"Putraaa!"
"Putraaa, bangun udah jam berapa nih, ini hari pertama kamu sekolah, jangan sampai telat!"
"Sarapannya mama taruh diruang makan, mama mau berangkat kerja dulu ya, jangan lupa matiin lampu sama kunci pintunya kalo berangkat!"
Seperti biasa teriakan ibunya adalah alarm terbaik bagi Putra setiap paginya. Memejamkan mata diwaktu bulan sedang bersiap-siap untuk turun, mana mungkin jam weker yang ada dimeja kecil samping tempat tidurnya itu bisa membangunkannya.
Hanya hidup berdua di rumah yang cukup luas ini, Putra hampir tidak pernah melihat wajah ibunya di pagi hari. Berangkat kerja di waktu yang masih terbilang sangat pagi, pulang saat sore sesaat malam mulai menampakan gelapnya, bagi Putra dia sangat hebat, dan hanya satu satunya manusia yang bisa Putra terima di hidupnya.
"Hoaaaammmmm, hufft..." Akhirnya Putra beranjak bangun juga setelah memakan cukup waktu untuk mengumpulkan sebagian jiwanya. Matanya sayup, tubuhnya mungil, kecil, pendek, tampaknya dia tidak lebih tinggi dari rata-rata tinggi pria diusianya, walaupun begitu dia punya bahu yang terlihat lebar dan kekar.
Berjalan lusuh mengambil handuk, dengan mata yang masih sedikit tertutup, Putra benar-benar seperti tidak ingin pergi dari ruangannya. Dia masih saja mengeluh, soal perdebatannya dengan ibunya minggu kemarin. "Kenapa aku harus pergi ke sekolah, padahal menyewa guru privat juga bisa." Walaupun dia sudah minta maaf kepada ibunya. Sampai akhirnya Putra terpaksa menuruti semua omongan ibunya, dengan motivasi setelah lulus nanti, Putra bakal dikasih apa yang Putra mau, yaitu kehidupan bebas, sendiri, tidak mau terkekang oleh apapun tapi dengan satu syarat tambahan, jangan absen dibulan pertama masuk sekolah, jangan seperti waktu SMP, kalau absen Putra bakal dikirim ke pamannya yang merupakan bagian dari TNI angkatan darat Indonesia.
"Ahh shitt ..." Tiba tiba mata Putra langsung terbuka lebar, dia melihat seekor lebah didepan kamar mandinya. Hewan yang paling menakutkan baginya itu bersiap menghambatnya pagi ini.
"Hustt hustt huuussssstttttt,ini kenapa bisa bisanya ada lebah disini, husstttt husttt." Dengan lucunya Putra mengusir seekor lebah seperti mengusir seekor ayam.
Hanya handuk yang melingkar di lehernya sajalah yang dia pikirkan untuk mengusir lebah itu. Tanpa disangka lebah itu langsung saja menyengat kelopak matanya.
"Ahhh sialan, lebah sialan, dunia yang sialan!"
Pagi yang buruk untuk Putra.
×_•
"Putraa??? lu Putra kan? hahaha lu kenapa matanya ditutupin gitu, lagi cosplay? hahahah," tanya si Adit dengan nada yang meledek seperti biasa waktu SMP dulu. Adit yang merupakan teman sekelasnya waktu SMP sudah sering membulinya, sampai akhirnya mereka sering bertengkar, karena Putra yang terlalu pendiam, anti sosial di SMP dulu.
"Diem lu." Dengan muka dinginnya dan sedikit malu, Putra menjawab omongan si Adit. Memang benar, penutup mata ini adalah penutup mata yang dibeli Putra tahun lalu buat nge-cosplay karakter anime cewe kesukaannya.
"Hahahaha udah lulus SMP juga, masih aja tetep dingin kaya gitu, ntar ga punya temen loh." Adit menepuk punggung Putra, itu hal yang tidak biasa bagi Putra. Mereka yang sering bertengkar dulu, tiba tiba Adit menjadi sok akrab begitu.
"Eh apa apaan sih lu, risih tau gausah sok akrab kekgitu." Tangannya langsung membereskan tangan Adit dipundaknya. Tampaknya Putra masih menyimpan kekesalannya samasa SMP ke si Adit.
"Hahahaha lu kenapa dah, bocil banget, masih kesel ?"
Putra hanya diam, tidak menyanggah lagi omongan dari Adit.

KAMU SEDANG MEMBACA
EVANESCENT
RomanceFenomena "Evanescent", fenomena yang sering terjadi dan kerap tidak disadari semua orang. Dimana sesuatu dapat diingat tetapi akan hilang begitu saja dalam kurun waktu yang rentan sebentar dan semua orang tidak akan mengingatnya. Tetapi bagaimana ji...