Chapter 1 - The Beginning

187 23 2
                                    

Bunyi alarm yang menggema dikamarku membuat ku terbangun dari mimpi indah dan harus melanjutkan aktivitas seperti biasa yang membuat aku ingin kembali lagi ke ranjang. Aku langsung beranjak dari kasur yang empuk dan dengan sekuat tenaga aku berjalan menuju kamar mandi. Aku tidak membutuhkan banyak waktu untuk mandi seperti kebanyakan wanita, aku hanya memerlukan 15 menit. Bagi ku itu sudah cukup lama berada di kamar mandi.

Setelah aku berpakaian cukup simple, aku hanya memakai tanktop pink pastel dibalut dengan cardigan berbahan wol dan memakai ripped jeans. Tidak lupa dengan sepatu kesayangan ku berwarna pink putih.

"IPhone, charger, earphone, buku sudah semua. I'm ready!"

By the way, nama ku Charlie Rose. Just Carl for short. Aku tinggal di london sedangkan orang tua ku berada di Australia. Aku disini tinggal sendiri. Actually, tidak sepenuhnya sendiri, Mom and Dad menitipkan ku disini kepada paman Rob dan bibi May yang rumah nya tidak jauh dari flat ku. Sebenarnya aku bisa menjaga diri sendiri, tetapi Mom and Dad tidak melepas ku begitu saja.

Di London ini aku menuntut ilmu di salah satu Universitas cukup dikenal banyak orang, yaitu University College London. Aku mengambil jurusan bahasa, cita-cita ku dari kecil adalah menjadi kedutaan. Sound's weird?

Keluraga ku bisa dibilang keluarga berkelas atas, tapi aku tidak pernah menunjukkan kepada orang-orang karena takut masa SMA ku yang pahit terjadi lagi. Di SMA dulu aku memiliki banyak teman tapi semuanya itu palsu, mereka hanya ingin uang ku saja. Aku tidak mungkin lupa pada kejadian-kejadian itu.

Setelah aku mengikat tali sepatu yang berasal dari sepatu kets ku, aku langsung keluar flat dan menuju ke mobil berwarna putih yang terpakir di garasi. Setelah masuk ke dalam mobil aku menyalakan mesin dan perlahan lahan aku meninggalkan flat ku. Jalanan yang ramai dan banyak pejalan kali membuat ku tidak merasa sendirian. Aku menyalakan radio untuk memecahkan keheningan didalam mobil, terputarlah lagu NeYo - So Sick.

Tidak terasa aku sudah sampai kampus. Jarak dari flat ke kampus bisa dibilang cukup jauh. Namun aku menikmati nya karena sudah hampir setengah tahun aku menjalani ini semua. Setelah berjalan agak jauh dari parkiran, aku menoleh ke belakang karena aku merasa dipanggil oleh seseorang berambut coklat dan tingginya hampir sama dengan ku.

"Carl!" Teriaknya dengan lari tergesa-gesa "Wait me!" Lanjutnya

"Whoa, calm down!" Melihatnya berlari kearah ku, otomatis aku menunggu nya

"Ada apa, Shar?" Tanya ku ketika perempuan itu sudah berada tepat di hadapan ku

"Aku ingin mengajakmu lunch setelah jam terakhir, kau pulang jam 2 kan? Aku bosan dirumah. Di tambah lagi orang tua ku sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal" ucapnya dengan nada yang sumringah

"Hanya itu? Ya ampun Sharon, kau bisa mengirim pesan kepada ku. Tidak perlu sampai berlari seperti itu, baiklah nanti kita bertemu di parkiran ya!" Ujarku

"Okay! Aku ke kelas ya, bye my hunny" ucapnya terburu buru aku hanya menggeleng-geleng kepala ku dan tersenyum sambil menatap punggung Sharon yang lama-lama yang hilang dari pandangan ku

Sharon? Dia adalah sahabat terbaik ku selama aku menuntut ilmu di sini. Aku hanya sekelas dengan nya jika ada pelajaran musik. Ya, disini kita harus memilih salah satu kegiatan yang kita suka dan itu berhubungan dengan seni. Sharon berasal dari London asli, orang tuanya sering meninggalkan nya bersama adik laki-laki satu satu nya bernama James. James sudah berumur 14 tahun, jadi Sharon sudah tidak mengkhawatirkan keadaan adiknya itu. Sharon adalah tempat dimana aku mengeluarkan uneg-uneg ku. Aku sering cerita banyak tentang apa yang terjadi, aku berani menceritakan semua nya setelah sekitar 2 bulan berteman dengan nya. Sebelumnya, aku tidak pernah menunjukkan aku ini orang berada. Dia benar-benar tulus bersahabat dengan ku.

Aku mempercepat langkah ku menuju kelas, beruntung nya aku tidak telat seperti sebelumnya. Di kelas ini aku tidak begitu mempunyai banyak teman, aku termasuk pintar. Jadi, ketika jam pelajaran banyak orang-orang yang mendekati ku tapi setelah jam istirahat berbunyi mereka semua langsung meninggalkan ku sendirian. Apakah itu pantas dibilang teman? I don't even care about that.

**

Unexpected // HoranTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang