VI.

2.3K 212 31
                                        

"Sebelumnya saya ingin memohon maaf karena te—"

"Ada keperluan apa Direktur kemari?" tanya pria itu cepat.

Pemuda manis itu kini gelagapan, mengeratkan cengkraman pada blazer hitam yang tengah ia genggam. Manik hitam itu bergulir kesana kemari, pemuda tersebut mendadak cemas. Bukan itu, hanya saja tatapan menusuk serta mengintimidasi telah dipancarkan sang pria jangkung sejak ia membukakan pintu rumah.

Jungwoo menyesal, harusnya ia tadi tidak usah memberi tahu adik dari Direkturnya untuk datang kemari. Jikalau ia tau akan se-menyeramkan ini.

"A-ah itu, Wakil Direktur silahkan duduk dahulu, saya akan menyiapkan segelas teh hangat. Saya mohon," Bujuk Jungwoo.

Pria itu menyerah mendengar suara lembut Jungwoo melirih. Ia menurut, mendudukkan diri dihadapan si pria tampan yang kini telah terkapar lemas diatas sofa kusam. Setelah kepergian Jungwoo ke dapur yang berencana untuk membuatkan teh, netra segelap malam itu menatap tajam kearah sang kakak, Sungchan tersebut tengah membayangkan kepalan tangannya mendarat apik dipipi mulus Jaehyun.

Pasti menyenangkan, pikirnya.

"Haruskah kita bersaing?" Sungchan menaikkan dagu, menunjukkan ekspresi menantang.

Tapi kemudian ia mengacak-acak rambut frustasi, tidak tau mengapa harus sesulit ini. Beberapa hari ini, kepala Sungchan dipenuhi pikiran-pikiran tentang Jungwoo dengan sang kakak.

Mulai dari kenapa Jaehyun yang tak ada henti-hentinya mengikuti Jungwoo kemana-mana, menyuruh si pemuda manis melakukan ini dan itu tanpa tau bahwa Jungwoo juga butuh waktu beristirahat.

Rasa was-was selalu bergumul dibawah lipatan rasa penasaran, semua berkecamuk menjadi satu.

Tapi semuanya telah terjawab, saat manik Sungchan tak sengaja melihat obsidian hitam milik sang kakak yang menatap pujaan hatinya, dengan tatapan cinta.

Sungchan menghela nafas, "Akan sangat sulit untuk mengalahkan orang yang tidak kenal kata menyerah."

Hening. Pria itu melamun ditengah kesunyian, manik hitamnya tengah fokus mengelilingi ruang tamu Jungwoo dari segala penjuru. Ruang tamu yang bahkan hanya seluas kamar mandi dimansionnya terlihat begitu rapih, barang-barang kecil sekalipun dijejer sesuai ukuran dan merek, benar-benar luar biasa.

Atensi Sungchan beralih pada Stand Hanger yang dipenuhi baju-baju serta kain-kain bagus dan satu buah mesin jahit bewarna putih.

"Ibu saya adalah seorang penjahit."

Entah sejak kapan Jungwoo telah berada disamping Sungchan, yang pasti sejak kedua mata pria itu masih sibuk menganalisa ruang tamunya. Jungwoo meletakkan secangkir gelas berisi teh hangat ke atas meja kayu didepan sofa, "Silahkan, Pak."

Sungchan mengangguk, "Terimakasih."

Hening.

"Bagaimana caranya bersaing?"

"Iya?" Jungwoo kembali bertanya, ia takut pendengarannya salah tangkap.

Sungchan melengos, memilih untuk meraih secangkir teh yang telah Jungwoo siapkan. Sungchan menghentikan pergerakan tangannya saat cangkir itu telah berada tepat dihadapan bibir, merasakan uap panas yang menerpa sekitaran mulutnya.

Terlalu fokus melamunkan sesuatu, kebingungan yang menderanya begitu sulit untuk diungkapkan. Cukup lama, sampai Jungwoo bisa melihat bahwa sekitaran mulut Sungchan telah berembun.

"Pak?" Jungwoo mengintrupsi keheningan, menyodorkan selembar tisu pada Sungchan yang telah sadar dari lamunannya. "I-ini,"

Meletakkan cangkir itu kembali keatas meja, tanpa mencobanya sedikitpun. Sungchan meraih tisu yang Jungwoo sodorkan, "Terimakasih."

DOMINANT | Jaewoo ft SungchanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang