesya lirih, namun karena keadaan yang sunyi membuat suara nya terdengar nyaring.
"Maju! " dengan ragu Lesya melangkah maju ke depan dan berhenti tepat di hadapan podium.
"Sekarang jawab dengan jujur! mengapa kau di kirim kesini? Sudah dua tahun lamanya saya menunggu jawaban kamu tapi kamu hanya diam dan tidak mengakui kesalahan mu." Uajar Mayzi geram.
Lagi? Alesya rasanya muak dengan pertanyaan itu. Ingin rasanya Ia berteriak dan mengatakan bahwa 'DIA DI BUANG KE SINI! ' namun keberanian nya belum bisa mendominasi dirinya.
Alesya menggeleng sebagai jawaban, tentu saja hal tersebut membuat Mayzi jera. Selama dua tahun ini terus saja Prisoners dengan nomor 103 menjawab pertanyaan nya dengan gelengan.
"Penjaga!! " teriak Mayzi tegas membuat Semua Prisoners terlonjat kaget termasuk Alesya bahkan tubuhnya sampai terguncang sekarang.
"Iya Mayzi? " penjaga menghampiri Mayzi kemudian menunduk sopan.
"Bawa Prisoners 103 ke dalam ruangan khusus! " Alesya membulatkan matanya, tentu saja Ia tau apa itu ruangan khusus.
Ruangan yang sengaja di pisahkan dari bangunan lain dan tidak ada celah sedikitpun untuk melarikan diri, disana hanya terdapat jendela kecil yang tertutupi seng dari luar sehingga ruangan tersebut nampak gelap gulita.
"T-tidak Mayzi jangan!! " mohon Lesya lirih.
Mayzi memandang Lesya marah dengan sekali hentakkan Ia mendorong tubuh Lesya ke arah penjaga, untung saja dengan sigap penjaga menangkapnya sehingga Ia tidak jadi mencium lantai.
Bahu Alesya berguncang pertanda Ia sedang menangis, apalagi saat tubuhnya diseret paksa oleh penjaga menuju tempat yang selama ini Ia takutkan, yaitu Ruangan Khusus.
Aiza hanya mampu memandang teman satu kamarnya prihatin. Ia berpikir mengapa Alesya tidak jujur saja kepada Mayzi alasan Ia di bawa kesini. Tentu saja pikiran tersebut juga ada di benak para Prisoners lain nya. Nyatanya mereka tidak tahu bahwa Alesya sendiri tidak tahu mengapa Ia dikirim ke sini oleh mamah nya.
"Pak aku mohon pak jangan kurung aku di sana" pinta Lesya dengan air mata yang sudah bercucuran di pipinya.
"Saya tidak bisa berbuat apa-apa nak! Kenapa juga kamu tidak jujur dan mengaku kepada Mayzi kenapa kau bisa disini? " ujar Bapak penjaga sambil terus memaksa Lesya berjalan.
Disini di depan ruangan dengan pintu terkunci rapat, perlahan suara kunci di putar terdengar mengerikkan di telinga anak gadis seusianya. Pintu di buka perlahan dan...
Blam
Semua gelap hanya terdapat satu lampu kecil yang bahkan sudah mati dan tidak mampu menerangi tempat itu. tempat tidur kecil dan meja serta lemari pakaian sama seperti di kamarnya dulu. Dan terdapat kamar mandi kecil yang terdapat di sudut ruangan.
Penjaga itu mendorong Lesya ke dalam ruangan gelap itu kemudian menutup dan mengunci kembali pintunya. Membiarkan Lesya terisak ketakutan di sudut ruangan. Ruangan ini sangat gelap apalagi sekarang waktu menunjukkan jam 20.17 malam.
Dan akhirnya Lesya terkurung di tempat ini tanpa bisa keluar. Pintu pun hanya di buka saat Penjaga memberinya makanan dan buku untuk belajar. Kehidupan Lesya berubah 180°, saat dulu Ia penuh dengan keceriaan kini hanya ada kesunyian yang Ia rasakan, saat dulu Ia takut akan kegelapan kini kegelapan lah yang menjadi teman nya. Ia tidak punya keluarga atau pun teman. Karena Ia berpikir tidak ada yang tulus menyayangi nya di dunia ini. Karena kini seorang ALESYA ESTRELLA NICHOLE'S hanya menyukai keheningan, kesendirian, dan kegelapan. Selebihnya? Ia anggap angin lalu.
▪♡▪♡▪♡▪♡▪
Vote yah!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Dreamsy [On Going]
RomanceLiam? Dia terpaku menatap gadis di dalam ruangan tersebut, sangat.... Cantik. Terutama bola mata nya yang hitam pekat sepekat langit malam seakan membawa Liam terjun ke dalam lautan hitam namun penuh kenyamanan. Wajah mungil dengan hidung bak peroso...
![Dreamsy [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/260975063-64-k841750.jpg)