Aku

9 0 0
                                    

     Kenali Aku dari diriku dengan kenyataanku bukan dari mereka dengan perkataannya.

Aku menjatuhkan badanku ke atas kasur busa tanpa ranjang. Hampir semua kamar di rumahku tak memakai ranjang. Diantara 6 kamar, Hanya ada 1 ranjang di rumahku yaitu di kamar Emak. Itu pun sudah lapuk dan mulai rapuh disantap rayap.

Aku menghela nafas pelan sambil mendengarkan ocehan kakak iparku yang terus memarahi Andi yang tak henti menangis. Ya gimana anak mau berhenti nangis wong terus dimarahi sama ibunya? Bukannya ditenangin malah dimarahi.

Aku sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Entahlah sejak Yusa kakakku menikah dengan Th Ina, rumahku yang dulunya penuh dengan kehangatan berubah memanas. Mungkin karena profesi kak Yusa yang hanya sebagai tukang bangunan di kampung, yang penghasilannya gak jelas. Begitulah kalo jadi tukang bangunan di kampung, kalo satu ada yang  kasih proyek, yang lain datang. Sedangkan kak Yusa tak mampu mengerjakan semua dalam waktu yang sama, badannya hanya satu. Jikalau tidak ada, yang lain pun tak ada.

Keadaan kak Yusa yang seperti itu membuat Teh Ina seolah putus harapan. Melihat anaknya yang sudah mengerti jajan, menghentikan setiap ada pedagang yang lewat, membuatnya memaksa kak Yusa untuk merantau ke Kota sementara Ia beserta Andi menetap di rumah kami. Entahlah bagaimana nasib kak Yusa disana. Tak pernah ku tahu apa pekerjaannya sekarang. Semoga Ia tetap dalam Lindungan-Nya.
                                                              
                                      ***

Terlalu banyak menceritakan kakakku, hampir lupa mengenalkan diriku sendiri. Haha. Ups!!! Kebablasan ketawanya.

Aku Rara, Lu'luan Mantsuraa. Nama yang menurutku sedikit aneh. Entah atas motivasi apa Emak dan Abah memberiku nama itu, yang ku tahu Aku pernah menemukan namaku tercantum dalam Al-Qur'an gak tahu surat apa dan Aku gak tahu juga artinya apa.

Aku adalah orang kurang paham agama. Tapi, yaa sekedar Rukun Islam ada lima dan Rukun Iman ada 6 mah Aku juga tahu. Itupun aku dapat dari hasil mengajiku waktu kecil. Sejak lulus eSDe Aku berhenti mengaji mengikuti teman-temanku yang juga berhenti mengaji. Padahal saat itu Aku masih ingin menikmati indah dan serunya mengaji pada A Ghofar ustadz muda yang ganteng menurutku. Masih kecil tapi udah paham sama yang ganteng. Hahaha... Kalo masalah itu mah gak ada gurunya juga pasti bisa sendiri. Hingga kini usiaku yang sudah menginjak 18 tahun, aku gak pernah lagi ngaji langsung ke rumah A Ghofar itu. Padahal semenjak Aku berhenti mengaji, semakin banyak Anak-anak yang mengaji kesana, bahkan sekarang setiap tahun rutin diadakan Taswiran Anak-anak (Haflah Akhirussanah).

Beruntung Emak menyekolahkanku ke Madrasah yang mana Aku sekolah tapi serasa mondok. Sebetulnya ketika lulus MTs, Aku menginginkan sekolah ke SMA favorite di daerahku. Aku ingin ngerasain gimana rasanya jadi siswa yang sesungguhnya, main sama temen-temen, gaul, pake topi kalo upacara, pake dasi, entah apa yang ada dalam batok kepalaku saat itu hingga Aku berfikir serendah itu. Setelah memasuki MA, Sempet Aku ngerasa Minder sama teman-teman MTs ku yang melanjutkan ke SMA. Mereka berpenampilan rapi, modis, wuhhhh pokoknya resep behh¹!!! Sedangkan aku? Di sekolahpun dituntut berpenampilan syar'i. Wusshhhh!!! Pasti dalam benak kalian langsung terbayang Aku berkerudung lebar yang menjulur sampe lutut, pake cadar, pake baju yang kayak gogobrag sawah², Enggak ya, enggak sama sekali . Justru di tempatku sekolah itu fanatik banget sama yang kayak gituan. Maksud syar'i yang ku sebut disini itu ya pakaian yang sesuai syari'at, memakai baju yang gak ketat, kerudung yang menutupi dada. Itu udah. Karena Ibu Neng -kepala Madrasah- bilang, "syar'i itu gak mesti harus bercadar." Begitu katanya.

Pernah dulu ada wanita bercadar yang datang ke Madrasah mengenakan cadar. Semua orang memandang aneh wanita itu.

"Assalaamu'alaikum" ucap wanita itu ketika memasuki ruang guru.

"Wa'alaikumussalaam bu." Jawab bu Tiya, seorang guru yang ada disana. "Eh maaf, Anda ini siapa ya? Ibu-ibu, Teteh-teteh, atau apa? Saya gak bisa liat wajah Anda yang tertutup cadar itu." Lanjutnya.

"Maaf bu. Saya Indah, saya mau daftar jadi siswa disini." Jawabannya membuat bu Tiya kaget. Maka Ia bercerita bahwa di Madrasah kami tidak membolehkan siswanya memakai cadar. Namun, Indah wanita bercadar itu memaksa untuk tetap mengenakan cadar. Akhirnya Kepala Madrasah memberikan kemurahan karena bagaimana pun Ia juga seorang Muslim, apalagi beliau adalah seorang yang paham agama, beliau membolehkan Indah untuk mengenakan masker saja, tidak cadar.

Sebetulnya Madrasah kami tidak membenci cadar, bercadar itu bagus, taat agama. Namun kami melihat kaprahnya di negeri ini seperti apa. Itu yang ku tahu mengenai mengapa Madrasah kami fanatik terhadap cadar. Selebihnya Aku gak tahu.

Aku hanya seorang remaja yang mengikuti keputusan Emak-ku untuk bersekolah di Madrasah, menimba ilmu disana. Yang mana banyak hal dan ilmu baru yang kutemukan disana. Aku lebih menyadari pentingnya ilmu agama, Akupun amat merasa kaduhung³ mengapa dulu aku berhenti mengaji ke A Ghofar mengikuti temanku yang sesat. Yang ku tahu sekarang, aku amat mencintai Madrasahku. Emang gak salah Emak menyekolahkanku di Madrasah. 

Aku tinggal bersama Emak, Teh Ina, Andi, kadang sama kak Yusa kalo lagi pulang. Udah segitu doang. Eh,, lupa aku masih punya dua kakak. Dua-duanya mondok gak tahu dimana. Hahaha, , yang jelas sih di Pondok Pesantren, masa di Pabrik? Maksudnya Aku gak tahu mereka mondok dimana dan Aku gak pernah nanya juga. Dasar Aku! Ya itulah Aku.

Mungkin cukup sekian perkenalan dari Aku seorang Rara Lu'luan Mantsura. Kurang lebihnya mohon maaf, sekian dan terimakasih. Hahaha.. pidato kaleee....

_______________________________________________________________________________

¹Suka deh
²Orang-orangan sawah
³Menyesal

Mutiara Yang BertaburTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang