Chapter 2 : Mekar

56 15 1
                                    

"Huftt... dia sudah tidak mengenali aku lagi, ahhh malunyaaa, kesaalllll." Wajah merahnya tertutupi kedua tangannya yang manis, kepalanya menggeleng mengingat kejadian tadi pagi.

"Lisaa, lu kenapa ? " Saut temannya sembari menghampiri dirinya.

"Huaaaaa... Divaaaaaa." Spontan Lisa langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Diva yang merupakan teman akrabnya dari dulu.

"Ehh ehh ada apa, tuan putri paling cantik kenapa sedih begini ?" saut Diva menanggapi kelakuan Lisa yang tidak berubah sama sekali dari dulu.

"Emmm tidak apa apa hehehehe." Tangannya terlepas dari tubuh Diva, bibirnya mengekspresikan manisnya senyumannya tersebut.

"Ihhh kebiasaan banget gamau cerita, malu tuh sama senyum manis lu," ucap Diva dengan nada kesalnya.

"Eheheheh iyaiya maap sayang, ntar juga tau ko." Kembali lagi, tangannya merangkul tubuh ramping Diva.

"Eh ke kantin yuk, laper nihh, gua traktir," rayu Lisa untuk mengungkapkan rasa bersalahnya ke Diva.

"Ahahaha bisa aja lu, yuk ke kantin tapi gua gamau traktiran dari lu, tenang aja gua ga marah ko, udah biasa juga ngadepin lu kaya gini. "

"Ehehehe makasih Divaa, emang kesayangan Lisaa." Tangannya semakin erat memeluk tubuh Diva.

"Udah udah, lama lama gua sesak nafas nih."

"Eheheheh."

×_•

"Jika bintik kebahagiaan adalah emas yang tercacar didasar laut kesedihan, berenang, menyelam tidak akan pernah menyelesaikannya."

Mungkin seperti itu gambaran hati Putra, dia tidak akan bahagia hanya dengan pengakuan rasa cinta. Hatinya keras, seperti terdapat sesuatu yang harus dilindungi didalamnya atau hanya karena dia tidak ingin terluka, tidak ada yang tahu, itu sebuah teka teki.

"Putra? benar kan panggilannya?" Fajar Dion, panggil saja Dion. Cowo dari salah satu guru disekolah ini. Cowo ceria yang selalu menaati aturan, berambut botak, tinggi, atletis dan tidak pandai dalam hal akademis. Dia selalu mencoba untuk akrab ke teman temannya di kelas, begitu juga dengan perlakuannya ke Putra.

"Iya benar." Matanya sekilas menatap wajah Dion yang berdiri disamping tempat duduknya, sebelum wajahnya kembali menatap buku pelajaran yang dibagikan wali kelasnya tadi pagi.

"Tadi gua liat, ada cewe cantik yang ngasih bunga mawar ke lu? hebat banget lu, hari pertama sekolah udah dapet cewe aja, ajarin dong hahaha." Dion yang berada dikerumunan lorong kelasnya pagi ini tentu saja melihat dengan jelas cewe yang tiba tiba mengungkapkan perasaan cinta ke seorang cowo, yang ternyata adalah si Putra.

"Gua ga kenal, ga peduli juga," ucap Putra dengan nada sinisnya yang sudah mendarah daging.

"Tapi, itu bunga mawarnya tetep lu simpen, kenapa? lu juga aslinya mau kan? bentar lagi bakal jadi idaman cowo cowo tuh cewe, gua juga minat hahaha," saut Dion setelah dia melihat setangkai bunga mawar yang tergeletak didalam laci meja Putra.

Entah apa yang ada dipikiran Putra, padahal dia sendiri menolak keras perasaan wanita tersebut, tetapi dia tetap membawa bunga mawar yang dikasih wanita itu.

"Kelupaan tadi ga dibalikin, ntar pulang juga gua buang, ambil aja tuh cewe gua ga butuh," ujarnya menanggapi ucapan Dion. Mungkin saja bukan itu alasan aslinya, dia tidak bisa berhadapan dengan wanita.

"Hahaha padahal lu beruntung banget loh, tapi malah lu sia sia.in kesempatan ini, kapan lagi coba," ujar Dion yang tampaknya menyesali kebodohan Putra.

EVANESCENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang