Happy Reading 💙
Pagi harinya, sekitar pukul 05.45 Rizan sudah berada di sekolah. Hal ini dikarenakan ia harus menemui seseorang, waktu pertaruhan selesai sisa tiga minggu lagi, dan Rizan harus cepat-cepat berhasil dengan misinya jika ia tidak mau lamborghini barunya diserahkan begitu saja kepada Satria. Sebenarnya Rizan menyesal karena menerima pertaruhan ini, dari awal pun Rizan merasa bahwa hal yang dia lakukan ini sudah keterlaluan, ditambah pertanyaan Genan yang semalam. Namun gengsinya sangat tinggi, jadi ia mau tidak mau harus mau menerima pertaruhan konyol ini.
Ngomong-ngomong, Satria dan Genan masih di rumah Rizan dengan mimpinya. Rizan sengaja meninggalkan mereka di rumahnya, Satria dan Genan susah sekali jika dibangunkan dari tidurnya, apalagi Satria yang sudah seperti bangkai hidup. Rizan masa bodo jika nantinya Satria dan Genan akan memarahinya karena ke sekolah lebih dulu dan tak memberitahukan hal itu kepada mereka. Toh Rizan melakukan hal ini pun demi pertaruhan konyol itu. Selain itu, Rizan juga sudah menyiapkan sarapan untuk kedua manusia itu diatas meja makan.
Cukup lama Rizan duduk didalam mobilnya sambil menunggu kedatangan orang itu, hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang saat pukul 06.35. Rizan dengan cepat langsung keluar dari mobilnya dan sedikit berlari untuk menghampiri seseorang yang sedari pagi ia tunggu.
"Zela." panggil Rizan dengan nada tinggi hingga beberapa murid menengok ke arahnya.
Gadis yang merasa namanya dipanggil itupun menghentikan langkahnya dan menoleh, ia mendapati Rizan yang berlari menghampirinya.
"Apaan?" tanya Zela sewot.
Rizan yang masih dengan nafas tak beraturan itupun menjawab. "Gue pengen ngomong sesuatu."
"To the point." jawab Zela.
Rizan mengangguk. "Tapi jangan disini juga." ucapnya.
Rizan mengajak Zela ke kantin sekolah, dia sengaja membawa Zela kesini karena sekalian ingin membeli minum.
Rizan duduk disamping Zela sambil menyodorkan sebotol minuman dingin yang sebelumnya telah ia pesan. Zela menerimanya dengan senang.
"Thanks, kebetulan gue lagi haus." ucapnya sebelum meneguk setengah botol air. Rizan menjawab nya dengan dehaman.
Kini keduanya sedang duduk bersisian dikursi besi warna biru yang sudah disediakan disana. Kantin pagi ini lumayan ramai, Rizan menengok kesana kemari melihat situasi aman atau tidak. Setelah dirasa aman, akhirnya ia membuka percakapannya.
"Zel, gue mau tukeran tempat duduk sama lo sampe sebulan kedepan." ucapnya.
Zela yang mendengarnya tersedak, menyemburkan minuman dari mulutnya pada wajah Rizan. Rizan yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah. Untung saja yang melakukannya perempuan, jika saja Zela bukan perempuan sudah ia pastikan Zela hari ini tidak akan bisa mengikuti pelajaran dikarenakan wajahnya yang babak belur. Semua pasang mata yang ada di kantin menatap kearah Rizan dan Zela. Zela melotot kaget, dengan cepat dia mengeluarkan tisu yang ada didalam tas ranselnya, dengan cepat Zela mengelap wajah Rizan dengan tisu itu, tak lupa juga seragam sekolah Rizan yang ikut basah walau tidak semua.
"Aduh... Zan... Gue minta maaf ya, gak sengaja sumpah." ucap Zela tak enak sambil membersihkan seragam Rizan.
Rizan tersenyum paksa. "Gapapa sumpah gapapa, demi Alek kaga ngapa-ngapa." jawab Rizan santai.
"Serius?" tanya Zela.
Rizan mengangguk sambil tersenyum paksa menatap Zela. Matanya menyipit sambil memberi tatapan tajam pada Zela.
"Tapi lo mikirlah an..." belum sempat Rizan melanjutkan ucapannya Zela lebih dulu memotongnya.
"Apa?"
Rizan menghembuskan nafas kasar.
"Gimana?" tanya Rizan membuat Zela mengernyitkan keningnya bingung."Gimana apanya?"
"Ck, stupid. Tukeran tempat duduk." jawab Rizan malas.
Zela menggeleng.
Rizan menatapnya tajam, Zela yang ditatap tajam seperti itu malah balik menatap Rizan tak kalah tajam. Keduanya saling tatap menatap dengan tatapan tajam.
"Lo udah semburin minuman ke muka dan seragam gue, dan sekarang cuma tukeran tempat duduk aja gak mau?"
Zela menatap angkuh Rizan. "Gue mencium bau-bau aroma jahat ditubuh lo Rizan. Itu alasan gue gak mau tukeran tempat duduk." jawab Zela sok misterius.
Rizan terkekeh. "Otak lo selalu berpikiran negatif." ujarnya.
Zela tersenyum menyeringai sambil menyilangkan kedua lengannya didepan dada. "Sekarang jawab pertanyaan gue tuan Rizan terhormat." ucapnya.
Rizan menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya "apa?".
"Bukannya dulu lo gak suka sama Alviera? Bukannya dulu lo selalu hina dia, ejek dia, bahkan lo selalu bully dia, lo gak malu?" tanya Zela menahan emosi, mengingat bagaimana perlakuan Rizan dulu pada Alviera, sahabatnya.
Rizan tersenyum menyeringai. "Itu dulu, sekarang gue udah gak gitu." jawabnya.
Zela tertawa renyah. "Bullshit." ucapnya.
"Terserah. Intinya gue mau pindah tempat duduk." ucap Rizan sambil berdiri.
Zela mendongak menatap Rizan. "Mau kemana lo? Gue belum selesai nanya."
"Cabut." jawab Rizan sebelum pergi.
Zela menatap punggung Rizan dari tempat duduknya, pikirannya mulai kemana-mana. Akhir-akhir ini sikap Rizan berubah drastis terhadap Alviera. Rizan yang sering mem-bully Alviera, mengejek, memandang sebelah mata malah kini berubah. Ada apa sebenarnya dengan Rizan?
"Awas aja kalo lo macem-macem sama sahabat gue Zan." ancam Zela yang masih duduk ditempatnya.
Bantu koreksi ya kalo ada typo-!!!
Ramus,
12 Maret 2021.

KAMU SEDANG MEMBACA
APRIL { SLOW UPDATE }
Teen Fiction[ BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA ] Cover by: @designby.sher Start: 01 Januari 2021 End: -